Anda di sini
Beranda > Nusantara > Meneladani Keluarga Kudus Nazareth

Meneladani Keluarga Kudus Nazareth

Natal adalah momen kebersamaan yang dinantikan oleh semua keluarga Katolik, tak terkecuali keluarga penyanyi Lisa A Riyanto. “Keempat anak saya sudah tidak sabar untuk dapat menghias pohon Natal dan mendekor rumah dengan ornamen Natal. Anak-anak juga senang mendengarkan cerita tentang kelahiran Yesus di kandang domba Bethlehem yang sarat makna kerendahan hati serta penuh keajaiban,” kisah penyanyi bersuara lembut yang pada 26 November 2016 lalu ikut ambil bagian dalam drama musikal “Satu Langit” di Balai Sarbini Plaza Semanggi Jakarta ini.

Bagi putri bungsu pencipta lagu terkenal Almarhum Aloysius Riyanto ini bisa berkumpul bersama keluarga untuk menghias pohon Natal, bernyanyi, berdoa, dan makan bersama adalah saat yang sangat dinanti. Keluarga Lisa biasa mengadakan berbagai permainan dalam tema Natal. Bahkan Santa Claus dan Piet Hitam dihadirkan untuk menghibur  anak-anak. 

Selain tradisi dalam keluarga, kata pemilik album “Magnificat” ini,  dalam suasana menyambut Natal, adalah saat yang tepat untuk mengajarkan anak-anak untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama yang kurang beruntung. “Biasanya kami mengumpulkan pakaian bekas layak pakai, mainan, dan buku-buku bacaan untuk disumbangkan ke panti asuhan,” tutur ibu satu putra dan tiga putri ini.

Istri Richardus Eko Indrajit ini menimba banyak pelajaran berharga mengenai hidup berkeluarga dari keluarga kudus Nazareth. Pertama peristiwa ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah.  “Ini satu teladan bahwa kita sebagai keluarga juga harus menyerahkan diri dan anak-anak kita kepada Tuhan. Selain itu, arti yang lebih luas lagi, kita sebagai orangtua diajak untuk mendidik anak-anak untuk dapat dekat kepada Tuhan dengan memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari seperti mengajak ke gereja, berdoa bersama dalam keluarga, dan berbuat kebaikan kepada semua orang,” paparnya.

Kedua ketika Yesus yang berusia 12 tahun hilang dan ditemukan di Bait Allah. Kisah ini  memberi gambaran bahwa sebagai anak harus taat dan patuh kepada orangtua sebagai wakil Tuhan di dunia. Yusuf dan Maria dapat membangun komunikasi yang harmonis dalam keluarga dalam mendidik dan membesarkan Yesus.

 Secara garis besar, kita melihat bahwa Yusuf adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab. Ia menjaga keluarganya agar selamat dari pasukan Romawi meski harus menempuh perjalanan yang panjang dan berat. Ia sangat taat dan setia kepada Tuhan.  Maria juga taat kepada suaminya dan sangat mengasihi putranya. Bunda Maria adalah ibu yang sangat taat dan setia kepada kehendak Allah. Ia seorang wanita yang sabar, rendah hati, dan sangat tegar dalam menghadapi segala penderitaan saat putranya harus wafat di kayu salib. Maria tetap setia menyertai Yesus hingga di bawah salib dan tetap percaya akan rencana Allah yang  membawa keselamatan.

Kalau Yesus sudah lahir di hati manusia maka tak ada lagi kekhawatiran, keputusasaan, dan kegelapan. Kehadiran Yesus membawa kedamaian, terang, sukacita, dan harapan. Manusia  dimampukan menghadapi berbagai suka duka hidup di dunia. “Kehadiran Allah dalam hidup kita perlu kita syukuri dan kita rayakan setiap hari. KehadiranNya memberikan kekuatan untuk terus berjuang dan harapan akan kebahagiaan kekal,” tuturnya.

Sebagaimana Allah telah mengasihi manusia dengan memberikan hadiah terindah yakni PutraNya. Sudah sepantasnya umat manusia membalas kasih Allah dengan menjadi utusan cinta kasihNya di tengah dunia ini. Di mata Lisa, hal terkecil yang dapat  dilakukan untuk merubah dunia adalah dengan berkaca pada diri sendiri dan merubah diri sendiri.  “Kita bisa memulai dari diri sendiri dan keluarga kita untuk selalu jujur, semangat bekerja/belajar/berkarya, dan penuh kasih terhadap orang lain. Kita memilih mengutamakan kehendak Tuhan, daripada memaksakan keinginan diri sendiri. Dan yang paling utama adalah menanamkan sikap menghargai kehidupan, karena semua kehidupan berasal dari Allah. Kalau kita dapat menghargai kehidupan, maka kita tidak akan mudah untuk menyakiti orang lain melainkan menjalin persaudaraan dengan semua orang tanpa memandang perbedaan. Kita juga lebih dapat bersahabat dengan alam, peduli, dan menjaga kelestariannya,” jelas umat Paroki  St. Perawan Maria Ratu  blok Q Jakarta ini.

Dari kisah Lisa A Riyanto manusia dapat belajar bahwa keluarga sungguh menjadi komunitas untuk belajar mengasihi. Dalam sikap saling mengasihi tersebut akan lahirlah damai bagi sesama. Di dalam keluarga setiap anggota disadarkan akan martabatnya. Maka bila ia sadar akan martabatnya, iapun akan menghargai martabat orang lain dan peduli kepada sesama.

Keluarga hendaknya menyadari perannya sebagai ‘sekolah’ doa dalam menjaga iman dan tempat berbagi sukacita. Pada akhirnya, sukacita itu akan mengalir dan dirasakan kepada siapa pun tanpa terkecuali. Selamat merayakan Natal dan Tahun Baru 2017.

(Ivonne Suyanto)

Leave a Reply

Top