Anda di sini
Beranda > Artikel > Belajar dari Kehilangan

Belajar dari Kehilangan

2020, tahun yang diawali dengan banyak harapan, banyak cinta, dan banyak mimpi. Tetap saat ini bagi banyak orang, 2020 menjadi tahun yang kwartet pertamanya mematahkan kalimat pertama tadi. 

Wabah Virus Corona (Covid-19) menghajar banyak orang tanpa memandang status, agama, asal negara, warna kulit, ataupun strata sosial. Semua bisa terjangkit, kaya atau miskin, memiliki agama ataupun tidak.

Virus Corona memberikan kehilangan untuk banyak orang, mungkin semua orang. Ada yang kehilangan nyawa, ada yang kehilangan saudara, teman, ada juga yang kehilangan ruang untuk bergerak karena harus #dirumahaja untuk #jagajaraksejenak. Bagi umat Katolik, sejarah baru diukir, merayakan misa dari rumah secara virtual, termasuk pekan suci.

Pada keadaan normal, Gereja Katedral selalu punya cerita. Ramai! Mungkin itu kesan orang yang melewati bangunan ini pada hari Minggu. Orang-orang yang jumlahnya ratusan sampai ribuan secara bergantian datang untuk beribadah, ada juga para penjual makanan yang siap menyajikan menu-menu terlezatnya, dan tidak lupa keributan di tempat parkir karena terbatasnya lahan dan mepetnya jam ibadah menjadi warna yang sulit untuk dihilangkan.

Keramaian tak pernah lepas, bahkan pada hari-hari biasa. Ada latihan paduan suara, kegiatan komunitas, atau sekadar rapat-rapat acara.

Apalagi, menuju pekan suci semua sibuk. Daun Palma dikumpulkan, tenda-tenda kokoh berdiri menambah gagah gedung Gereja yang umurnya sudah lebih dari 100 tahun. Tidak lupa para panitia yang tak berhenti ke sana kemari mempersiapkan dekorasi, kursi, dan banyak hal lainnya untuk ribuan umat yang akan hadir dari berbagai tempat.

Tahun ini, semuanya hilang, yang ada hanya sebuah bangunan kosong, tanpa suara. Sepi dan sunyi, kalaupun ada suara pasti itu desiran suara angin, dan beberapa ranting serta daun yang berguguran.

Dalam keadaan normal, sebagian dari kita merasa Ekaristi adalah bagian dari hidup yang tak bisa dilepaskan. Tetapi tidak sedikit yang menjalani misa setiap minggunya sebagai sebuah rutinitas. Termasuk pengakuan dosa dan pekan suci, hanya formalitas.

Saat ini, bisa dipastikan semua rindu berekaristi secara langsung. Kita tahu, walaupun dunia berubah ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, salah satunya adalah ekaristi.

Masa Pandemi ini mengingatkan kita pada sebuah perkataan “things happen for a reason”, semua yang terjadi pasti ada alasanya. Kali ini kita benar-benar belajar, bagaimana cara menghargai perjumpaan, bagaimana cara menghargai pengakuan, dan bagaimana cara menghargai perayaan. Mungkin memang kita harus sejenak kehilangan, agar tau cara menghargai sebuah kesempatan.

Semoga, ketika pandemi ini berakhir, ketika kesempatan itu datang lagi, kita dapat menghargainya dengan layak.

(Aloisius Johnsis)

Leave a Reply

Top