Anda di sini
Beranda > Sajian Utama > Kamis Putih, Menanggalkan Gengsi untuk Melayani Sesama

Kamis Putih, Menanggalkan Gengsi untuk Melayani Sesama

Peristiwa Kamis Putih merupakan salah satu rangkaian dari tri hari suci. Di mana Yesus yang merupakan seorang guru mengadakan perjamuan malam terakhir sekaligus membasuh kaki ke-12 muridNya. Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir bukanlah tanpa alasan melainkan Yesus ingin meninggalkan peristiwa yang dapat dikenang oleh seluruh umatNya.

Tidak seperti tahun lalu ketika pandemi Covid-19 membuat semua orang di rumah saja. Pada Kamis (1/4) akhirnya umat dapat kembali merayakan tri hari suci di Gereja BMV Katedral. Tentu dengan kapasitas yang terbatas, serta protokol kesehatan yang ketat.

Sekitar 400 umat hadir secara langsung di Gereja Katedral dan lebih dari 2.000 umat mengikuti perayaan Kamis Putih secara virtual melalui kanal Youtube BMV Production pada sesi pertama pukul 17.00 WIB. Misa dipimpin oleh RD Yohanes Driyanto dengan konselebran RD Andreas Ari Susanto dan RD Paulus Piter.

Dalam khotbahnya, Romo Dri menyampaikan bahwa Yesus mengadakan peristiwa perjamuan malam terakhir bukanlah tanpa alasan. “Yesus mengadakan makan bersama serta mencuci kaki para muridNya agar kita para umatNya dapat meneladani Dia. Sikap Yesus dalam membasuh kaki, meyakini diriNya bahwa tidak ada sesuatu pun yang harus dipertahankan. Karena hanya orang-orang yang menanggalkan gengsi dan harga dirinya, yang dapat melayani sesama,” jelasnya.

RD Paulus Haruna memberikan berkat sakramen mahakudus pada misa ke-2 perayaan Kamis Putih di Gereja Katedral Bogor. Foto: Luki Karim

Kemudian pada misa kedua, suasana khidmat masih menyelimuti perayaan pada hari ini. Sesi kedua dilaksanakan pada pukul 19.30 WIB dan dihadiri lebih dari 300 orang. Para umat memenuhi gedung Gereja Katedral, gedung Santa Maria, dan aula BPK. Misa dipimpin oleh RD Paulus Haruna dengan konselebran RD Agustinus Nanang dan RD Albertus Simbul Gaib Pratolo.

Dalam homilinya Romo Harun menjelaskan makna dari pembasuhan yang dilakukan oleh Yesus. “Makna pembasuhan yang pertama mengajak kita untuk siap melayani, yang kedua agar kita juga dapat mengikuti Yesus untuk bisa membahagiakan dan membebaskan beban orang lain. Semua itu dilakukan dengan semangat cinta dan kasih yang besar, serta berani menyerahkan jiwa raga kita terhadap pelayanan,” pungkasnya.

(Agnes Marilyn/Leonardus Evan/AJ)

Leave a Reply

Top