Pencobaan Kabar Terkini Mutiara Biblika 22 May, 20267 May, 2026 Yakobus 1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.Yak 1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Di Sebuah desa terpencil hiduplah seorang nenek tua. Ia tinggal di sebuah rumah kecil, jauh dari tetangga. Hidupnya dipenuhi dengan kesederhanaan, bahkan boleh disebut kekurangan. Nenek itu hidup seorang diri. Ia pernah bercerita bahwa suaminya sudah meninggal lama, tanpa meninggalkan warisan, kecuali rumah kecil yang sekarang nenek tinggalin. Ia juga mempunyai dua anak, namun semenjak merantau ke kota anak-anak itu belum pernah pulang. Hal ini menjadi kesedihan tersendiri baginya. Orang-orang biasa memanggilnya nenek Iyem. Sebutan itu belum tentu sesuai nama di KTP, bisa jadi nenek juga tidak mempunyai KTP. Keseharian nenek itu mencari kayu bakar. Jika mendapatkan kayu basah, ia menjemur dulu di pelatarannya sampai mengering. Kayu kering itu dijual untuk menghidupi dirinya. Ia tidak menggunakan kekurangannya dengan minta berbelas kasih. Justru dengan kekurangan nenek Iyem sering berbagi. Di sekeliling rumahnya, ada tanaman singkong yang digunakan sebagai makanan sehari-hari. Singkong yang sudah tua dikupas, dijemur dan dibuat tepung dengan cara menumbuk secara manual. Tepung itu menjadi bahan pokok membuat nasi tiwul. Nenek itu juga mengukus sebagian singkongnya dan setelah matang dipotong kecil-kecil. Potongan kecil-kecil itu dikeringkan untuk dimuat makanan ringan. Sebagian tepung dan makanan ringan itu dijual untuk memenuhi hidup kesehariannya. Siang Paijo, Parman, dan Paiman melewati rumah nenek Iyem. Mereka bertiga naik sepeda dari ziarah di gua Maria di kampung itu. Sebuah peziarahan di lereng gunung letaknya. Perjalanan menuju peziarah itu sangat berat sehingga menguras tenaga mereka bertiga. Saat menuju pulang, ban sepeda depan Paijo bocor. Akibatnya Paijo harus membonceng Parmin dan gantian Paimin seraya memegang sepedanya di sebelah kanan. Cuaca panas itu membuat mereka kelelahan dan perut sudah mulai tidak bisa diajak kompromi. Tepat di depan rumah nenek Iyem, mereka bertiga memberanikan diri mampir untuk sekedar minta air minum. “Permisi, Permisi, Permisi,” seru Paijo, Parman dan Paimin bergantian. “Iyaaaa, silakan masuk,” terdengar suara nenek dari dalam rumahnya. “Permisi nek,” seru Paijo mengulang lagi. “Ohhhh, Ayo silakan masuk,” seru nenek dengan senang hati mempersilakan. “Terima kasih nek,” sahut mereka bertiga serentak sambil duduk. “Maaf, kisanak ini siapa dan mencari siapa?” tanya nenek. “Ohhhh, Saya Paijo, Ini Parman, dan ini Paimin,” jawab Paijo. “Maaf nekkkk, saya bertiga pulang dari ziarah, karena saya lihat di rumah nenek ada salib maka saya beranikan diri ke sini untuk minta air minum. Kami bertiga kehausan,” seru Paijo. “Ohhhhh, boleh, sebentar nenek ambilkan,” jawab nenek. Tanpa basa basi Paijo mengutarakan niatnya dan nenek pun segera ke belakang mengambil apa yang diminta. Tidak selang lama nenek itu membuatkan tiga cangkir teh dan gula merah. Setelah air minum sampai, kembali tanpa basa basi mereka minum. Sementara nenek kembali ke belakang. Tidak berselang lama, nenek membawa nasi tiwul dan sayur tempe dimasak dengan daun singkong. “Nakkkk, ayo kita makan bersama. Kebetulan hari ini nenek masak banyak, nenek tidak bisa menghabiskan, jadi mari kita habiskan, biar makanan tidak mubazir,”ajak nenek. “Nekkkk, boleh kita doa bersama, sebelum makan,” ajak Paijo “Ohhhhh, silakan,”jawab Nenek Selesai berdoa, kami makan bersama. Kelaparan membuat suasana jadi hening. Kami berpusat pada makanan yang sedang dinikmati. Selesai makan Paijo, Parman, dan Paimin membersihkan dan mencuci bekas tempat makan. Sekalipun nenek melarang, mereka bertiga terus melakukan dengan senang hati. Dalam waktu singkat, semua sudah bersih dan kini berempat berkumpul di ruang tamu dengan berbincang-bincang. “Nekkkk, kalau dilihat dari salib dipasang itu, nenek Katolik ya?” Tanya Parman dengan nada sedikit takut. “Iya, nakkkk, Saya Katolik. Nama Baptis saya, Magdalena Martiyem. Orang-orang memanggil nenek, Iyem. Setelah suami meninggal, nek Iyem tidak lagi bisa pergi ke Gereja. Jauh dari kota dan tidak ada yang mengantar. Anak-anak juga tidak pernah lagi mau kembali ke rumah ini. Nenek mendengar anak-anak sudah pada menikah dan meninggalkan imannya sehingga mereka tidak mau lagi mengunjungi nenek yang sudah berbeda iman,” jawab nenek Iyem dengan suara khasnya. “Maaf, apakah kalian juga Katolik?” tanya nenek Iyem. “Iya, nek, kami bertiga Katolik. Kami baru pulang berziarah, ehhhh. Berkat ziarah, dapat makan dari nenek,” jawab Paijo sambil ketawa. “Ahhhh, makanan kampung yang tidak lagi dimakan oleh orang kota,” seru nenek sambil tersenyum. “Wahhh, cobaan nenek berat sekali. Suami meninggal dan anak-anak tidak mau datang lagi menjenguk. Nenek tinggal di tempat yang jauh dari keramaian,” seru Parman. “Tuhan tidak pernah mencobai umatnya. Semua itu terjadi karena pilihan bebas manusia. Orang sering kali menyalahkan Tuhan jika orang menghadapi cobaan. Padahal apapun yang terjadi dalam diri manusia itu berkaitan dengan pilihan bebas manusia. Manusia hanya ingin mencari enaknya, tetapi tidak mau menghadapi kesulitannya,”seru nenek Iyem dengan penuh wibawa. “Tuhhh Joooo, dengerin,” kata Parman sambil mencolek “Ahhhhh, kalian juga,” kata Paijo tidak mau kalah “Sudahhhh, tidak perlu saling menyalahkan,” kata nenek. “Nak Paijo, Parman, dan Paimin. Kalian berziarah itu mesti meneladan Bunda kita, Maria. Bunda tidak pernah mengeluh terhadap apa yang dihadapi. Bunda menerima penderitaan itu sebagai konsekuensi terhadap pilihan hidup saat memberikan jawaban kepada malaikat Gabriel,” Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut kehendakmu”. Simeon menegaskan bahwa penderitaan Maria digambarkan dengan tujuh pedang menancap jiwanya. Penderitaan itu bukan karena cobaan Tuhan, tetapi kesiapsediaan bunda terhadap pilihannya,” seru Nek Iyem “Nakkkk, jadi jangan mudah menyalahkan Tuhan. Setiap kali orang menghadapi kesusahan selalu menuduh Tuhan sedang mencobai. Padahal itu proses hidup yang harus dihadapi. Proses itu dibutuhkan kedewasaan, bukan menyalahkan orang lain. Gigi kita tanggal saat kecil itu menyakitkan. Kejadian itu bukan cobaan, tetapi proses menuju dewasa. Jadi, iman kuat harus dihadapi dengan proses yang berat pula. Kalian telah menjalani itu, siang-siang naik sepeda dengan satu tujuan berziarah. Panas, lapar, dan haus itu bukan cobaan Tuhan, melainkan bagian dari proses peziarahan,” ujar nenek menasehati. “Wahhhhh, luar biasa, nenek. Ini ilmu hidup yang harus kami jalani,” seru Paijo. “Nek terima kasih ya,” seru Paijo, Parman, dan Paimin. “Nekkkk, kami pulang dulu ya,” pamit mereka bertiga. “Baikkk, nak hati-hati di jalan, ini ada makanan ringan dari singkong bawa saja,” seru nenek. “Terima kasihh, nekkk,” seru mereka sambil meninggalkan rumah nek Iyem. Mereka bertiga kembali naik sepeda. Paijo membonceng Parman karena ban sepeda belum ditambal. Di tengah jalan tiba-tiba hujan deras, mereka tidak sempat berteduh. Derasnya hujan membuat Parman tidak bisa melihat jalan dengan baik, Parman terjatuh bersama Paijo masuk ke parit. Mereka bertiga tidak jadi marah mengingat nasehat nenek Iyem. Mereka hanya bisa menertawakan diri sendiri akibat pilihannya, yakni hujan tidak mau berteduh. “Joooo, Paijo dan Parman, itu proses hidup, jadi tidak boleh mara ya,” seru Paimin sambil ketawa. Makanan dari nenek pun rusak kena air hujan dan hanyut dibawa air di parit. “Joooo, Paijo, oleh-olehnya, mubazir,” seru Paijo menertawakan dirinya sendiri seraya bangun dan mengangkat sepedanya yang masuk ke parit. “Joooo, Paijo, dasar wong Ndeso,” seru Paijo seraya menuntun sepedanya kembali di hujan yang semakin lebat itu. Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka