Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Ikhlas

Ikhlas

Orang banyak bertanya kepadanya: “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” 3:11 Jawabnya: “Barang siapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barang siapa mempunyai makanan, hendaklah ia perbuat juga demikian.” 3:12 Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?” 3:13 Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” 3:14 Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”

Lukas 3:10

Hidup manusia selalu berinteraksi satu dengan yang lain, baik dengan manusia maupun alam semesta. Interaksi satu dengan lainnya itu ikut mewarnai setiap individu dalamnya. Hal ini ingin memberikan sebuah gambaran bahwa relasi itu merupakan jaring-jaring kehidupan. Mereka saling memberi dan menerima. Keduanya mesti seimbang agar setiap individu mampu mengembangkan diri bersama sekelilingnya. Demikian pesona hidup di kampung seperti itu, alam yang memanjakan manusia akan selalu memberikan sumber kehidupan yang melimpah bagi setiap makhluk hidup, selagi manusia juga mau merawat bumi ini. 

Sebaliknya alam akan mengancam kehidupan manusia manalaka dirusak tanpa ampun. Munculnya bencana itu bukan karena Allah murka, karena manusia merusak alam itu sendiri. Maka jaring-jaring kehidupan itu harus seimbang dan selaras. Manusia tidak boleh rakus ataupun tamak, sebaliknya manusia harus ikhlas menerima setiap rejeki dan anugerah dari Allah.

Pagi itu Paijo sendirian berkebun untuk mengurus tanaman yang ada di samping rumah. Hujan masih sering turun menguntungkan Paijo untuk bercocok tanam. Air yang cukup di musim penghujan itu  sangat dibutuhkan sayur-sayuran dan Paijo pun mencoba menambah kesibukan dengan berternak lele. Ia memanfaatkan air hujan yang berlimpah itu dengan menampung di sebuah terpal besar dibuat seperti kolam. Paijo kini tidak lagi berfokus pada kambing saja, melainkan mengusahakan tanahnya secara maksimal demi menyambung hidup. Kotoran kambing-kambingnya bisa digunakan untuk memupuk tanaman dan sisa-sisa makanan apa saja diberikan lele yang dipeliharanya. 

Kesibukan Paijo itu mengisi waktu semenjak ditinggal Simbok. Hidup sendiri mesti harus berjuang lebih baik agar bisa berkembang. Paijo tidak lagi bersama  Simbok, ia harus memulai semuanya sendiri. Kesendirian bukan sebuah masalah, melainkan sebuah anugerah yang tetap disyukuri. Sepetak kebun kecil dan kambing-kambing pun masih bisa menyambung hidupnya selama di kampung itu. Setidaknya, kebun telah memberikan kehidupan bagi Paijo.

Pagi itu mendung, Paijo tetap berkebun melihat tanaman sekaligus mengambil beberapa sayur yang bisa dimakan untuk hari ini. Paijo mengurus semua itu dengan semangat. Keringat pun mulai mengalir dan sesekali Paijo menghela napas panjang seraya berhenti sejenak. Saat Paijo berkebun dilihatnya pohon pisang yang sudah mulai tua, terlihat ada beberapa biji telah dimakan kelelawar. Ini pertanda bahwa pisang itu sudah siap di panen. “Puji Tuhan,” seru Paijo melihat kebunnya ada pisang yang siap dipanen.

Kelelawar pun ikut ambil bagian menikmati hasil kebun itu sekalipun tidak menanam. Kelelawar ini juga sering kali membantu para petani untuk menyebarkan biji-bijian buah yang dibawa ke mana-mana. Sehingga sering kali tumbuh pohon buah-buahan yang tidak tertanam oleh manusia. Kelelawar juga berhak memakan buah yang dirasanya cukup dimakan. Semua itu adalah keseimbangan alam yang saling memberi dan menerima.

Pisang sudah ditebang dan daunnya pun bisa diberikan pada kambing yang dari tadi terdengar mengembik minta makan. Sekali lagi itulah ketergantungan satu dengan yang lain saling terpenuhi. Saat Paijo sedang membereskan pisang yang baru ditebang, tiba-tiba ada orang yang memanggilnya. Dia adalah pedagang buah yang sering berkeliling mencari pisang. Maka terjadi transaksi untuk itu. Paijo pun dapat berkat dari pisang itu sehingga uang dapat digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari dalam  seminggu ini.

         “Matur nuwun pak,” seru Paijo dengan logat Jawanya.

Paijo harus mengikhlaskan pisang itu, agar bisa memberi beras atau makanan yang diperlukan. Keikhlasan itu wujud syukur manusia dalam menerima berkat dari Allah melalui siapa saja, termasuk melalui alam. Keikhlasan itu sebuah kunci bagaimana rahmat akan selalu mengalir, sekalipun kadang manusia tidak tahu dari mana munculnya berkat itu. Tidak beberapa lama, tetangga datang minta sayur kenikir yang tumbuh di kebun itu. Paijo pun mempersilakan ambil. Demikian juga, Paijo menawarkan sayur bayam atau kangkung kepada tetangga itu. Mereka pun dengan senang hati menerima tawaran Paijo.

         “Jo, Paijo, terima kasih ya,” seru tetangga selepas memetik sayuran di kebun.

         “Sama-sama bu,” sahut Paijo dengan tersenyum.

Inilah nilai keikhlasan bahwa sayur-sayur itu tidak akan habis dimakan Paijo sendiri, maka Paijo bisa ambil secukupnya saja. Keikhlasan itu bukan berarti mengkhawatirkan apa yang nanti akan dimakan jika setiap orang meminta kita. Doa Bapa Kami mengajarkan kepada kita, ”berilah kami rejeki pada hari ini”. Artinya kita tidak perlu khawatir untuk kehidupan, alam masih menyediakan semua itu dengan luar biasa. Asalkan manusia juga selaras dengan alam dan rela memberikan kepada orang yang membutuhkan. 

Setiap orang memberi, manusia akan menerima demikian juga sebaliknya. Paijo merasa senang dan ikhlas apa yang ditanam dan dikerjakan, berguna bagi banyak orang. Inilah sabda Yesus untuk hiduplah dengan gajimu, artinya hiduplah dengan apa yang kamu kerjakan di kebun itu. Kebun itu adalah ruang hidup yang memberikan berkat kepada manusia. Hendaklah manusia selalu bersyukur dan ikhlas untuk berbagi kepada semua orang.

         “Krinngggg, kringgggg, kringggg,” terdengar sebuah bel sepeda di depan rumah.

         “Permisi, Permisi,” seru seseorang berseru dari depan rumah.

         Paijo pun bergegas meninggalkan kebun dan segera menemui tamu.

         “Maaaf, apa ini rumah Pak Paijo,” seru lelaki setengah baya itu.

         “Iya, pak, saya sendiri,” seru Paijo

         “Maaf ini ada kiriman dari luar kota,” seru bapak pengantar bingkisan itu.

         “Dari siapa Pak?” tanya Paijo

         “Wahhhh, namanya hanya pakai inisial saja, jadi saya kurang tahu,” seru bapak itu.

         “Baiklah pak, terima kasih,” seru Paijo

         “Sama-sama. Saya permisi dulu,” sahut bapak pengantar paket itu.

         “Wahhhhhh, ini kiriman dari siapa ya,” seru Paijo dalam hati seraya penasaran. Segera Paijo membawa ke rumah dan membuka bingkisan itu. Ternyata sebuah makanan kering dan sembako yang dikirim dari teman lamanya yang telah sukses di kota. Siapa lagi kalau bukan Menik dan Yanti. Muka Paijo pun bersinar-sinar antara bahagia dan rindu. Di dalamnya ada tulisan yang berbunyi, “Happy Valentine, Paijo”. Paijo pun tersipu-sipu seraya membaca berulang-ulang. Senyum Paijo itu memberikan semangat hidup di bulan bulan Valentine yang penuh kasih sayang itu.

         “Inilah makna keikhlasan apa yang diberikan akan kembali lagi dengan cara yang berbeda,” seru Paijo dalam hati.

         “Terima kasih Tuhan atas rahmatMu itu pada hari ini,” doa Paijo dalam hati.

         Mari kita ikhlas dalam berkarya dan mengulurkan tangan kepada sesama.

         “Embeeekkkkkkk, embeeekkkkk, Paijooooo aku belum dikasih makan,” demikian kiranya kambing itu protes karena kebahagiaan Paijo melupakan kambing-kambingnya yang telah menyuburkan tanah kebun-nya.

         “Heeeeee, Siappppp mbekkkkkk,” seru paijo seraya memebrikan makan kepada kambing-kambingnya.

         “Mbekkkkkk, mbekkkkk, met Valentine Paijo,” demikian kambing-kambing itu bahagia menyambut Paijo memberi makan.Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top