Anda di sini
Beranda > Sajian Utama > Jumat Agung, Mengikuti Yesus melalui Penderitaan

Jumat Agung, Mengikuti Yesus melalui Penderitaan

Ibadat Jumat Agung merupakan saat kita merenungkan dan memperingati misteri sengsara dan wafatnya Yesus di salib. Penyaliban Yesus adalah bukti cinta kasih Allah kepada manusia, Allah rela menyerahkan Anak-Nya untuk menyelamatkan umat manusia.

Paroki BMV Katedral Bogor melaksanakan ibadat Jumat Agung sesi pertama pada pukul 15.00 WIB. Perayaan dipimpin oleh Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur dengan konselebran Vikaris Paroki BMV Katedral RD Agustinus Nanang dan Sekretaris Keuskupan Bogor RD Marselinus Wisnu Wardhana, Jumat (2/4).

Tahun ini umat kembali diperbolehkan beribadat di Gereja Katedral, tidak kurang dari 400 orang hadir memenuhi gedung gereja, gedung Santa Maria dan aula BPK dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Perayaan yang disiarkan secara langsung di kanal Youtube BMV Production ini diikuti sekitar 2.000 orang.

Monsinyur Paskalis dalam homilinya mengungkapkan teladan dari penderitaan Yesus. “Kalau kita mengikuti Yesus, tidak menutup kemungkinan bila kita mengalami pengkhianatan, penghinaan, dan penyiksaan. Tetapi ingatlah Yesus sang raja kebenaran telah mengalami penderitaan itu dan Dia tidak meninggalkan kita,” ungkapnya.

Perayaan berlangsung khidmat. Suasana hening khas Jumat Agung karena tidak adanya bunyi organ membuat seluruh umat larut dalam suasana ibadat yang khusyuk.

Kemudian pada Ibadat Jumat Agung sesi kedua yang dilaksanakan pukul 18.00 WIB sekitar 500 umat hadir untuk mengenang kisah perjalanan sengsara dan wafat Yesus. Misa dipimpin oleh Pastor Paroki BMV Katedral Bogor RD Paulus Haruna dengan konselebran RD Albertus Simbul Gaib Pratolo dan RD Paulus Piter. Semua tampak hening dan sendu, kisah sengsara yang dikemas menjadi lantunan lagu oleh kor bersama Imam berhasil menghadirkan suasana yang terasa nyata.

Memang tidak ada tangisan akan tetapi siapapun yang hadir jelas tau bahwa para umat benar-benar merasakan kesengsaraan Yesus saat hendak disalibkan. Gema suara nyanyian kisah sengsara yang memenuhi gereja menambah rasa menohok hati. Namun ketika salib diarak menuju altar, suasana berubah seakan salib yang dilihat umat merupakan harapan baru. Harapan baru agar para umat dapat meneladani apa yang dilakukan Yesus yaitu cinta, pengorbanan, serta ketaatanNya pada Bapa di surga.

(Leonardus Evan/Agnes Marilyn/AJ)

Leave a Reply

Top