Anda di sini
Beranda > Kategorial > Katekese Harus Membawa Aspek Transformatif

Katekese Harus Membawa Aspek Transformatif

[DEPOK] Pengajaran iman dan pendidikan agama Katolik atau katekese tidak melulu berkutat pada aspek edukatif, namun harus membawa aspek transformatif. Katekese harus memberi nilai yang bisa membuat seseorang berubah menjadi lebih baik. “Yang selama ini terjadi para katekis hanya memberi pengajaran, lalu murid belajar, menghafal, dan lulus. Padahal sejatinya, katekese bukan hanya edukasi, tapi harus memberi nilai transformasi yang membawa perubahan dalam diri seseorang,” ungkap pakar Pastoral Katekese, RD Habel Jadera dalam pertemuan para katekis Keuskupan Bogor yang berlangsung di Wisma Kinasih, Depok.

Romo Habel yang merupakan alumnus Universitas Kepausan Urbaniana Roma jurusan Misiologi, program Pastoral Katekese ini menjelaskan, pada gilirannya aspek transformasi harus membawa seseorang pada pertobatan. “Transformasi juga mengandung  nilai misioner, membawa seseorang menjadi murid Kristus, menuju pertobatan baik secara pribadi maupun pertobatan dalam komunitas, mengetahui arah hidupnya menuju kerajaan Allah, menyadari Tuhannya. Para katekis diharap mampu menjaga kesinambungan mulai dari inisiasi atau proses awal dengan integrasi antara iman dan kehidupan para murid. Ini adalah kritik untuk kita semua para katekis khususnya yang berada di Keuskupan Bogor, dan di Indonesia pada umumnya yang masih kurang memberi nilai transformasi,” paparnya.

Sejak Konsili Vatikan II, sambung Romo Habel, katekese juga bertumpu pada pewartaan. “Bagaimana pewartaan tentang kabar sukacita dan kebangkitan Tuhan serta keselamatan harus diwartakan ke seluruh dunia, melalui pengalaman dan kesaksian hidup manusia,” ujarnya.

Sekitar 160 katekis dari berbagai paroki menghadiri acara yang berlangsung selama 2 hari, Sabtu dan Minggu (20-21/7). Dalam pertemuan itu juga para katekis diajak mengevaluasi kegiatan-kegiatan katekese yang sudah berjalan, mencari solusi terkait kendala yang dihadapi.

Tugas Semua Umat Beriman

Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Bogor RD Andreas Bramantyo menyatakan, tugas mewartakan kabar sukacita dan keselamatan merupakan tanggung jawab semua umat beriman. “Itu jelas tertuang dalam kitab suci ketika dibaptis, Tuhan meminta kita untuk pergi dan mewartakan kabar sukacita keselamatan kepada setiap orang,” ujarnya.

Romo Andre juga mengungkapkan saat ini Keuskupan Bogor memiliki buku paket katekese berjenjang yang bisa di jadikan referensi pengajaran. “Sesuai dengan formatio iman berjenjang, kami para ketua Komisi Kateketik Regio Jawa  telah menyusun buku katekese berjenjang yang terdiri dari tujuh buku mulai dari usia dini, anak-anak, remaja, orang muda, dewasa, lansia, serta keluarga. Silakan para katekis menggunakan buku ini sebagai bahan pengajaran, silakan pula jika ingin mengembangkan materi dalam buku ini sesuai kebutuhan,” tuturnya.

Pertemuan kali itu juga bertepatan dengan perayaan HUT Katekese ke-4 Keuskupan Bogor. “HUT Katekese Keuskupan Bogor jatuh pada 29 Juni. Namun kita menentukan hari ini untuk berkumpul dan merayakan bersama. Kita belajar bersama. Semoga materi yang kita dapat hari ini makin meneguhkan perutusan kita sebagai pewarta,” kata moderator Komisi Kateketik Keuskupan Bogor RD Jeremias Uskono.

Pada HUT kali itu Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur hadir untuk memberikan dukungan pada para katekis. “Keuskupan Bogor memberikan apresiasi kepada para katekis yang telah membantu para imam dalam melakukan pewartaan. Tugas utama pewartaan memang berada di tangan para imam. Namum mengingat jumlah para imam dan tugasnya tidak bisa menjangkau seluruh umat, maka kehadiran kalian para katekis sangat membantu tugas kami,” ujar Uskup Paskalis.

Selain perwakilan paroki, hadir pula komunitas KOMPAK yang khusus melayani umat berkebutuhan khusus (disabilitas). Lima orang perwakilan KOMPAK yakni Yulianto, Thomas, Dika, Yuliana Uli, dan Ignas Hrj turut pula dalam acara sharing bersama.

Yulianto memaparkan kegiatan KOMPAK yang secara khusus mendampingi umat berkebutuhan khusus untuk mendapat pengajaran iman Katolik serta penerimaan sakramen. “Seluruh warga Gereja termasuk umat berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pembinaan iman,” ungkap Yulianto.

(Jam)

Leave a Reply

Top