Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Kemerdekaan Dalam Rumah Tangga, Mungkinkah Terwujud?

Kemerdekaan Dalam Rumah Tangga, Mungkinkah Terwujud?

Semarak 125th Gereja Katedral Bogor

[KATEDRAL] KDRT dalam sebuah rumah tangga memang identik dengan hal yang negatif, hal ini rentan terjadi karena setiap individu ingin memenangkan dan mendahulukan keunikannya masing-masing. Demikian dikatakan Pastor Paroki BMV Katedral RD Paulus Haruna saat membuka Gelar Wicara Semarak 125th Gereja Katedral Bogor bertajuk “KDRT! Kemerdekaan Dalam Rumah Tangga”, Senin (16/8) malam.

Ratusan orang memadati ruang temu secara virtual melalui kanal Youtube BMV Production. Acara yang dimoderasi oleh OMK bernama Ignatia Ivana ini mengundang beberapa narasumber yang ahli terkait rumah tangga Katolik. Mereka adalah Ketua Seksi Mitra Perempuan Paroki BMV Katedral Benedicta Sulistiyani, Ketua Seksi Keadilan dan Perdamaian Paroki BMV Katedral Stefanus Agung, dan Vikaris Judisial Keuskupan Bogor RD Yohanes Driyanto.

Idealitas vs Realitas

Mengawali sesi pertama Stefanus Agung memaparkan data dan fakta yang dimiliki oleh Justice and Peace pada kurun waktu 2018-2021.

“Keluarga yang ideal memang merupakan dambaan setiap manusia yang membinanya. Akan tetapi faktanya antara 2018-2021, menurut catatan Justice and Peace ada sekitar 31 umat yang melakukan konsultasi hukum. Terkait konflik keluarga, KDRT, anak yang terkena narkoba, dan yang paling banyak akhir-akhir ini adalah hutang piutang atas kartu kredit dan pinjaman daring,” jelasnya.

Kondisi pandemi seperti saat ini merupakan krisis multidimensional yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan. ”Melalui data-data yang telah dipaparkan sebelumnya bisa dilihat bahwa jelas idealitas tidak sebanding dengan realitas. Apalagi di tengah kondisi Pandemi Covid-19 seperti saat ini, yang tadinya keluarga sibuk keluar rumah. Sekarang satu keluarga dipaksa beradaptasi untuk bertemu hampir 24 jam di rumah setiap harinya,” papar Agung.

Keluarga yang Merdeka

Menciptakan keluarga yang merdeka, adil, dan damai bukanlah hal yang mudah menurut Sulistiyani. “Memang tidak mudah dalam menciptakan keluarga yang merdeka, adil, dan damai banyak tantangan yang harus dilalui. Akan tetapi bukanlah tidak mungkin untuk menciptakan kondisi tersebut,” Ujar Sulistiyani.

Lebih lanjut Ia mengatakan, “merdeka adalah kebebasan ketika kita sebagai seorang individu dapat  menyampaikan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan. Tentunya kemerdekaan ini harus disertai dengan tanggung jawab atas etika, budaya, dan tata krama. Kadang kala orangtua menjadi faktor yang utama saat mengambil keputusan sehingga anak-anak tidak memiliki kebebasan dalam mengutarakan keinginannya. Dalam hal ini kemerdekaan dalam mengutarakan pikiran menjadi ciri dari kemerdekaan dalam rumah tangga,” ungkapnya.

Tiga Langkah Mewujudkan Merdeka Dalam Rumah Tangga

Menutup sesi tanya jawab pada kolom live chat yang diikuti oleh para penonton dengan sangat antusias. Pastor Driyanto menyampai tiga hal yang dapat dilakukan oleh para keluarga untuk menciptakan kemerdekaan dalam rumah tangga.

 “Pertama bagaimana menjadikan keluarga itu merdeka artinya, hindarkanlah berbagai paksaan, intimidasi, dan  ancaman. Kedua adil, keadilan itu memenuhi hak dan kewajiban maka mari melaksanakan kewajiban kita masing-masing secara baik. Ketiga kita berusaha damai dengan siapapun, sehingga pertama-tama mari kita berdamai dengan diri kita sendiri terlebih dahulu. Sehingga ketika kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri, maka kita bisa berdamai dengan sesama,” tukasnya.

Gelar wicara yang dibagi menjadi 3 sesi juga dimeriahkan oleh penampilan merdu oleh RP Kristino SJ yang membawakan lagu karena cinta. Serta ditutup oleh suara lembut oleh Irene Ester yang membawakan lagu harta berharga.

Penulis: Agnes Marilyn | Editor: Aloisius Johnsis

Leave a Reply

Top