Anda di sini
Beranda > Pastoral > Surat Gembala: Kita Katolik Kita Indonesia, Membangun Hidup Kristiani yang Berkualitas

Surat Gembala: Kita Katolik Kita Indonesia, Membangun Hidup Kristiani yang Berkualitas

Saudara-saudariku, umat Keuskupan Bogor terkasih, semoga damai Tuhan berlimpah dalam hatimu.

Kita memasuki Masa Prapaskah dengan tanda abu dikenakan pada dahi atau kepala kita, sambil imam atau petugas berkata: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” atau “Ingatlah, engkau ini abu dan akan kembali menjadi abu”. Seruan ini memenuhi perayaan-perayaan selama masa tobat ini yang dimulai pada Rabu Abu, 6 Maret dan berakhir pada Jumat Agung, 19 April 2019. Seruan-seruan Yesus dan para nabi ini ditujukan kepada semua orang baik dari kelompok generasi ‘tua’, maupun mereka yang tergolong ‘generasi milenial’. Yesus mengingatkan para murid dan kita semua: “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka. Berilah sedekah dan jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Bdk. Mat 6:1-4). Yesus berseru lagi: “Janganlah berdoa seperti orang munafik; berpuasalah” (Bdk. 6,5). Sedangkan Nabi Yoel mengingatkan orang Israel dengan seruan tegas: “Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan penuh kasih setia. Adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya” (Bdk. Yoel 1:14). Inti ajakannya ialah untuk bertobat, berpuasa dan beramal, serta menjadi manusia cinta damai.

Saudara-saudariku terkasih,
Pribadi Allah yang dinyatakan kepada kita adalah Allah yang maha pengasih, panjang sabar dan penuh kemurahan hati. KasihNya dirasakan dan dialami oleh kita semua melalui diri Yesus Kristus, Putranya yang dikasihiNya. Kelembutan kasih Allah, kekuatan kemurahan hatiNya mesti menggerakkan kita untuk kembali kepadaNya seperti Anak yang hilang dalam perikop Luk 15. Allah sudah menyatakan kasih sayang, panjang sabar, dan kemurahan hatiNya. Maka mari kita membarui hidup kita agar lebih berkualitas kristiani. Pembaruan itu diimplementasikan dalam pekerjaan-pekerjaan yang baik dan berkualitas.

Keuskupan kita menggerakkan agar pekerjaan baik sebagai hasil pertobatan kita itu berdampak pada perlakuan terhadap sesama, alam semesta khususnya air yang sehari-hari sangat akrab dengan hidup kita. Komitmen kita sebagai pengikut Kristus menguatkan kita untuk berkarya nyata demi memajukan kesejahteraan umum bangsa kita. Selain itu, kita berjuang dengan sukacita memperbaiki kualitas air dalam lingkungan hidup kita. Maka tema pra-Paskah kita merumuskannya bahwa air berkualitas (di lingkungan hidup kita) mencerminkan hidup kristiani kita yang berkualitas.

Tentu kualitas pertobatan dan pembaruan hidup kristiani diukur tidak hanya oleh kualitas air yang semakin lebih baik. Ada pula aspek pertobatan lain yang dituntut oleh tanda-tanda zaman masa kini dan dalam konteks ke-Indonesiaan kita. Paus Fransiskus mengingatkan kita: ”Iman sejati (yang tak pernah nyaman atau sepenuhnya individual) selalu melibatkan hasrat mendalam untuk mengubah dunia, meneruskan nilai-nilai, meninggalkan dunia ini agak lebih baik dari pada ketika kita temukan” (EG 183). Itu berarti gerakan pertobatan kita mesti mengandung hasrat mendalam untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Artinya kita mesti terlibat penuh dan teguh untuk ikut serta mengembangkan bangsa dan tanah air Indonesia atas dasar Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Kita berjuang untuk menjadikan Indonesia “Rumah kita bersama”, yang di dalamnya semua orang Indonesia mengalami hidup damai, sejahtera, dan bersaudara serta berkelimpahan air yang berkualitas. Komitmen “Kita Indonesia” mengandung daya batin dan kerelaan hati untuk merasakan hidup senasib, sepenanggungan bersama warga bangsa lainnya dan saling membutuhkan satu terhadap yang lain. Sikap peduli dan saling berbagi dikonkretkan dalam gerakan-gerakan dan kegiatan kebangsaan.

Maka dengan mencermati tanda-tanda zaman now, kami menyerukan: “Umatku, adakan dan rayakan gerakan-gerakan pertobatan berdimensi kebangsaan di lingkungan-lingkungan dan puncaknya ialah pada perayaan Paskah Kristus bercorak kebangsaan”.

Dok. Komsos BMV Katedral

Gerakan-gerakan pertobatan itu antara lain:

  • Gerakan pertobatan sakramental, berpuasa dan bersedekah ditingkatkan. Penuhilah bilik-bilik pengakuan dosa di gereja-gerejamu; isilah kotak-kotak derma dengan sukacita dan tulus. Hapuskanlah hutang-hutang iri hati, dendam kesumat yang terpendam dalam hatimu. Berpestalah karena Allah mengasihi kita dan mengampuni kita. Rayakan cinta persaudaraan dengan saling memaafkan.
  • Gerakan merayakan Paskah bercorak kebangsaan. Artinya kita mengimani bahwa Kristus yang bangkit membawa keselamatan dan fajar harapan baru bagi kebaikan Gereja dan bangsa kita. Iman kita akan Kristus yang mengalahkan kuasa dosa dan kuasa kematian mendorong kita untuk mempromosikan “budaya kehidupan”, yang bercorak menghargai keberbedaan dan memberi semangat harapan baru bagi sesama warga.
  • Gerakan peduli akan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Adakan dan rayakan momen-momen kebangsaan bersama elemen bangsa lainnya. Semua umat Katolik yang mempunyai hak pilih mesti terlibat dalam pesta demokrasi khususnya dalam Pilpres dan Pileg 2019 ini dengan ikut mencoblos. Dengan demikian kita berjuang bersama membangun masyarakat yang beradab, adil dan saling menghargai. Kita berinisiatif membangun dialog lintas iman dan dialog budaya, serta dialog dengan pejabat-pejabat negara, serta para anggota wakil rakyat.
  • Gerakan pertobatan ekologis dengan fokus 2019 ini ialah meningkatkan kualitas air dengan tidak ikut melakukan pencemaran-pencemaran pada sumber-sumber air, sungai, laut. Komitmen mengurangi penggunaan plastik harus diteruskan dan “minuman kemasan sekali pakai” tidak lagi dipakai dalam perayaan-perayaan digereja-gereja, paroki, lingkungan dan sekolah-sekolah.
  • Gerakan meningkatkan kualitas perjumpaan dan “peduli sesama” dalam setiap keluarga-keluarga. “Sedekahkan-waktumu” untuk sesama yang membutuhkan sapaanmu, terutama dalam keluarga-keluarga. Bersepakatlah untuk mengadakan jam perjumpaan dengan “duduk bareng bersama tanpa smartphone”. Jam itu bisa diisi dengan cerita-cerita (apa saja) antara orangtua dan anak-anak.

Akhirnya, marilah kita menjadikan masa pra-Paskah ini sebagai masa yang indah serta penuh sukacita, karena kita disayangi Tuhan dan kita kembali kepadaNya untuk mencintaiNya dan sesama manusia. Bersama Bunda Maria, Bunda Gereja, kita menyongsong Paskah Kristus dengan riang gembira. Selamat memasuki masa Prapaskah.

Dok. Komsos BMV Katedral

Ketentuan pantang dan Puasa

1. Ketentuan

Kitab Hukum Kanonik Kanon 1249 menetapkan bahwa semua umat beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi  hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, di mana:

a. Umat beriman Kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa.
b. Menjalankan karya kesalehan dan amal kasih.
c. Menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia.
d. Berpuasa dan berpantang menurut norma kanon-kanon berikut:

Kanon 1250-Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap Jumat sepanjang tahun, dan juga masa 40 hari atau prapaskah.

Kanon 1251-Pantang makan daging atau makan lain menurut ketentuan Konferensi Para Uskup hendaknya dilakukan setiap Jumat sepanjang tahun, kecuali Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada Rabu Abu dan Jumat Agung, memperingati sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus.

Kanon 1252-Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enam puluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita rasa tobat yang sejati.

2. Petunjuk

a. Masa Pra-Paskah 2019 sebagai hari tobat berlangsung mulai Rabu Abu, 6 Maret 2019 sampai dengan Jumat Agung, 19 April 2019.
b. Pantang berarti tidak makan makanan tertentu yang menjadi kesukaannya dan juga tidak melakukan kebiasaan buruk, misalnya: marah, benci, berbelanja demi nafsu, boros, tidak memaafkan, selalu menggunakan HP tanpa peduli anggota keluarga yang berada bersamanya. Tetapi berusaha lebih mengutamakan dan menggandakan perbuatan, tutur kata baik kepada sesama.
c. Puasa berarti makan satu kali dalam sehari.

3. Cara mewujudkan Pertobatan

a. Doa: Masa prapaskah hendaknya menjadi hari-hari istimewa untuk meningkatkan semangat berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan dengan tekun mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan serta melaksanakannya dengan setia.
b. Karya amal kasih: Pantang dan puasa selayaknya dilanjutkan dengan perbuatan amal kasih yakni membantu sesama yang menderita dan berkekurangan. Kami mengajak Anda sekalian untuk melakukan aksi nyata amal kasih baik pribadi maupun bersama-sama di lingkungan maupun wilayah.
c. Penyangkalan diri: Dengan berpantang dan berpuasa, kita meneladan Kristus yang rela menderita demi keselamatan kita. Kita mengatur kembali pola hidup dan tingkah laku sehari-hari agar semakin menyerupai Kristus.

4. Himbauan: Selama masa Pra-Paskah, apabila akan melangsungkan perayaan perkawinan hendaknya memperhatikan corak masa tobat. Dalam keadaan terpaksa seyogyanya pesta dan keramaian ditunda.

Bogor, 19 Februari 2019

Mgr. Paskalis Bruno Syukur
Uskup Keuskupan Bogor

Leave a Reply

Top