Monsinyur Paskalis Pulang ke ‘Rumah’ dengan Sukacita Nusantara Sajian Utama 7 February, 20267 February, 2026 [JAKARTA] Setelah mengundurkan diri dari jabatan Uskup Bogor pada 19 Januari 2026 lalu, Monsinyur Paskalis pamit dari kompleks Gereja Katedral Bogor menuju rumah persaudaraan OFM di Kramat, Jakarta, Sabtu (7/2) pagi. Ketika masih di Kompleks Katedral, Monsinyur Paskalis masih menyempatkan diri bertemu dan berfoto dengan beberapa umat sekaligus berpamitan. Perjalanan cukup lancar, hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam saja. Sesampainya di Provinsialat OFM Jakarta, Uskup Paskalis disambut dalam budaya Manggarai-Flores melalui torok/kepok curu dan pemberian tuak kapu. Ia juga diberikan peci dan pengalungan selendang khas daerah Manggarai oleh Provinsial OFM Indonesia RP Agustinus Laurentius Nggame OFM dan Wakil Provinsial RP Hieronimus Dei Rupa OFM. Bermisi di Bogor Pater Provinsial menyambut Uskup Paskalis dengan sukacita sebagai seorang saudara yang telah selesai menjalankan misi. “Kami bahagia menyambut Monsinyur Paskalis yang telah menjadi misionaris Fransiskan di Keuskupan Bogor. Kami menerima Bapa Uskup kembali ke rumah persaudaraan OFM dengan penuh sukacita,” ujar Pater Gusti di teras Provinsialat OFM. Acara penyambutan dilanjutkan dengan ibadat singkat. Pada bagian refleksi Pater Gusti kembali mengangkat Monsinyur Paskalis yang telah sungguh-sungguh melayani sebagai bentuk karya Allah. “Kita mungkin berpikir tokoh sentral hari ini adalah Monsinyur Paskalis. Namun, kalau ditanyakan kepada Bapa Uskup, saya yakin jawaban dari tokoh sentral hari ini adalah Tuhan sendiri,” katanya. Setelah ibadat, para Fransiskan berdiri mengelilingi Monsinyur Paskalis untuk memberikan berkat Bapa Fransiskus dengan penumpangan tangan dan nyanyian yang khidmat. Monsinyur Paskalis menerima berkat Bapa Fransiskus dari persaudaraan OFM Indonesia. Foto: Luki Karim. Menerima dengan Tangan Terbuka Dalam sapaannya kepada para saudara dan umat yang hadir, Monsinyur Paskalis mengucapkan terima kasih yang mendalam karena masih mau berjalan bersama sampai dengan saat ini. “Saya sangat berterima kasih kepada para saudara yang masih mau menerima saya dengan apa adanya di segala situasi dan kondisi yang mungkin tidak baik-baik saja,” paparnya. Ia juga menegaskan kembali bahwa ini adalah rencana Tuhan yang sedang merajut kehendakNya. “Memang Tuhan sedang merajut kehendakNya untuk saya. Saya tidak merasa sendiri dalam segala situasi hidup ini. Spiritualitas Santo Fransiskus Asisi menjadi inspirasi dan kekuatan untuk memaknai setiap peristiwa dalam hidup ini,” pungkas Uskup Paskalis. Terakhir, Monsinyur Paskalis mengajak semua yang hadir untuk terus berbuat baik. Karena memang banyak orang baik, pun ada yang jahat, tapi yang baik lebih banyak. Selamat pulang ke rumah Uskup Paskalis, terima kasih untuk 12 tahun penggembalaan di Keuskupan Bogor. Selamat melanjutkan karya Allah! Penulis: Aloisius Johnsis | Editor: Luki Karim
Itu sih bukan saling menjatuhkan tapi membuat dirinya ini jatuh sendiri. Sejatinya seorg Gembala itu bijak dlm karya, tp bpk uskup satu ini ngeriii cara kerjanya. Sebaiknya anda jgn hanya baca di media, tp cobalah dengarkan bgmn org2 terdampak mengalami situasi ‘korban’. Ini yg tidak pernah muncul, krn para ‘korban’ ini tahu Diri bgmn menjaga nama baik sang Gembala.
Terimakasih atas informasi dan penjelasanya semoga bermanfaat dan selamat juga buat semuanya semoga berbahagia sehat slalu sukses dan berhasil
Welcome home monsinyur…. Berkarya dimana saja sesuai ajaran2 Nya tanpa harus dengan jabatan…yg penting hasilnya TUHAN memberkati amin Reply
Primordialisme itu, diduga kuat, entah sadar atau tdk sadar, oleh pimpinan Gereja. Dari informasi yg beredar di kalangan umat di Jkt, “mereka” belum bisa terima pejabat tinggi Gereja selevel Cardinal hrs berasal dari pulau kecil dan Udik seprt Flores. Sama seperti imam Agung Yerusalem tak Terima Mesias(Yesus) lahir di kampung udik Nazareth. Slama ini Kardinal pertama Indonesia Darmojuwono – Jowo, Leo Sukoto Jowo, Suharyo Jowo. Masak skrg org udik Flores hrs Kardinal. Kalau ini benar, maka sikap itu Sgt primordial, sgt tdk injil dsn munafik. Reply
S7 pendapat anda, MPFrangklin, yang layak jadi kardinal harus orang Jawa..bukan suku lain. Hmm politik sudah masuk dalam dunia gereja…sedih sekali dengan kisah di abad ini …ya sangat primordial tidak injil
Saya menghormati Bapak Uskup Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM. Beliau seorang Mgr yg sederhana, rendah hati, sabar, bijaksana dan mengerti keperluan umatnya. Semoga Bp Mgr diberi kesehatan, kekuatan dan sukacita selalu.
Jangan ngarang kalo tdk tahu persis masalahnya dan hanya tahu dari katanya katanya ….. Lebih baik diam drpd bikin tambah keruh situasi dan mari kita doakan pd Tuhan agar persatuan dalam Gereja Katolik tetap terjaga….. Kebenaran akan menemukan jalannya seiring berjalannya waktu …..
Org org udik Flores ini memang tak tau diri. Jgn bilang primordialisme, memang tdk baik mengandalkan kesukuan dlm gereja tapi kalian itu sangking banyaknya yg jadi pelayan gereja merasa gereja itu jadi milik kalian, budaya kalian yg nota bene sgt keras dan nir tepo seliro. Reply
Saudaraku nobody. Ini sudah mulai SARA ya. Setiap suku punya budaya dan karakternya sendiri. Untuk orang Flores dan Batak, budaya kalian jawa yang tak jalas ya dan tidak itu juga bisa dinilai jelek. Halus tapi kejam, bisa tikam orang dari belakang tu.
Kok jadi begitu sih komen nya… Emang tadinya uskup Paskalis mau jadi Kardinal? Yg memilih kardinal itu kan Bapa Suci Leo sekarang dr Vatican… Mana bisa di intervensi siapa pun…. Jadi kita ini sebagai umat jangan menebar hoaxxxx lah… Reply
Tetap Semangat Dalam Penggembalaan. Tidak toleh kirikanan belakang .Maju Bersama UMAT masih banyak mendukung..BERKAH DALEM YESUS. Reply
Diomongin MPFranklin ada indikasi kebenarannya. Yang tidak terima Uskup dari pulau udik tidak semua umat Jawa. Umat sih tak masalah. Mau gembalanya dari mana saja tak masalah. Tapi yang masalah itu sesama petinggi Gereja yang tak inggin saudaranya dari tempat udik jadi petinggi Indonesia. Masak disuruh tanda tangan surat undur dari calon Kardinal dengan membersar-besarkan masalah Rumah Sakit Lebak dan urus pedo filia oleh satu orang anggota Gereja. Kedua hal itu tidak cukup menjadi alasan bhw tak layak jadi Cardinal. Semua masalah itu obok-obok di medsos, etc. Buntutnya, Uskup Paskalis sampai tidak bisa dapat visa ke Itali untuk buat klarifikasi semua tuduhan ini. Sampai ia ke Roma dengan menggunakan visa Perancis dulu, baru dari Perancis ke Italia (Schengen). Padahal permintaan visa ke Italia itu, suster aja, romo aja, asalkan sudah ada surat Keterangan dari Uskup asal dan lembaga Gereja yang mengundangnya di Italia, lancar banget, Masak uskup tidak diberi kecuali ada sesuatu yang sangat luar biasa. Apa yang luar biasa terjadi pada uskup ini di kedutaan Italia di Jakarta? Tak ada. Uskup Paskali tidak diberi visa oleh Kedutaan Italia di Jakarta hanya mungkin terjadi karena invenesi orang gede yaitu Nuncio di Jakarta dan tentu dia ia karena dipengeruhi petinggi KWI yang primordial itu: tak ingin saudara mereka dari udik Flores jadi Kardina. Ini sangat tidak injili. Harus bertobat. Reply
Jika demikian Gereja Katolik di Politisasi maka indonesia Timur Kepulauan Maluku & Papua Harus Keluar dari KWI lalu Masuk Wilayah Pasifik.
Jika demikian Gereja Katolik di Politisasi maka indonesia Timur Kepulauan Maluku & Papua Harus Keluar dari KWI lalu Masuk Wilayah Pasifik.
Semuanya interpretasi tentang masalah ini harus bertolak dari kehendak Allah yang Maha Besar. Hanya dengan berasaskan prinsip ini, bisa membawa ketenangan dan kedamaian hati. Kalau tidak mak ruang publik ini menjadi sasaran pelampiasan kekecewaan sesuai dengan rasa dan perasaan promordial kita masing masing. Saya kira moto kepemimoinan Romo Uskup emeritus harus menjadi arah interpretasi kita sebagai orang beriman. Una Santa Catolica dan APOSTILICA. MARI KITA BERDOA BA GEREJA KITA. Reply
Ya ampun… Sudahlah..Jabatan tidak membawa apapun.. Segala kehendak Tuhan akan terjadi.. Berkat melimpah untuk Bapa Uskup bersama komunitas OFM. Salam dari NTT. Reply
Sikap mundur diri dari uskup Mgr. Paskalis Bruno Syukur adalah suatu sikap amat bijaksana. Daripada timbul pergolakan politik batin dan rohani di keuskupan Bogor. Dengan adanya isu-isu liar yang tak bisa dikendalikan lewat sosmed dan media lainnya, sangat bijak dan elegan Mgr. paskalis undur diri dan kembali ke rumah induk Fransiskan di Jakarta. Reply
Uskup paskalis sangat baik dalam pelayanan dan beliau rendah hati dan sangat ramah.Cocok jadi cardinal,tapi atas gejolak yg terjadi Beliau memutuskan mengundurkan diri sangat bijaksana Semoga beliau sehat selalu.Cara kepemimpinan orang Flores dan Batak hampir sama tegas dan tak takut resiko. Reply
Saya sangat kaget membaca infornasi ini, saya berasal paroki kecil di ujung timur pulau Jawa. Ada dua perasaan dalam diri saya yaitu kecewa karena saya kehilangan satu cardinal lagi dan perlu diingat tidak semua negara memiliki lebih 1 cardinal dan saya yakin Bapa Paus tidak salah memilihnya dan rasa bahagia karena Mgr Paskalis tetap memilih mengikuti jalur Frandiscan..mirip perjalanan Santo Fransiskus dari Asisi. Terima kasih atas penggembalaan umat di Keuskupan Bogor AMDG Reply
Pastor paskalis syukur adalah pastor paroki moanemani, kabupaten dogiyai, provinsi papua tengah. Kami umat sangat mengasihi beliau. Namun beliau pergi lanjutkan study S2 di roma. Foto beliau di depan basili vatikan sempat dikirimi ke sy saat saya di SMA teruna bakti waen di jayapura. Selamat berkarya bpk pastor paskalis, Tuhan menjaga dan melindungi serta diberi panjang umur…. Reply