Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Puasa

Puasa

“Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.”

Mateus 17:21

Mbah Mitro adalah sosok panutan hidup di kampung. Kesederhanaannya tampak dalam keseharian, makan seadanya, doa, dan puasa menjadi cara hidupnya. Mbah Mitro rajin berpuasa dan berdoa, bukan karena kekurangan. Beliau menjalani laku tapa sebagai cara menghidupi iman akan Kristus yang juga sering berpuasa dan berdoa. Dua aspek beriman ini dipegang oleh Mbah Mitro sampai akhir hidupnya. Kini teladan Mbah Mitro menjalankan doa dan puasa tinggal kenangan. Sayangnya, cara hidup yang bagus ini tidak  banyak dijalankan lagi oleh orang Katolik zaman sekarang, sekalipun Gereja masih mengajarkan puasa dan doa.

Kekuatan puasa dan doa itu sangat dirasakan kala melihat Mbak Mitro mampu menghadapi segala cobaan di dunia. Mbah Mitro hidup sebatang kara, namun kesendirian itu bukan menjadi sebuah ajang untuk menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, kesendirian itu digunakan sebagai sarana mendekatkan diri dengan Tuhan seraya berdoa dan berpuasa. Saat itu, banyak orang datang kepada Mbah Mitro meminta petuah, bahkan minta doa supaya dijauhkan dari godaan setan. Orang-orang meyakini bahwa Mbah Mitro mempunyai kekuatan supranatural yang mampu menghalau setan. Beliau sendiri tidak pernah mengatakan itu, tetapi orang-orang mengenal bahwa beliau orang yang mempunyai kekuatan spiritual yang luar biasa.

Saat masih Mbah Mitro masih hidup, Paijo pun sering mengunjungi Mbah Mitro untuk minta doa dan wejangan. Perkataan beliau selalu menjadi panutan untuk dijalani. Kini semua itu tinggal kenangan sehingga sang guru iman itu telah kembali kepada pangkuan Allah yang mahakuasa. Pengalaman hidupnya diserap oleh Paijo semampunya. Dalam hal ini, Paijo patut bersyukur mewarisi nilai-nilai iman dari Mbah Mitro. Menjelang Rabu abu, saat umat Katolik mengawali retret Agung, Paijo berkunjung ke makam Mbah Mitro sekaligus nyekar sebelum menjalani masa puasa. Paijo pergi membawa bunga mawar kesayangan Mbah. Mawar merah merekah ditanam di samping pagar dekat rumah. Itu persembahan Paijo seraya berdoa untuk kedamaian arwahnya.

Pagi itu Paijo bergegas ke makam dengan membawa setangkai mawar. Makam itu tidak jauh dari rumahnya. Jadi perjalanan dari rumah cukup ditempuh dengan jalan kaki.  Sesampainya di makam, Paijo berdoa dan menaruh bunga mawar itu di pusara. Sebuah kerinduan seseorang terhadap sang guru kehidupan. Ia cepat pergi meninggalkan dunia, namun ajaran imannya tetap hidup. Setidaknya, Mbah Mitro menanamkan nilai-nilai kekatolikan yang tidak banyak orang ketahui. Puasa, mati raga, doa, dan amal adalah nilai-nilai yang selalu ditanamkan kepada saya. Di makam itu, Paijo berdoa begitu khusyuk dalam keheningan. Dalam doa itu,  Paijo seakan memutar kehidupan masa lalu dengan bercakap-cakap seperti masih hidup.

Jo, Paijo,” panggil Mbah Mitro dengan lembut.

Iya, Mbah,” jawab Paijo singkat

Jo, Paijo. Kita sebagai orang Katolik harus selalu mengingatkan bahwa puasa dan berdoa itu menjadi kekuatan iman. Doa dan puasa itu mempunyai daya menghalau setan. Kedua kekuatan itu senantiasa harus selalu dijalankan,” jelas Mbah Mitro dengan suara yang sangat meneduhkan.

Iya, Mbah, saya akan mencoba menjalani itu,” sahut Paijo.

Jo, Paijo. Sebenarnya Puasa itu tidak hanya pada saat masa puasa sebelum paskah. Gereja telah mengajarkan melalui Para Rasul di dalam ‘Didache’ hendaklah kita itu puasa setiap Rabu dan Jumat. Sementara Rabu abu dan Jumat Agung seturut ajaran Kitab Hukum Kanonik 1251, kita wajib puasa. Jadi jelas betapa Gereja memberikan kesempatan kepada setiap manusia untuk itu,” seru Mbah Mitro.

Mbah Mitro, Iya. Paijo masih ingat. Paijo akan mencoba semampunya untuk menjalankan ajaran Gereja itu. Saya sering melihat bahwa banyak orang Katolik lupa atau belum tahun ajaran ini. Saya sering mencoba mendiskusikan hal itu, tetapi mereka juga malah sering mencibirkan ajaran ini. Mereka mempunyai banyak alasan, salah satunya mengutip Injil Lukas  ‘5:34 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?” jawab Paijo.

Betul, Jo Paijo. Banyak orang mempunyai argumentasi sendiri-sendiri. Kita tidak boleh memaksakan karena semua mempunyai cara memilih untuk menjalani atau tidak. Jadi Paijo tidak usah merasa bersalah jika sering disindir, terkait puasa itu. Justru dengan cibiran itu menunjukkan cara beriman sesuai ajaran Katolik mendapat perhatian. Kalaupun ada orang yang tidak menjalankan puasa, itu putusan hati nurani mereka. Kita tidak boleh mengadili dan merasa lebih baik dan benar. Beriman itu soal cara orang menghayati apa yang yakini. Sekalipun Gereja memberikan ajaran, tetapi setiap orang beriman mempunyai pilihan sendiri untuk menjalankan,”jawab Mbah Mitro.

Iya, Mbah, saya setuju untuk tetap menjalankan cara ini, sekalipun kadang banyak tantangan, termasuk lupa berpuasa juga, heeee,” kata Paijo.

Jo, Paijo. Kini saatnya kita mengingatkan kembali ajaran berpuasa itu, Kamu harus menjalani tanpa harus berargumentasi ada mempelai atau tidak. Artinya, tetaplah berpuasa sekalipun banyak tantangan yang menghambat laku tapa kita ini. Kini saatnya masuk Rabu Abu saat manusia harus menyadari akan dosa dan kelemahan kita. Mari kita tandai dengan berdoa dan berpuasa dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan, yakni berbuat baik kepada sesama. Jangan memaksakan orang lain, tetapi berilah contoh menjalani hidup sebagai orang Katolik yang baik dengan berdoa, berpuasa, dan amal. Jika semua itu kita jalankan dengan suka cita maka Tuhan akan selalu memberi kekuatan, termasuk menghalau setan yang selalu membelokan arah hidup kita,” nasehat Mbah Mitro seraya tersenyum lembut.

Iya Mbah, saya akan jalani petuahnya,” seru Paijo.

Ingat ya Jo, Paijo. Setan akan selalu mencari kelengahan manusia. Yesus pun juga digoda saat menjalani puasa. Semua itu bisa dihalau ketika kita tetap berpegang pada iman akan Yesus. Hidup iman kita semakin kuat jika berdoa dan berpuasa dijalankan dengan sukacita. Selamat Puasa dan berdoa ya Jo, Paijo,” seru Mbah Mitro seraya mengakhiri nasehatnya dalam keheningan doa Paijo.

Duar, Duar,”  Paijo melompat kaget  mendengar suara petir yang keras. Ucapan Mbah Mitro itu mengakhiri keheningan doa Paijo di makam itu  bersamaan suara petir itu mengagetkan. Paijo pun lalu berdiri sambil tersenyum karena Paijo jatuh dari pelataran makam. Ia pun lalu pamitan pulang karena hujan akan tiba.

Joooo, Paijo, jangan lupa puasa dan berdoa ya, Rabu Abu telah tiba,” seru Paijo dalam hati seraya meninggalkan makam Mbah Mitro.

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top