Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Waktu

Waktu

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”

Pengkotbah 3:1

Malam itu terasa sepi, aktivitas gerejapun tidak semarak seperti biasanya, sekalipun ada peringatan besar di Gereja. Pekan suci adalah sebuah rangkaian perayaan yang sangat dinanti oleh umat katolik. Palma biasa ada perarakan, Kamis Putih perayaan ditandai dengan pencucian kaki, Jumat Agung merayakan wafat Kristus, Sabtu Suci merayakan iman kebangkitan yang ditandai dengan memperbarui janji babtis, tanda kesetiaan mengikuti Kristus, dan puncaknya Minggu Paskah. Semua itu tinggal anggan-angan untuk merayakan semua rangkaian iman itu. Keinginanan menjadi musna seketika ketika bencana menimpa. Kemeriahan paska yang selalu disambut dengan kegembiraan iman, seakan ditelan dalam duka yang mendalam.

Dunia terhenti sejenak dalam keheningan, merapat pada kehidupan masing-masing penuh dengan duka, seperti Yesus masuk dalam taman Getsemani. Keheningan ini terus terbalut dengan suasana yang tidak kunjung pasti. Seruan untuk tetap tinggal di rumah seperti sebuah penjara yang seakan mematikan pada hidup manusia. Keadaan itu terjadi, keadaan itu singgah dalam hidup kita, dan kesedihan itu pun menjadi bagian hidup umat beriman tanpa terkecuali. Semua tertunduk tidak berdaya dan terus berseru mohon ampun kepada Tuhan agar dijauhkan dari petaka ini. Demikian Yesuspun mendoakan dunia ini di bersama para rasul, namun mereka terlena karena tertidur. Raga dan jiwa menjadi lemah, sehingga daya imun jiwa pun jadi lemah. Saat itulah setan menari gembira menertawakan kita. Semua gereja kosong, manusia ada dalam ketakutan, dan manusia ada dalam ketidak pastian. Ini menjadi gambaran perjalanan bahwa umat terpilih yang juga mengalami masa-masa sulit sebelum ke tanah terjanji.

Malam paskah menjadi peristiwa yang sangat getir, kala umat bisa berdoa untuk mendengarkan Exultet, terputus karenanya. Lilin ditanganpun seakan tiada ada gunanya lagi sebagai simbol terang, karena hati telah keburu gelap dengan aneka ketakutan dan ketidakpercayaan manusia. Manusia masih belum menyadari sepenuhnya betapa peristiwa Tuhan lewat itu dirasakan saat ini. Angan selalu memaksa misa bersama dengan teman-teman di pekan suci yang penuh dengan kitmat.

Tiada lagu terdengar pada kegembiraan paskah, tidak terdengar pula lagu bersoraklah, tiada terdengar pula lagi Alleluia. Di teras depan rumah Paijo hanya duduk sejak sendiri menunggu matahari terbenam sebagai tanda masuk Sabtu Suci. Hujanpun mulai turun semakin menambah situasi semakin kelam, listrikpun sepertinya ikut memadamkn diri seperti menggambarkan Sabtu Suci yang sunyi dan gelap. Terdengar nun jauh sana simponi suara binatang malam seakan menyanyikan lagu-lagu paskah yang merdu. Suara katak bersautan dan suara binatang lainnya pun ikut menimpa menjadi paduan suara alam yang serasi. Suara-suara ini telah menggantikan kerindukan manusia untuk berkumpul bersama. Alam adalah bagian dari manusia yang juga ikut merindukan nyanyian gegapnya Alleluia.

            “Jo, Paijo,” sapa Simbok seraya ikut nimbrung di teras rumah itu.

            “Iya Mbokkkk,” sahut Paijo sedikit kaget karena sedang berang-angan melampuai dirinya bersama senandung alam itu. Berangan pula misa Sabtu Suci bersama menik dan Yanti seperti saat itu.

            “Mbok, Simbok. Sedih rasanya, kita sebagai orang katolik tidak bisa merayakan Pekan Suci seperti biasanya,” keluh Paijo.

            “Jo, Paijo. Semua itu ada waktunya. Coba kamu lihat di kebun itu ada tanaman singkong. Kita sering berharap bahwa panennya singkong itu melimpah. Namun kadang satu batang pohon tidak ada isinya, jadi kita tidak bisa memaksakan diri. Ada waktunya alam itu memperbaharui diri, kita tidak boleh memaksanya. Biarlah alam kembali sesuai dengan regulainya,” seru Simbok

            “Wuihhhh Mbok, benar juga. Alam itu tidak bisa kita paksa, semua ada waktunya. Alam pun mesti perlu istirahat untuk membenahi diri,” saut Paijo

            “Kita belajar dari bangsa terpilih juga. Perjalanan menuju tanah terjanji itu penuh dengan derita. Bahkan alampun ikut menyeleksi siapa yang boleh masuk tanah terjanji. Manusia yang taat akan sampai pada tujuannya, musa mengajarkannya pada kitab Keluaran 12:7 Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Musa mengajarkan supaya tetap tinggal di rumah dengan tetap berdoa kepada Allah. Ini gambaran bahwa manusia harus setia pada Perjanjian dengan Tuhan. Secara ekologis kita tidak boleh merusak alam, kita harus mencintai alam ini,” seru Simbok

            “Iya Mbok, kita harus tinggal di rumah ya, sampai Tuhan lewat menghalu segala bencana itu,” jawab Paijo sedih.

            “Betul Jo, Paijo. Paskah itu jangan dimaknai pada pesta makannya saja, tapi ada nilai yang diberikan pada peristiwa paskah Keluaran 12:13 Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. Inilah janji Tuhan kepada umatnya,” seru Simbok.

            “Waduhhhh, berarti kambingku harus disembilih donk Mbok,” seru paijo

            “Itu kan jaman dulu, kalau mau disembelih kamu tidak ada teman main, kan kambing itu dah seperti teman mainmu, heee,” ledek Simbok.

            “Ahhhh Simbok,” jawab Paijo

            “Jo, Paijo. Malam paskah ini mari kita bersyukur bahwa Tuhan telah lewat setidaknya kita bisa merayakan dan doa bersama dengan seisi alam yang melatunkan lagu indah seperti meriahnya lagu Alleluia di malam paskah ini,” seru Simbok.

            “Ayoooo, mbok kita bersama-sama berdoa dan saling memperbaharui janji babtis kita, mumpung disaksikan air hujan sebagai air berkah, ya anggap saja ini adalah percikan air babtis waktu itu, heeee,” ajak paijo

            Simbok dan Paijo pun khusuk bedoa menggunakan tuntunan buku yang ada. Kekhusukkan malam itu menandai malam paskah bersama simbok di teras sambil memegang lilin. Selesai doa besama terdengar gaduh dari belakang.

            “Emmmmmbekkkk, Embekkeeekkk,” suara kambing terdengar

            “Waduhhhhh, kambingpun pun menyanyikan paduan Alleluia di malam paskah itu,” seru paijo.

            “Emmmmmbekkk, embekkkk,”sekali lagi terdegar kambing itu bersuara

            “Apa sihhhh,” seru Paijo.

            “Jo, Paijo. Kambingmu bersyukur tidak jadi kamu sembelih untuk paskahan, hee,” seru Simbookkkkk.

            “Wuihhhh bener juga ya Mbok,” seru Paijo

            “Embekkkkk, embbeeeekkkk, kamu ikut bergembira juga ya,” kata paijo.

            Selesai semua itu ternyata Simbokmpun telah menyiapakn pesta paskah berdua. Ya lumayannnn, ikan asin dan sayur daun pepaya yang pahit, kata simbok sesuai nasehat paskah bahwa umat harus makan sayuran pahit, hanya tidak ada daging kambingnya, heeee.

            “Jo, Paijo. Lumayan masih bisa makan di malam paskah,” Seru Simbok

            “Embekkkkk, embekkkk,” kambing ikut bergembira mengucapkan selamat paskah dan Paijo tidak menyembelihknya heeee.

            “Joooo, Paijo dasar wong deso,” seru Paijo seraya mengkhiri malam itu bersama Simbok, seraya menuju ke tempat istirahat.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top