Anda di sini
Beranda > Nusantara > WKRI Harus Hadir di Tengah Masyrakat

WKRI Harus Hadir di Tengah Masyrakat

[CIPAYUNG] Dewan Pengurus Daerah (DPD) Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Keuskupan Bogor menggelar Konferensi Daerah (Konferda) ke- 8 di Hotel Puri Avia Cipayung, Sabtu (19/11) dan Minggu (20/11). “WKRI bukan hanya sekedar organisasi gereja, namun juga organisasi kemasyarakatan. Sudah seharusnya WKRI hadir di tengah masyarakat untuk melayani sesama,” ungkap Wakil Ketua Panitia Katarina Catri Erlina dalam Konferda ke- 8.

Kegiatan 5 tahunan bertajuk “Membangun Kepedulian Lingkungan Hidup Menuju Pertobatan Ekologis” ini dihadiri sekitar 250 anggota WKRI dari paroki-paroki se-Keuskupan Bogor. Kegiatan ini bertujuan untuk memilih Presidium DPD WKRI Keuskupan Bogor yang baru serta sebagai sarana untuk mempertanggung jawabkan program kerja dan kegiatan yang telah dilaksanakan selama 5 tahun terakhir dalam sidang pleno.

Panitia telah menjaring 8 calon ketua DPD WKRI Keuskupan Bogor selama 1 tahun terakhir. Berbagai visi dan misi pun telah dibuat dan dipresentasikan oleh masing-masing calon.  Setelah pemilihan dilaksanakan Sabtu (20/11) akhirnya terpilih Ketua Petahana WKRI Keuskupan Bogor MF Nining B dengan total 80 suara. WKRI asal Paroki Keluarga Kudus Cibinong ini merasa senang dapat diberi kesempatan untuk memimpin kembali WKRI Keuskupan Bogor. “Saya bersyukur sekali lagi diberi kesempatan untuk memimpin. Mudah-mudahan amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan lebih baik lagi untuk 5 tahun kedepan,” harap Ketua WKRI periode 2016-2021.

Presidium 2 Dewan Pimpinan Pusat (DPP) WKRI Anastasia Irawati, mengapresiasi perkembangan WKRI di Keuskupan Bogor. Ia  berpendapat bahwa WKRI Keuskupan Bogor sangat aktif dengan 21 cabang dan anggota lebih dari 3.000 orang. “Karya-karya yang dilakukan oleh WKRI Keuskupan Bogor sangat nyata, seperti membuat MCK di Kampung Sawah, pendidikan makanan sehat bagi anak sekolah. Sesuai dengan tema Konferda ke- 8, mereka juga melakukan keigatan-kegiatan peduli lingkungan hidup, seperti daur ulang dan pemisahan sampah organik dan non-organik, hal ini sesuai dengan misi Keuskupan Bogor. Saya berharap program kedepan, DPD Bogor dapat lebih memperhatikan isu-isu di Bogor mengenai perempuan, seperti status pernikahan yang tidak jelas karena tidak sesuai prosedur. Semoga WKRI dapat memberikan pendampingan serta edukasi yang tepat,” jelas Irawati.

Ketua Panitia Maria Agustin Lito, juga mengungkapkan harapannya, “semoga pengurus DPD WKRI Keuskupan Bogor yang baru dapat lebih turun kebawah, melihat dan mendampingi WKRI di paroki-paroki agar mengerti masalah yang dihadapi di akar rumput, sehingga program yang direncakan dapat dilaksanakan dengan maksimal karena adanya sinergisitas yang baik Antara keuskupan dan paroki,” pungkasnya.

Patricia Dewi Sudira, WKRI asal Paroki Santo Paulus Depok melihat kegiatan Konferda ke- 8 ini sudah berjalan dengan baik. “Walaupun masih ada keraguan di antara kami untuk menjadi pemimpin di komisi-komisi, kegiatan ini sudah menghasilkan sesuatu yang baik. Semoga dengan terlibatnya perwakilan-perwakilan cabang di paroki-paroki se-Keuskupan Bogor, Konfercab di masing-masing cabang dapat terselenggara dengan lebih baik lagi,” katanya.

Keigatan ini ditutup dengan pelantikan dan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Penasehat Rohani WKRI Keuskupan Bogor RD Dominikus Savio Tukiyo. Dalam kotbahnya ia berpesan agar para anggota WKRI dapat menjalankan perannya masing-masing baik di lingkungan, wilayah, paroki, maupun keuskupan.

(John)

Leave a Reply

Top