Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Kepekaan Iman, Menyambut Sapaan Allah di Bulan Maria

Kepekaan Iman, Menyambut Sapaan Allah di Bulan Maria

[KATEDRAL] Hujan deras yang mengguyur Kota Bogor pada Jumat (1/5) sore tak menyurutkan langkah umat untuk menghadiri Misa Pembukaan Bulan Maria di Gereja BMV Katedral.

Di dalam gereja, doa Salam Maria menggema khidmat. Umat bersama-sama mendaraskan doa, merenungkan peristiwa sedih, sekaligus menandai dimulainya Bulan Maria—sebuah masa khusus dalam tradisi Gereja Katolik untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan meneladani kesetiaan Bunda Maria.

Perayaan diawali dengan perarakan patung Bunda Maria, lalu dilanjutkan dengan Ekaristi yang dipimpin oleh RD Thomas Peng An. Dalam pengantar, Romo Thomas mengajak umat merefleksikan sikap hati yang kerap menjadi tumpul terhadap sapaan Allah—enggan peduli dan kurang bertumbuh dalam iman.

Dalam homilinya, Romo Thomas mengutip sabda Yesus kepada para murid: “Kamu memang mendengar, tetapi tidak mengerti; kamu melihat, tetapi tidak menanggapi.” Ia menegaskan bahwa Tuhan senantiasa berbicara dalam berbagai cara—melalui peristiwa sehari-hari, bahkan yang kerap dianggap sepele.

Umat diajak melatih kepekaan iman untuk memahami kehendak Allah. Sebagai contoh, Romo Thomas menyinggung perubahan rencana perayaan hari itu. Prosesi yang semula dirancang berlangsung dari Gedung Pastoral terpaksa disesuaikan karena hujan. Menurutnya, hal tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan Tuhan untuk hidup lebih sederhana.

“Hidup dalam Tuhan berarti mampu menyelaraskan rencana pribadi dengan rencana-Nya,” ujarnya.

Namun, ia mengakui, tidak mudah menaruh kepercayaan penuh kepada Allah. Sikap acuh tak acuh kerap membuat manusia menganggap berbagai peristiwa hanya sebagai kebetulan. Bahkan, tidak jarang umat menutup telinga, mata, dan hati nurani terhadap pesan Tuhan, termasuk melalui bacaan Kitab Suci.

Padahal, lanjutnya, iman kepada Kristus membawa jaminan keselamatan. Janji tersebut semestinya menjadi dasar kepercayaan, sekaligus sumber semangat dan sukacita dalam menjalani hidup.

Romo Thomas kemudian mengajak umat merenungkan peran Bunda Maria. “Bagaimana jika Maria bersikap pasif terhadap sapaan Allah melalui Malaikat Gabriel? Akankah keselamatan terjadi? Akankah Yesus lahir ke dunia?” tuturnya.

Kepekaan dan kesediaan Bunda Maria untuk bekerja sama dengan Allah, lanjutnya, menjadi dasar harapan keselamatan bagi umat manusia. Karena itu, Bunda Maria menjadi teladan nyata akan “amin” yang sejati—iman yang diwujudkan dalam tindakan.

Menutup homilinya, Romo Thomas mengajak umat untuk menjadi “Maria-Maria” masa kini: pribadi yang peka, berani menanggapi kehendak Allah, serta menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menghadirkan berkat bagi sesama dan kehidupan bersama.

Penulis: Mellisa Octav Mariana | Editor: Aloisius Johnsis

Leave a Reply

Top