Mater Admirabilis Kabar Terkini Mutiara Biblika 15 May, 20267 May, 2026 Luk 1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Kring-kring, terdengar suara sepeda melewati rumah Paijo. Lalu lantang sepeda itu menjadi kesibukan tersendiri di kampung itu. Riuh bunyi bel sepeda itu biasa terdengar sore hari saat anak-anak kampung bermain bersama-sama. Sepeda onthel menjadi pemandangan sehari-hari yang mewarnai kehidupan di kampung itu. Suara tertawa riang mengiringi mereka seraya mengelilingi kampung dengan sepeda. Kebahagiaan sederhana itu membuat anak-anak makin akrab sekalipun berbeda agama. Sepeda telah menyatukan mereka dari aneka keyakinan. Mereka tidak saling bertengkar soal perbedaan, tetapi mereka bergembira bersama dengan bersepeda. Kring, kring, kring, bunyi sepeda itu berdering di depan rumah Paijo. Anehnya bunyi itu berdering tanpa suara riuh bercanda anak-anak. Paijo pun tidak begitu memperhatikan karena Paijo sedang mengurus kambing-kambingnya yang minta perhatian. Kambing pun merasa baperan seperti Paijo di awal bulan ini. Krigggggggg, Kringggg, Kringgg, suara bunyi sepeda silih berganti seperti memberi tanda agar Paijo keluar. Suara itu tampaknya sudah sedikit membuat penasaran Paijo. Selepas memberi makan dan minum kambing-kambingnya, Paijo bergegas keluar rumah untuk melihat siapa yang membunyikan bel sepeda silih berganti. “Ohhhhh walahhhhh,” seru Paijo sambil mengumpat orang yang membuat bising telinga itu. “Ayo turun, ke sini,” seru Paijo ke Parmin, Parman dan teman barunya yang Paijo belum kenal. “Ahhhhh, nyuruh turun, memang kamu punya kopi dan cemilan?” seru Parman sambil bercanda. “Jo, Paijo, ini saya kenalkan. Fr Bejo,” seru Parman. “Paijo,” seru Paijo seraya mengulurkan tangan. “Frater sedang tugas di sini?” tanya Paijo lagi. “Tidak Jo, saya hanya live in saja untuk beberapa waktu. Ini tugas dari seminari agar saya bisa lebih mengenal umat secara langsung,” sahut Fr Bejo dengan ramah. “Ohhhh, siap. Maaf, saya rebus air sebentar sambil rebus singkong, biar kita bisa diskusi lebih banyak,” seru Paijo seraya meninggalkan mereka bertiga di beranda rumah depan seraya menikmati sore yang cerah itu. Paijo pun segera membuat minuman teh panas dengan gula merah dan singkong rebus. Sebuah bentuk penghormatan Paijo dikunjungi oleh Fr Bejo yang parasnya ganteng, kulitnya bersih, dan berkaca mata. Tutur katanya pun juga menampilkan calon pastor yang baik. Penampilan itu telah mempesona Paijo sehingga dia ingin belajar lebih banyak lagi terutama soal iman. “Frater maaf, kenapa bulan Mei itu dipersembahkan kepada bulan Maria,” tanya Paijo dengan kesungguhan. “Kenapa tiba-tiba tanya itu Jo, Paijo?” tanya Fr Bejo. “Begini lho frater. Simbok saya sejak kecil mengajarkan saya Rosario terutama di bulan Mei dan Oktober. Saya hanya mengikuti saja, tetapi tidak mengerti maknanya. Mungkin frater bisa memberikan penjelasan biar menambah kuat apa yang saya imani,” seru Paijo. “Iya, frater, kami berdua juga belum mengetahui,” seru Parman dan Parmin serentak. “Baiklah, saya akan mencoba menjelaskan secara singkat saja. Gereja memilih Mei dipersembahkan kepada Maria itu, setidaknya ada dua alasan. Pertama, Mei itu bulan penuh janji. Kedua, Mei itu bulan penuh kegembiraan,” seru Fr Bejo. “Maksudnya bagaimana Frater,” sela Paijo tidak sabar mendengarkan alasannya. “Iya sebentar, minum dulu dong biar pikiran plong,” seru Fr Bejo sambil bercanda. “Ohhhh, iyaaa, silakan,” sahut Paijo sampai lupa mempersilakan minum dan makan singkong rebus. “Alasan pertama terkait Mei adalah bulan penuh janji. Umumnya di Eropa itu perubahan musim dingin ke musim panas. Mei musim paling menyenangkan, cuaca tidak begitu dingin, matahari mulai menyinarkan kehangatan, tumbuh-tumbuhan mulai bersemi, dan bunga-bunga mulai bermekaran. Ada sebuah kehidupan yang luar biasa yang membuat setiap manusia pingin keluar rumah dan merasakan sapaan alam yang luar biasa indah itu. Mei itu menjanjikan sebuah suasana alam yang indah,” seru Fr Bejo. “Ohhhh, begitu,” seru Paijo, Parman, dan Paimin serentak. “Kedua, Mei itu dipenuhi dengan liturgi pesta. Artinya setelah Paskah ada banyak pesta dirayakan di Gereja. Pesta Tubuh dan Darah Kristus, Pesta Tri Tunggal Mahakudus dll. Semua itu diawali dari Mei itu,” jelas Fr Beni seraya menyeruput teh hangat itu. “Lalu apa hubungannya dengan Bunda Maria?” tanya Paijo lagi. “Wahhhh Jo, Paijo. Kamu mempunyai perhatian khusus kepada Bunda Maria ya,” seru Fr Bejo. “Heeeee. Iya. Frater. Saya belajar dari orang tua saya yang selalu berdoa kepada Sang Bunda,” jawab Paijo tersipu. “Maria ditempatkan di bulan Mei ini karena Maria mempunyai peran luar biasa. Dia membuka jalan itu kepada dunia. Kesediaan Maria menerima tugas itu membuka harapan yang luar biasa kepada dunia, terutama bagi yang percaya,” jelas Fr Bejo “Iya Frater, saya sedikit mendapat gambaran,” seru Paijo “Paijo, Parman, dan Paimin. Keistimewaan Bunda Maria itu bisa terlihat saat menerima kabar sukacita dalam injil Lukas. Malaikat justru memberi hormat kepada Bunda Maria seraya mengatakan, “Ave Maria Gratia Plena”. Kata-kata malaikat itu tidak diungkapkan kepada manusia lainnya. Justru pengalaman Zakaria mendapat hukuman ketika bertanya kepada malaikat, yakni ditandai dengan bisu. Hal ini berbeda dengan Maria, sekalipun Maria bertanya bahkan merasa takut, ragu-ragu. Malaikat tidak memberikan hukuman kepadanya. Justru Roh Kudus akan menuntun Maria. Itulah kebesaran Maria dibandingkan dengan tokoh-tokoh orang kudus lainnya,” seru Fr Bejo. “Wahhhhhh, luar biasa. Jadi kita tidak salah berdevosi kepada Maria. Hidupnya sangat mengagumkan,” seru Paijo lagi. “Oleh karena itu, Maria disebut Mater Admirabilis, yaitu Ibu yang mengagumkan,” seru Fr Bejo. Saking asyiknya mendengarkan penjelasan Fr Bejo, Parman, Paimin, dan Paijo tidak menyadari bahwa singkongnya mereka habiskan. Mereka mendengarkan sambil mengunyah terus tanpa henti. Mereka juga tidak menawarkan singkong itu kepada Fr Bejo. Mereka tercengang mendengarkan penjelasan Frater Bejo. Setelah frater selesai menjelaskan, mereka menyadari bahwa ternyata singkong habis dimakan oleh Paijo, Parman, dan Paimin. “Waduhhhhh, maaf frater, singkongnya telah habis. Maaf kami tidak menyadari saat mendengarkan kami terus mengunyah singkong, heeeee,” seru Parman dan Paimin “Waduhhhh, maluuuuu aku. Fraternya tidak kebagian singkong,” seru Paijo “Tidak apa-apa. Makananku bukan singkong saja, tetapi juga sabda Allah heeeee,” seru Fr Bejo seraya bercanda menghibur mereka bertiga. “Dahhhh yaaaa, jangan lupa berdoa Rosario di bulan Mei ini,” ajak Fr Bejo. “Sipppppp” seru Paijo, Parman, dan Paimin. “Dahhhh ya saya pamit dulu, takut ditanyain romo paroki,” seru Fr Bejo seraya meninggalkan rumah Paijo dengan sepeda onthel. “Kringgggg, Kringggg,” terdengar suara bel sepeda meninggalkan rumah Paijo. Demikian juga Parman dan Parmin pun pulang ke rumah. “Jooooo, Paijo, singkong untuk frater dihabisin sendiri,” seru Paijo dalam hati sambil menutup muka karena malu. “Mbekkkkk, Mbekkkkk,” terdengar suara kambing seraya mengejek Paijo. “Jo, Paijo, dasar wong ndeso,” seru Paijo dalam hati. Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka