Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Mater Dei

Mater Dei

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Lukas 1:38

Suasana pagi ini cerah, matahari bersinar, dan burung-burung pun berkicau menghiasi kampung halaman. Tanaman padi menghijau terhampar dan memanjakan mata untuk memandang. Embun pagi pun terlihat di rerumputan pematang sawah menghiasi alam yang indah. Pesona pemandangan  itu menghiasi kampung di penghujung tahun ini. Pandemi masih mengintip kehidupan manusia tidak melunturkan pesona alam pedesaan ini. 

Pada masa sulit ini, orang-orang tetap menantikan pergantian tahun dengan penuh harapan. Tahun Baru harus mematik pencerahan baru dalam segala sendi kehidupan yang tergerus oleh pandemi. Kegalauan, kesedihan, dan kekalutan terhalau oleh harapan. Harapan ini menggugah setiap orang untuk bangkit dan bergembira. Kegembiraan ini diupayakan oleh setiap orang seraya bersyukur atas waktu-waktu yang dilalui selama tahun ini. Manusia berharap agar Tahun Baru membawa berkat dan manusia dijauhkan dari segala bencana. Kedamaian, kerukunan, dan kenyamanan menjadi dambaan yang diuntai dalam doa-doa.

Suasana kampung tentu tidak bisa disamakan dengan suasana kota yang bertebaran pesta kembang api. Kegembiraan Tahun Baru di kampung dipenuhi dengan suasana tirakatan, yakni menanti pergantian tahun dengan doa dan syukuran. Orang-orang mencoba meneliti batin bersama apa yang kurang pada tahun yang akan ditinggalkan dan menatap Tahun Baru dengan suasana baru. Semua itu adalah sarana bagaimana manusia mempunyai cara untuk menatap masa depan.

Pagi itu  Paijo, Paimin, dan Parman berbincang-bincang untuk menghabiskan malam Tahun Baru. Suasana ini sudah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat Simbok masih ada, sebab mereka bertiga  harus mempersiapkan keperluannya sendiri. Makanan dan minuman ala kadarnya disiapkan sebagai sarana berkumpul seraya menanti pergantian waktu. Tindakan sederhana, tetapi membuat bahagia.

Sejak pagi, mereka bertiga sibuk mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk menyambut tahun baru. Makanan ala Simbok dihadirkan kembali, sekaligus mengingat petuah yang sering Simbok berikan. Teh atau wedang jahe ala kampung itu telah menjadi sajian pokok kala menatap pergantian tahun. Malam Tahun Baru yang penuh syukur saat kebon juga panen singkong dan pisang. Hasil kebun menjadi jamuan malam seraya merayakan tahun baru.

Semua persiapan telah selesai untuk acara menyambut pergantian Tahun Baru dengan sederhana. Mengingat pandemi belum begitu membaik, Paijo, Paimin, dan Parman memilih menghabiskan waktu di rumah Paijo seraya makan rebusan hasil kebun. Pesta kecil ini mengingatkan rasa syukur atas karunia kehidupan yang mereka terima. Intinya mereka berkumpul dan memberikan penguatan satu dengan yang lain.

             “Min, Paimin. Air jahenya sudah matang?” tanya Paijo 

            “Siap, sebentar lagi, nunggu air sampai mendidih,” jawab Paimin. 

Selang beberapa waktu semua keperluan untuk acara Tahun Baru telah siap. Mereka bertiga mempersiapkan semuanya di depan rumah. Semua menu rebusan dan minuman jahe hangat menemani mereka berbincang-bincang seraya bercanda bersama. Cerita-cerita lucu masa lalu ibarat kaleidoskop yang diputar ulang melalui percakapan itu.

Silih berganti mereka bertiga bercerita dari pengalaman konyol selama tahun ini. Bahkan pengalaman yang lucu tahun sebelumnya pun ikut diungkit kembali. Semua itu sekadar menggugah rasa kebahagiaan menyambut Tahun Baru. Ketawa silih berganti terus berlangsung seraya minum jahe dan rebus-rebusan hasil kebun. 

            “Parman dan Paimin. Ya dalam kegembiraan malam tahun baru, kita meninggalkan sebuah kesedihan saat Simbok tidak hadir di tengah-tengah kita,” seru Paijo mengawali pembicaraan sedikit agak serius.

             “Iya Jo, Paijo, ini tahun pertama tahun baru tanpa Simbok di sekitar kita,” seru Paimin dan Parman serentak.

          “Jo, Paijo. Kegembiraan dan kesedihan itu memang ibarat sebuah permainan, keduannya silih berganti hadir, kadang tanpa kita rencanakan. Jadi kita hanya bisa menjalani,” kata Parman menambah sharing malam itu seraya menenggak air jahe.

             “Iya, betul, kita semua ini hanya bisa menjalani semua itu,” seru Paijo.

           “Paimin, Parman. Gereja Katolik itu setiap 1 Januari memperingati Hari Raya Mater Dei, Bunda Allah. Maria menjadi tokoh hidup bagi kaum beriman. Dalam suka dan duka Maria tidak meninggalkan Yesus sendiri. Saat Maria menerima kabar dari Malaikat Tuhan, Maria mengalami kebimbangan, namun Malaikat menguatkannya. Sementara itu, saat Maria mempersembahkan diri, Yesus pun tetap tinggal di Bait Allah, hingga Maria dan Yosef kembali untuk mencari. Pada puncaknya Maria harus menerima jenazah Yesus setelah turun dari kayu salib. Sebuah penderitaan yang tidak terkira dan itu telah dinyatakan oleh Simeon saat menatang Yesus di bait Allah,” jelas Paijo memberikan sedikit sharing rohani.

            “Jo Paijo, benar. Penderitaan kita ini tidak sebanding dengan Bunda Maria. Namun setidaknya kita bisa belajar dari Simbok, sekalipun hidup dengan serba kekurangan tidak pernah mengeluh,” tegas Paimin memberi kesaksian.

             “Iyyyyaaaaa, setuju,” sahut Parman.

           “Parman, Paimin, terima kasih. Kalian telah menguatkan saya,” seru Paijo.

       “Jo, Paijo dan Paimin. Setiap orang dilahirkan oleh seorang ibu. Maka sudah sepatutnya kita bersyukur atas kebaikan seorang ibu yang telah berkorban untuk anak-anaknya. Maka malam ini kita secara khusus berdoa untuk ibu kita, melalui Bunda Maria yang telah menjadi model kehidupan sebagai seorang ibu,” seru Parman.

           “Iya setuju,” Seru Paijo dan Paimin serentak.

        “Kita nanti berdoa khusus untuk ibu kita, sebelum tahun 2021 lewat. Kita tidak boleh cengeng, apalagi kita adalah laki-laki. Kita harus berani berjuang seperti diteladankan Bunda Maria, Mater Dei. Setidaknya Simbok juga telah mengajarkan bagaimana hidup, sekalipun dengan cara yang sangat sederhana. Simbok mengajarkan kita untuk devosi kepada Bunda Maria agar semangat hidupnya berkembang dalam diri kita,” seru Paijo.

Perbincangan itu makin asyik sekalipun agak serius. Sesekali terdengar suara tertawa, sebagai selingan agar mereka tidak terbawa terus suasana melow. Hidup harus selalu menatap masa depan dan penuh harapan. Maria, Bunda Allah, memberikan contoh menghayati hidup secara total. Keteladanan Maria ini patut ditempatkan pada awal tahun. Bunda telah menjadi figur sebuah kehidupan yang taat kepada Allah, sekalipun harus menderita. 

Semua pengalaman kemanusiaan itu memberikan pembelajaran kepada setiap orang yang percaya. Sepuluh menit menjelang Tahun Baru, Paijo, Parman, dan Paimin berdoa bersama dan memanjatkan syukur. Simbok yang dulu menjadi pengayom, kini telah mendahului dalam keabadian. Mereka pun berdoa khusuk menyambut Tahun Baru itu.

     “Toettttttt Toettttt, Dor, dor,” terdengar suara terompet dan petasan bergelegar. Ini pertanda bahwa tahun telah berganti. Mereka pun kaget sekaligus menyelesaikan doa mereka.

          “Toettttt, Toettttt. Selamat Tahun Baru Paijo, Parman, dan Paiman,” seru Yanti dan Menik seraya memberikan salam. Kedatangan mereka membuat kaget sekaligus gembira di malam Tahun Baru. Lebih gembira lagi mereka datang membawa makanan yang sangat enak, jadi pesta bersama makin semarak. Kini Simbok terlupakan sejenak karena Menik dan Yanti menggantikan posisi.

“Selamat Tahun Baru, mari kita merayakan Bunda Allah sebagai pelindung gereja, agar tahun 2022 selalu mendapat berkat dan kesehatan,” seru Paijo seraya merayakan bersama dengan sahabat-sahabatnya. Mereka pun kini berlima menghabiskan waktu bersama sampai pagi hari. Kini makanan semakin komplit tersaji di malam penuh berkah, sangat Bunda Allah diperingati bersama di awal Tahun baru.

“Jooooooo, Paijo. Gak jadi sedih donk,” seru Menik dan Yanti meledeknya seraya tertawa bersama sambil makan dan minum yang telah ada.

  “Heeeeeee, Joo, Paijo, dasar wong deso,” seru Yanti dan Menik disambut tawa bersama seraya bersyukur di emperan rumah Paijo.

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top