Anda di sini
Beranda > Artikel > Salam Maria dan Senyum Manis di Akhir Waktu

Salam Maria dan Senyum Manis di Akhir Waktu

“Bu, kenapa tersenyum sendiri?”

“Itu, bapakmu datang.”

Ibu menunjuk tiang infus di samping tempat tidurnya. Tangannya kurus, tetapi gerakannya tetap tegas, seolah apa yang dilihatnya begitu nyata. Aku dan dua adikku saling berpandangan, lalu tertawa kecil. Ibu ikut tersenyum. Senyumnya berbeda dari biasanya. Kini lebih tenang, lebih dalam, seolah ia sedang menyambut seseorang yang telah lama dikenalnya.

Ruang perawatan di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten pagi itu terasa hening dengan cara yang tidak biasa. Tidak sepenuhnya ringan, tetapi juga tidak menyesakkan. Ada sesuatu yang menggantung pelan, antara canda, firasat, dan perpisahan yang belum sempat kami mengerti.

Saat itu aku tidak tahu, senyum itulah yang kelak menetap paling lama dalam ingatanku.

Aku telah tiba di Klaten seminggu sebelumnya, dari Bogor. Bus dari Terminal Bubulak yang kutumpangi berhenti pada dini hari, ketika udara Klaten masih dingin dan jalanan masih terlelap. Aku tidak pulang ke rumah. Tidak ingin menunda. Langkahku seperti diarahkan langsung menuju rumah sakit. Di sanalah ibuku terbaring. Tenang, tanpa banyak keluhan, dengan tatapan yang tetap lembut seperti yang selalu kuingat.

Tuhan memberiku waktu satu minggu. Waktu untuk duduk di sampingnya. Waktu untuk menggenggam tangannya. Waktu untuk belajar hadir, tanpa banyak kata. Anehnya, saat itu aku tidak menangis. Bukan karena tidak merasa kehilangan, tetapi karena ada damai yang seolah lebih dahulu diberikan. Damai yang menahan air mataku tetap di tempatnya.

Ibuku perempuan sederhana. Sejak aku kecil, ia selalu bangun sebelum fajar. Menanak nasi, menyiapkan sarapan, memastikan anak-anaknya berangkat sekolah dengan perut terisi. Baginya, hal-hal kecil adalah bentuk kasih yang nyata. “Kalau tidak sarapan, tidak usah sekolah,” begitu pesannya sejak dulu, tak pernah berubah.

Aku anak laki-laki pertama. Dari Ibu, aku belajar banyak hal—yang mungkin tampak sederhana, tetapi diam-diam membentuk cara hidup. Pernah suatu sore, ia mengajariku menampi beras. Ia menggoyangkan tampah perlahan. Butir-butir beras berjatuhan, sementara sekam-sekam ringan terbang terbawa angin.

“Dalam hidup, kamu juga harus bisa menampi,” katanya. “Tidak semua yang masuk ke pikiran dan mulutmu perlu disimpan atau diucapkan. Saring dulu, supaya tidak menyakiti orang lain,” begitu kata Ibu dulu. Saat itu aku hanya mengangguk. Kini aku mengerti, ia sedang menanamkan kebijaksanaan yang baru tumbuh bertahun-tahun kemudian.

Hari-hari di rumah sakit berjalan pelan.

Kami, anak-anaknya, bergantian menunggu. Kadang kami bercanda, kadang hanya duduk dalam diam. Di sela-sela bunyi alat medis dan langkah perawat, aku mulai memahami bahwa kehadiran tidak selalu membutuhkan banyak kata. Cukup duduk. Cukup menemani.

Sehari sebelum hari terakhirnya, Ibu memintaku membelikan pecel kesukaannya. Seperti biasa, sayuran saja. Tanpa sambal.

Aku lalu membelikannya. Ibu makan perlahan, tidak banyak, tetapi dengan tenang. Lalu ia bertanya pelan, hampir seperti berbisik, “Mana sambalnya?”

Aku terdiam. Ibu tidak pernah makan sambal. Kulihat wajahnya, mencoba mencari penjelasan yang tidak kutemukan. Aku hanya tersenyum kecil. “Besok, ya, Bu.” Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk ringan. Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa seperti pesan yang belum sempat diterjemahkan.

Pagi itu, pukul 06.30, aku datang menggantikan adik-adikku yang berjaga semalaman. Salah satu adikku bercerita, “Semalam aku tidak bisa tidur.” Aku lalu menjawab, “Kalau begitu, kita doakan supaya Ibu bisa tidur.” Ia mengangguk.

Kami berdoa tiga kali Salam Maria. Pelan. Khusyuk. Setiap kata terasa seperti dititipkan dengan hati-hati. Dalam doa itu, terlintas sabda Tuhan di benakku: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Tangan Ibu kugenggam sejak awal doa. Masih hangat. Namun, setelah doa selesai, ia berkata lirih, “Ya, aku tidur ya.”

Aku mengangguk. “Tidur, Bu.” Aku tetap memegang tangannya.

Hangat yang semula kurasakan berubah. Perlahan, tapi pasti. Dingin merambat pelan di telapak tanganku. Napas Ibu teratur, lalu satu tarikan yang lebih panjang dari biasanya. Dan setelahnya … hening.

Sangat hening. Seperti ada sesuatu yang dilepaskan dengan tenang—tanpa suara, tanpa gejolak.

Aku berdiri dan memanggil suster. Aku tidak menangis. Aku hanya memandang wajah Ibu. Tenang. Damai. Senyum itu masih ada—senyum yang sama ketika ia berkata Bapak datang menjemput. Saat itu aku tidak lagi menganggapnya sebagai candaan.

Barangkali benar, ia sudah melihat lebih dulu. Barangkali ia memang tidak pergi sendirian. Dan Tuhan, seperti janji-Nya, menyambutnya dengan damai: “Aku adalah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (Yohanes 11:25)

Adik-adikku datang kemudian. Mereka menyesal, tidak dapat berada di saat terakhir Ibu. Aku sendiri paham. Dan di dalam hati, aku tahu: aku telah diberi sesuatu yang sangat berharga—waktu. Satu minggu penuh. Untuk menunggui. Untuk menggenggam. Untuk mengantar Ibu.

Kini, setiap kali aku mengingat Ibu, yang hadir bukanlah suasana rumah sakit atau kepanikan saat memanggil suster. Yang datang justru senyuman itu. Senyum manis yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Senyum seseorang yang pulang dengan tenang, tanpa beban.

Dari Ibu, aku akhirnya mengerti: mencintai tidak selalu berarti menahan. Kadang, mencintai berarti berani melepas dengan doa, ikhlas, dan damai.

Penulis: Y.B. Paryatna Yulianta | Editor: Celine Anastasya

 

 

 

Leave a Reply

Top