Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > PHDI, UBK Perlu Sentuhan Personal

PHDI, UBK Perlu Sentuhan Personal

[KATEDRAL] Era digital mau semaju apapun tetap tidak bisa menggantikan sentuhan secara personal yang dibutuh oleh UBK. Sinergi antar seksi dan kategorial harus dilakukan, sehingga PHDI tidak hanya sekadar seremonial belaka tapi juga aksi nyata. Demikian dikatakan Michaela Primastuti, salah seorang pengurus Komunitas Disabilitas Paroki MBSB Kota Wisata.

Komunitas Bersama Sahabat Disabilitas (BSD) Paroki BMV Katedral menggelar Peringatan Hari Disabilitas Internasional (PHDI) dalam wujud misa syukur yang dipimpin oleh Pastor Paroki BMV Katedral RD Paulus Haruna. Setelah misa, BSD melanjutkan kegiatan dengan talkshow bertajuk “Peran Gereja dan Komunitas dalam Memberdayakan Penyandang Disabilitas untuk Bertumbuh, Berbuah, dan Berdampak di Tengah Pandemi”. Puluhan aktivis yang peduli terhadap para penyandang disabilitas dan umat berkebutuhan khusus (UBK) memenuhi aula BPK lantai 2 pada (4/12) Siang.

Dalam sambutannya Romo Haruna menyampaikan rasa bahagianya sebagai romo paroki karena dapat turut serta mengikuti acara PHDI bersama kelompok BSD. ”Teman-teman BSD harus bisa menunjukkan jati diri kelompok yang keren dan tidak loyo. Sama seperti injil tadi ketika Tuhan Yesus bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri sehingga mendapat rasa kagum dari banyak orang. Harapannya kelompok ini juga bisa membuat orang-orang disekitarnya kagum melalui karya-karya yang dilakukan,” katanya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan talkshow yang mengundang 3 narasumber yaitu pengurus Komunitas Disabilitas Paroki MBSB Kota Wisata Michaela Primastuti, Direktur Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta Romo Kristiono Puspo SJ, dan Tim Biro UMKM Keuskupan Bogor Leonardus Adityo. Talkshow yang dikemas dengan ringan dan menyenangkan ini dimoderatori oleh Ketua BSD Ignatius Herjanjam.

Michaela Primastuti menyampaikan bahwa Gereja harus menjadi sosok yang mengayomi dan mau mengerti bahwa ada umatnya yang perlu pendampingan khusus.”Gereja harus menyadari bahwa ada UBK memerlukan pendamping agar bisa mengakses berbagai sakramen. Apabila gereja bisa menciptakan lingkungan tersebut maka seluruh komunitas gereja pada akhirnya akan saling bahu membahu untuk menciptakan masyarakat yang inklusi,” ujarnya.

Leonardus Adityo mengajak seluruh kelompok yang mewadahi teman-teman disabilitas harus selalu terbuka. ”Kelompok yang mewadahi teman-teman disabilitas harus selalu terbuka mulai dari segmen paling kecil yaitu keluarga kemudian terus naik ke tingkat lingkungan, wilayah, dan terakhir paroki. Sehingga baik umat maupun teman-teman disabilitas dapat senantiasa bertumbuh bersama secara kreativitas dan daya tahan di tengah pandemi,”tukasnya.

Dalam closing statement Romo Kristiono Puspo SJ mengingatkan agar setiap penggerak kelompok disabilitas memiliki dasar yang kuat dalam berpelayanan. ”Ketika kita peduli terhadap kelompok yang rentan kita harus mencari dasar yang tepat agar tidak terjebak pada pemikiran disabilitas menjadi komunitas dan malah terjadi eksploitasi yang baru. Bersinergilah dengan kelompok-kelompok lain sesuai dengan perannya masing-masing seperti Marta dan Maria,” pungkasnya.

Penulis: Agnes Marilyn | Editor: Aloisius Johnsis

Leave a Reply

Top