Anda di sini
Beranda > Sajian Utama > Pohon Pusaka untuk Gereja Pusaka

Pohon Pusaka untuk Gereja Pusaka

Semarak 125th Gereja Katedral Bogor

[BOGOR] Council Kota Pusaka memberikan pohon Samida Pakuan yang merupakan pohon pusaka Kota Bogor kepada Gereja BMV Katedral, Selasa (17/8) pagi. Pohon tersebut diberikan sebagai hadiah dalam rangka Semarak 125th Gereja Katedral Bogor yang perayaannya telah dibuka Sabtu (24/7) lalu dan akan berlangsung sampai Desember 2021 mendatang.

Katedral Bogor sendiri bisa dibilang adalah Gereja Pusaka yang dimiliki oleh Keuskupan Bogor melihat usia, fungsi, letak, dan perannya dalam konteks hidup menggereja di Bogor.

Pohon Pusaka diberikan oleh Dr. Ing Usep Soetisna dan Dayan Layuk Allo selaku perwakilan Council Kota Pusaka kepada Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM setelah Misa Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dayan Layuk Allo menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Gereja Katedral Bogor yang berkenan menerima hadiah pohon pusaka. “Salam merdeka! Pertama terima kasih kepada Bapa Uskup yang berkenan menerima kami bersama pohon pusaka. Pusaka kita adalah kehidupan itu sendiri dan pohon menjadi salah satu pengingat sekaligus bekal untuk generasi yang akan datang,” katanya.

Prosesi penerimaan dan penanaman yang dilakukan di Plaza Maria ini juga dihadiri oleh Pastor Paroki BMV Katedral Pastor Paulus Haruna, Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor Pastor Yohanes Suparta, dan Ketua Panitia Agus Muhardi.

Uskup Bogor Monsinyur Paskalis bersyukur mendapatkan hadiah yang istimewa pada hari kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia. “Pohon yang ditanam di gereja utama di keuskupan ini memiliki makna yang begitu besar. Kita berharap agar akar iman Katolik kita dapat bertumbuh berkembang dan memiliki manfaat untuk banyak orang seperti pohon pusaka,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini Usep, sapaan akrab Dr. Ing Usep Soetisna menjelaskan beberapa hal terkait pohon pusaka Kota Bogor tersebut. “Samida memiliki nama lain Ploso dengan nama latin Butea Monosperma. Tumbuhan ini  banyak digunakan oleh pemeluk agama Hindu untuk upacara keagamaan. Di Indonesia, secara umum  disebut Palasa, sedangkan di Jawa dan Sunda kerap disebut Ploso atau Plasa,” katanya.

Lebih lanjut ia menceritakan Pohon Samida yang ada dalam Prasasti Batutulis menjadikan tanaman tersebut sebagai salah satu pohon pusaka di Kota Bogor.

Uskup Bogor Monsinyur Paskalis bersama Dr. Ing Usep Soetisna menanam pohon Samida Pakuan di Plaza Maria, Selasa (17/8). Foto: Gregorius Galih

Memberikan yang Terbaik untuk Bangsa

Sebelumnya, perayaan ekaristi dipimpin oleh Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur dengan konselebran RD Paulus Haruna dan RD Yohanes Suparta.

Dalam homilinya Uskup Paskalis menyoroti makna tentang hidup merdeka. “Bacaan pada hari ini menuntun kita memperhatikan hidup dalam kemerdekaan untuk bangsa dan pribadi. Kita dipanggil untuk hidup merdeka tetapi kemerdekaan dan kebebasan itu bukan berarti kita dapat berbuat sesuka hati, melainkan diisi dengan kemerdekaan untuk bisa mengabdi satu sama lain dalam semangat cinta kasih,” ungkapnya.

Monsinyur juga mengingatkan  bahwa Yesus ingin mendorong umatnya memberikan yang terbaik untuk bangsa dan sesama. “Yesus mengajak kita untuk memberikan sesuatu yang membangun bagi bangsa dan sesama. Marilah kita menjadi anak bangsa yang beradab, menghormati sesama manusia, dan memberikan yang terbaik bagi perkembangan bangsa kita sesuai dengan bidang kita masing-masing,” pungkasnya.

Genap 76 tahun, Indonesia kembali merayakan hari kemerdekaannya. Bangsa Indonesia menyadari bahwa kemerdekaan tersebut diperoleh dengan tumpah darah para pejuang terdahulu, maka dari itu sebagai umat Katolik yang berbangsa Indonesia, alangkah baiknya untuk ikut serta dalam merawat dan memajukan bangsa seperti Yesus yang mau taat pada bangsanya di masa itu.

Acara ini disiarkan secara langsung melalui kanal youtube BMV Production yang diikuti oleh ratusan orang secara virtual.

Penulis: Leonardus Evan | Editor: Aloisius Johnsis

Leave a Reply

Top