Tidak Ada Kata Terlambat Menjadi Pengikut Yesus Kabar Terkini Seputar Paroki 4 April, 2026 [KATEDRAL] Suasana duka yang mendalam menyelimuti Gereja BMV Katedral Bogor pada peringatan Jumat Agung (3/4). Umat hadir dengan penuh khidmat untuk mengenang peristiwa sengsara dan wafat Yesus Kristus, momen paling sakral dalam rangkaian Tri Hari Suci umat Katolik. Ibadat yang dipimpin oleh RD Paulus Haruna dan didampingi oleh RD Thomas Peng An dimulai tepat pukul 15.00 WIB. Keheningan total menyelimuti seluruh area gereja saat para imam melakukan prostration atau sujud. Sujud syukur di depan altar yang kosong itu menjadi simbol merendahkan diri, juga duka cita yang mendalam atas wafatnya Sang Juru Selamat. Tidak Terlambat Dalam permenungan suci di tengah suasana duka tersebut, Romo Haruna menyampaikan pesan menyentuh mengenai istilah “panggilan terlambat” di Gereja Katolik. Istilah itu kerap diberikan pada pribadi yang baru mengenal Yesus dan terpanggil untuk dibaptis saat usia mereka tidak lagi muda, baik ketika sudah dewasa maupun lanjut usia. Beliau menegaskan, “panggilan terlambat” bukanlah sebuah hal yang buruk, rendah, atau warga kelas dua dalam iman. “Panggilan yang datang di hari tua bukanlah hal yang hina. Sebaliknya, itu adalah bukti nyata kasih Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu,” ungkap Romo Haruna. Ia merujuk pada tokoh-tokoh besar dalam Kitab Suci yang juga menunjukkan kualitas iman luar biasa, meski baru menanggapi panggilan Tuhan di usia matang atau saat-saat terakhir hidupnya. Sebut saja Maria Magdalena, Nikodemus, Matius, hingga Zakheus. Begitu juga Yusuf dari Arimatea yang dengan aksi nyata mengurus jenazah Yesus dan mempersembahkan makam baru miliknya, serta Dismas, si pencuri yang bertobat tepat saat tergantung di kayu salib samping Yesus. Mereka membuktikan, menjadi pengikut Kristus yang berkualitas tidak hanya cukup dengan pengakuan di mulut. Bukan soal seberapa lama percaya. Hal yang lebih penting adalah tentang mewujudkan iman melalui aksi konkret. Melalui peringatan ini, umat diajak untuk terus bersemangat dalam mewujudnyatakan iman. Dengan mengenang kembali kematian Yesus di salib, umat sejatinya kembali diingatkan dengan hal penting: beban dosa manusia telah ditebus oleh Kristus. Kiranya ini dapat menjadi penghiburan yang mendorong umat bertobat dan kembali pada-Nya. Frater Rio membawa salib saat upacara penghormatan salib Ibadah kedua di Gereja Katedral Bogor. Foto: Leonardus Evan. Lirih Passio Keheningan malam mengiringi lantunan Passio yang mengalun lirih. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Seruan penyerahan itu mengendap dalam sunyi, menuntun hati umat menyusuri jejak sengsara Yesus Kristus dengan khidmat dan penuh permenungan. Suasana hening yang sarat makna itu menjadi latar ibadat kedua yang dilaksanakan pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia RD Nikasius Jatmiko. Malam itu, Romo Iko didampingi oleh konselebran RD Alfonsus Sombolinggi. Meski malam telah larut, area gereja tetap dipenuhi umat di berbagai sudut. Umat mengikuti setiap rangkaian ibadat dengan tenang dan khidmat. Jumat Agung tersebut lebih dari hanya tentang mengenang. Ibadat itu adalah momen untuk kembali merasakan kedalaman cinta Yesus. Ia menyerahkan nyawa-Nya dengan kerelaan penuh, sebagai kurban penebusan bagi keselamatan umat manusia. Dari pengorbanan itu, harapan pun lahir. Kasih itu tetap hidup dan terus menguatkan langkah setiap umat hingga hari ini. Penulis: Christiana Nathalie, Leonardus Evan | Editor: Celine Anastasya