Anda di sini
Beranda > Nusantara > Perdana! Komsoser Keuskupan Bogor Gelar Perayaan Hari Komunikasi Sosial ke-56

Perdana! Komsoser Keuskupan Bogor Gelar Perayaan Hari Komunikasi Sosial ke-56

[KATEDRAL] Menyambut perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56 Komsos Keuskupan Bogor bekerja sama dengan Komsos BMV Katedral menggelar misa syukur dan sambung rasa untuk Komsoser se-Keuskupan Bogor. Perayaan ini adalah kegiatan tatap muka perdana bagi Komsoser Keuskupan Bogor setelah pandemi Covid-19 memijakan kakinya di bumi pertiwi. Sederhana, sukacita, dan nuraga (berbagi rasa, red) menjadi tiga kata yang dapat menggambarkan suasana pada Sabtu (28/5) sore.

Sekitar 22 paroki dari total 28 paroki di Keuskupan Bogor mengirimkan perwakilannya, sehingga dapat dipastikan lebih dari 100 komsoser berkumpul memenuhi Gereja BMV Katedral Bogor. Belasan panji memasuki pintu masuk utama gereja menandakan dimulainya misa syukur. Misa dipimpin langsung oleh Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM dengan konselebran Ketua Komisi Komsos Keuskupan Bogor RD Justinus Joned, Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI RD Steven Lalu, Pastor Paroki BMV Katedral Bogor RD Paulus Haruna, Sekretaris Keuskupan Bogor RD Marselinus Wisnu Wardana, dan Tim Komisi Komsos Keuskupan Bogor RD Wolfgang Amadeus Mario Sara.

(kiri-kanan) Pastor Paroki BMV Katedral RD Paulus Haruna, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Bogor RD Yustinus Joned, Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI RD Steven Lalu, dan Uskup Bogor Monsinyur Paskalis Bruno Syukur OFM. Foto: Ignatio Alfonsus Daniputra

Komunikasi Tidak Hanya Sekadar Mendengar Kata

Bapa Uskup dalam homilinya menyampaikan, berkomunikasi bukan sekadar mendengarkan rentetan kata tetapi juga harus mendengar dengan telinga hati yang seirama dengan ajakan Bapa Paus. “Kalau mendengarkan dengan hati kita akan sampai pada keyakinan bahwa Tuhan yang saya imani ada bersama dan menyertai selalu. Melalui perayaan ekaristi keyakinan kita dikuatkan, karena pada saat itu komunikasi antara imam dan umat menjadi persatuan iman akan kehadiran Tuhan yang nyata,” katanya.

Uskup yang sempat viral hingga mendapatkan 1,3 juta views di tiktok @bmv_hits itu turut menyampaikan pentingnya isi dari konten komunikasi yang ada di media sosial. “Kata-kata yang anda sampaikan harus berasal dan sejalan dengan perkataan Tuhan Yesus, sehingga isi dari konten komunikasi kita mestilah konten yang mempersekutu dan membuat seluruh umat bersaudara,” jelasnya.

Setelah misa syukur rangkaian acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan sambung rasa yang bertempat di Aula Paroki. Dekorasi yang didominasi dengan warna coklat pada ruangan dan cahaya kuning gelap tersusun apik nan menarik membangun kesan kekeluargaan yang hangat.

Kegiatan sambung rasa di buka dengan sambutan hangat oleh tuan rumah Romo Haruna. Ia menegaskan, Komsos saat ini perannya sudah bertransformasi sehingga tidak boleh dipandang sebelah mata lagi. “Saya termasuk orang lama di Keuskupan Bogor sehingga melihat betul bahwa dulu Komsos dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Akan tetapi sekarang Komsos sudah bertransformasi perannya menjadi ujung tombak informasi antara gereja dan umatnya. Tidak hanya itu bahkan kini Komsos juga memiliki banyak prestasi melalui lomba-lomba yang diadakan oleh Komsos KWI,” ujarnya.

Romo yang memiliki suara indah itu juga menyampaikan rasa syukur, bangga, dan terima kasih karena dipercaya sebagai tuan rumah di acara perdana menyambut Hari Komsos Sedunia ke-56.

Komsoser se-Keuskupan Bogor di akhir perayaan hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56. Foto: Ignatio Alfonsus Daniputra

Melihat Tantangan Media Pewartaan Masa Kini

Kehadiran Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI bukan tanpa alasan. Ia membawa pesan penting untuk para Komsoser se-Keuskupan Bogor. Setidaknya Romo Steven menyampaikan 5 poin yang harus diketahui dan dimiliki oleh para pegiat Komsos.

“Pertama terima kasih kepada anda semua yang bersedia menjadi komsos dan mau menjalankan tanggung jawab sebagai orang beriman. Zaman sekarang segala sesuatu ditentukan oleh media, apabila ada suatu kejadian tapi tidak ada media yang memberitakan maka orang-orang pasti tidak tahu. Oleh sebab itu apabila pesan kebaikan Tuhan tidak muncul di media bagaimana orang-orang bisa tau?” tanyanya mengajak para komsoser berefleksi.

Lebih lanjut ia berpesan, “kedua diperlukan komitmen karena paling mudah membentuk tim tapi sulit untuk mempertahankannya. Ketiga kerja sama, sebagai anggota Komsos kerja sama dan komitmen merupakan dua hal yang harus dimiliki dan dijalani agar konsisten karya-karya yang dihasilkan. Keempat teruslah belajar seorang Komsos tidak boleh sombong karena teknologi terus berkembang dengan cepat. Terakhir, kelima selamat berkarya di paroki masing-masing,” ujarnya dengan penuh semangat.

Tantangan media pewartaan masa kini juga dilihat penting oleh Ketua Komsos BMV Katedral Aloisius Johnsis. “Teman-teman, kita tidak dapat berjalan sendirian, karena pada akhirnya akan lelah juga. Bisa tidak kita jalan sendiri? Bisa, tapi saya pastikan hanya sebentar. Kalau mau berjalan jauh kita harus menjalaninya bersama-sama, baik itu dalam satu paroki, satu keuskupan, maupun dalam komunitas komsos sedunia,” tuturnya.

Pada kesempatan itu juga Johnsis mengajak seluruh anggota Komsos Katedral untuk berdiri dan memberikan tepuk tangan kepada Komsoser se-Keuskupan Bogor. “Kenapa saya meminta teman-teman Katedral memberikan tepuk tangan? Karena saya yakin teman-teman di paroki jauh lebih hebat dari kami di Katedral. Kami diuntungkan dengan posisi sentral dan memiliki banyak kemudahan. Akan tetapi teman-teman di paroki dengan banyak keterbatasan masih mau berjuang berkarya bagi umat sepenuh hati, itu adalah hal yang luar biasa,” pungkas laki-laki berusia 27 tahun itu.

Komsos Sebagai Teman Seperjalanan Umat

“Komsoser Keuskupan Bogor jangan pernah menganggap paroki kita lebih penting dari paroki lainnya, karena pada dasarnya kita ada sebagai media untuk pewartaan. Kita semua harus membawakan Komsos sebagai teman seperjalanan bagi umat,” jelas Romo Joned.

Romo Komsos Keuskupan Bogor menyampaikan kebahagiaannya karena boleh diberikan kesempatan untuk berkumpul kembali secara tatap muka untuk melangsungkan kegiatan sambung rasa.

Waktu terasa bergulir dengan cepat karena dapat berkumpul dengan teman-teman sejawat, acara ditutup dengan foto dan doa bersama. Selamat melanjutkan karya-karya di paroki masing-masing demi kemuliaanNya. Tetap semangat dan senantiasa melihat dengan hati dan mendengar dengan telinga hati agar dapat berkarya sepenuh hati.

Sampai jumpa tahun depan di Paroki Santa Maria Fatima Sentul City!

Penulis: Agnes Marilyn | Editor: Luki Karim

Leave a Reply

Top