Anda di sini
Beranda > Artikel > Merayakan Perdamaian, Tanggung Jawab dan Perjuangan Bersama

Merayakan Perdamaian, Tanggung Jawab dan Perjuangan Bersama

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 21 September kita memperingati Hari Perdamaian Internasional atau World Peace Day. Momen ini bertepatan dengan pembukaan Majelis Umum PBB, pada 1981 melalui sebuah resolusi PBB. Peringatan Hari Perdamaian Internasional bertujuan untuk memperkuat cita-cita perdamaian di antara semua bangsa dan masyarakat. Peringatan ini pertama kali diperingati pada 1982, hingga pada 2002 secara resmi PBB menjadi peringatan Perdamaian Internasional.

PBB merangkul seluruh negara untuk menghentikan perselisihan dan permusuhan. Negara-negara yang merupakan anggota PBB pun mempunyai keyakinan bahwa perdamaian tidak dapat tercipta, apabila langkah-langkah untuk mencapai pemerataan pembangunan ekonomi dan sosial tidak dilakukan, dan hak setiap orang tidak mendapat perlindungan.

Perdamaian pun sangat erat hubungannya dengan HAM. HAM adalah hak yang dimiliki semua orang tanpa ada pengecualian. Oleh sebab itu prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, yang mencakup isu kemiskinan, kelaparan, pendidikan, perubahan iklim, persamaan gender, persedian air, sanitasi, energi, lingkungan, dan keadilan sosial, perlu diaplikasikan.

Namun sangat disayangkan, meskipun sudah banyak negara yang menjunjung tinggi arti dari perdamaian. Nyatanya masih banyak hambatan perdamaian yang terjadi.

  • Kasus George Floyd
    Wafatnya George Floyd, seorang pria kulit hitam di Mineapolis, membuat kemarahan publik yang sangat besar di Amerika Serikat. Unjuk rasa berskala besar dilakukan untuk menuntut keadilan terhadap kaum berkulit hitam. Unjuk rasa dan kemarahan publik ini dipicu dari video viral, yang memperlihatkan momen saat leher Floyd ditindih oleh petugas kepolisian selama hampir sembilan menit. Dan tak lama kemudian, Floyd kehabisan napasnya dan meninggal dunia. Banyak masyarakat Amerika Serikat yang beropini bila kasus ini adalah bentuk rasisme yang dilakukan petugas kepolisian Amerika Serikat.
  • Etnis Rohingya Myanmar
    Pada Maret 2018, terungkap kasus kekerasan pada etnis Rohingya Myanmar. Tudingan ini berdasarkan penemuan sejumlah kuburan masal, tindak pemerkosaan terhadap perempuan etnis Rohingya, pembakaran rumah-rumah dan pencabutan hak-hak dasar etnis Rohingya.
  • Penyerangan Gereja St. Lidwina, Yogyakarta
    Pada 11 Februari 2018, jemaat di Gereja St. Lidwina diserang oleh seorang pemuda bernama Suliyono yang membawa sebuah pedang. Serangan itu dilakukan pada saat misa berlangsung yang dipimpin oleh Romo Edmund Prier SJ. Beberapa umat dan romo mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Tak sampai disitu, Suliyono dengan membabi buta merusak beberapa properti yang ada di gereja.

Pada tahun ini PBB memberi tema “Membentuk Kedamaian Bersama”. Menurut Sekjen PBB Antonio Guterres, dunia akan diundang untuk bersatu dan berbagi pemikiran bagaimana mengatasi badai ini, menyembuhkan manusia, dan mengubahnya menjadi lebih baik.

“Meskipun kami mungkin tidak dapat berdiri berdampingan, kami tetap dapat bermimpi bersama,” lanjutnya Ia mengatakan, tema World Peace Day 2020 bisa dirayakan dengan menyebarkan kasih sayang, kebaikan dan harapan dalam menghadapi pandemi.

“Berdiri bersama dengan PBB melawan upaya menggunakan virus untuk mempromosikan diskriminasi atau kebencian. Bergabunglah bersama kami sehingga kami dapat membentuk perdamaian bersama,” ungkap Antonio.

(Leonardus Evan/AJ)

Leave a Reply

Top