Jangan Takut untuk Mewartakan Kebenaran Sajian Utama Seputar Paroki 29 May, 202629 May, 2026 Hari Komunikasi Sosial ke-60 Sedunia Jangan takut mewartakan kebenaran, jangan takut untuk berkolaborasi, jangan takut untuk terus menerus belajar, jangan takut untuk salah, tapi mari belajar dari kesalahan. Demikian pesan RD Habel Jadera dari Pastoral Digital keuskupan Bogor kepada para aktivis Komsos, konten kreator, dan para misionaris digital saat memimpin Misa Hari Komunikasi Sosial ke-60 Minggu (17/5) Pk. 11.00 WIB di Gereja Katedral Bogor. Pada perayaan ekaristi yang dimulai dengan perarakan panji dari redaksi Berita Umat-Komsos BMV Katedral Bogor itu Romo Habel juga menjelaskan di dunia digital hate comment adalah hal yang biasa. “Jangan takut kalau mewartakan banyak komen negatif, karena memang kebenaran tidak disukai banyak orang,” paparnya. Jati Diri di Dunia Digital Tahun ini Paus Leo XVI mengangkat tema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”. Pada pesan apostoliknya Paus Leo mengingatkan seiring dengan kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, manusia berisiko untuk kehilangan jati diri. Perjumpaan yang tulus dan penuh makna pun semakin memudar akibat jalinan sosial yang tak otentik. Dalam homilinya Romo Habel menyoroti bacaan Injil hari ini, di mana Yesus mengajak umat untuk keluar dari fenomena digital dan menempatkan diri pada realitas. Pada malam sebelum Yesus wafat dan disalibkan, Yesus menengadah ke langit mengangkat wajah-Nya dan berdoa “Bapa, telah tiba saatnya: permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau”—dengan lantang. Yesus menggunakan “suara” Nya untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Suatu peristiwa yang sangat manusiawi, intim dan nyata. Romo Habel mengingatkan, bagi Yesus identitas sejati bukanlah profil algoritma—data yang bisa diduplikasi dan dimanipulasi oleh teknologi. Tak Tergantikan Wajah dan suara adalah ciri khas setiap manusia, unik dan tak tergantikan. Romo Habel mengutip pesan Paus Leo “orang Yunani kuno mendefinisikan pribadi manusia dengan kata prósōpon—wajah, identitas yang ditampilkan kepada orang lain. Juga dalam bahasa Latin persona (per-sonare)—bunyi atau suara, bukan sembarang suara, melainkan khas milik seseorang”. Lebih lanjut, wajah menampilkan identitas seseorang. Identitas terdalam adalah Imago Dei. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Maka wajah dan suara memiliki nilai yang suci, jejak tak terulang dari kasih Tuhan, yang membentuk relasi manusia dengan Tuhan. Umat diajak untuk tidak menjadi “konsumen pasif” dari teknologi, khususnya dalam pewartaan Injil. Bukan hanya soal forward, upload dan posting, menggunakan dan membiarkan mesin melakukan tugas dan misi pewartaan. Lebih bijak dan transparan dalam menggunakan teknologi. Karena komunitas yang memiliki wajah dan suara Ilahi itu ialah mereka yang tidak mendewakan teknologi, namun berkolaborasi. Selamat merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. Menjaga suara dan wajah manusia adalah tanggung jawab bersama. Semoga suara dan wajah yang dijaga juga dilihat dan didengarkan seabgai bentuk memanusiakan manusia. Penulis: Mellisa Octav Mariana | Editor: Aloisius Johnsis