Anda di sini
Beranda > Artikel > Secangkir Energen untuk Romo

Secangkir Energen untuk Romo

Hari itu, suasana Pusat Pastoral cukup ramai dengan diadakannya sosialisasi bersama Seksi Pendidikan Paroki BMV Katedral. Acara tersebut dihadiri siswa-siswi SD sampai SMA negeri yang beragama Katolik. Mereka bergabung dalam Pendidikan Agama Katolik (PAK) Unit Budi Mulia.

Ada satu hal kecil yang berujung pada sebuah kejadian tak terduga pada saat itu: seorang office boy merasa sungkan untuk mengantarkan cangkir kosong serta sendok ke depan, ke meja Romo. Melihat itu, saya pun menawarkan diri untuk mengantarkannya.

Sesampainya di depan, Romo muda itu justru menatap saya dan berkata, “Tolong, Pak, seduhin Energen.” Sambil mengatakan itu, beliau merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebungkus sereal instan tersebut.

Saya sempat termangu, seakan tidak percaya. Romo itu masih sangat muda, usianya pantas menjadi anak saya. Di tengah tugasnya yang begitu padat, mengapa sarapannya hanya sebungkus Energen? Tanpa berpikir panjang, saya langsung membawa Energen itu ke pantry dan menyeduhnya.

Barulah, setelah mendengar bisik-bisik teman panitia, saya mengetahui sebuah fakta yang menyentuh hati: Romo tersebut ternyata baru saja keluar dari rumah sakit. Jam sudah menunjukkan pukul 09.25 pagi, dan beliau belum mengisi perutnya dengan makanan yang layak. Namun, keajaiban seorang gembala terjadi saat giliran beliau menyampaikan materi. Romo muda itu berdiri di depan dengan penuh semangat. Suaranya lantang, wajahnya cerah, dan tidak ada sedikit pun gurat kemanjaan atau keluhan bahwa beliau baru saja pulih dari sakit.

Apakah seperti ini rupa seorang gembala? Tidak cengeng, tidak manja, dan menyembunyikan rasa sakitnya demi memberi makan rohani bagi domba-dombanya?

Pukul 10.30, setelah memberikan kalimat penutup yang membakar semangat kami, beliau pamit dengan wajah ceria dan tersenyum. Tugas lain sudah menanti; ia harus memimpin misa jam 11.00 di Gereja Mahasiswa. Sementara dalam hati, saya mengeluh kecil, “Kapan Romo sempat sarapan dengan benar?”

Pikiran itu terus mengejar saya, bahkan hingga saya beranjak tidur. Saya melihat diri saya sendiri, yang jika lapar sedikit saja langsung mencari makan, atau setidaknya mengganjal perut dengan ubi atau singkong rebus. Sementara seorang gembala umat, bergulat dengan waktu dan sisa-sisa rasa sakitnya, hanya mengandalkan secangkir Energen yang diseduh terburu-buru.

Saya mencoba membagikan kegelisahan ini kepada orang terdekat saya. Jawabannya singkat, “Tidak usah memikirkan Romo, segala kebutuhan sudah diurus semuanya.”

Masih belum puas, saya kemudian bertanya kepada Ibu Dewi, seorang aktivis gereja yang saya kenal. Jawabannya senada, “Oh, kebutuhan sehari-hari Romo-Romo sudah ada yang mengurusi, termasuk makan.”

Secara sistem organisasi gereja, jawaban mereka tidak salah. Namun secara kemanusiaan, jawaban itu tidak mampu menghentikan “litani” pertanyaan di kepala saya. Memang benar, ada yang memasak di pastoran, tetapi siapakah yang memastikan para Romo benar-benar sempat menyuap makanan itu di tengah jadwal yang padat? Di balik jubah yang mereka kenakan, apakah urusan kesehatan, waktu rekreasi, dan olahraga mereka benar-benar terjaga?

Sebagai umat yang biasa saja—terlebih lagi, sering kali langsung pulang sebubarnya misa, tanpa memikirkan apa-apa—peristiwa  itu menjadi sebuah tamparan sekaligus pencerahan bagi saya.

Romo, bagaimanapun juga, adalah manusia biasa yang jubahnya tidak membuat mereka kebal terhadap rasa sakit atau lapar. Di balik keteguhan mereka di atas altar atau mimbar, ada tubuh yang bisa lelah dan rapuh. Secangkir Energen pagi itu membuka mata saya, bahwa mencintai Kristus dan karya penggembalaan-Nya tidak cukup hanya dengan hadir dalam perayaan Ekaristi. Kita juga perlu mendukung para gembala yang terlibat di dalamnya, melalui doa dan perhatian kemanusiaan yang tulus.

Terima kasih, Romo. Lewat sebungkus Energen, Romo telah mengajarkan saya arti sejati dari sebuah totalitas pelayanan dan pengorbanan seorang gembala.

Penulis: Y.B. Paryatna Yulianta | Editor: Celine Anastasya

Leave a Reply

Top