Ikan Bakar Mutiara Biblika Sajian Utama 9 February, 20269 February, 2026 Yohanes 21:9-13 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Pagi itu Paijo sendirian pergi mengayuh sepeda membawa pancingan. Rasanya sudah lama dia ingin menyalurkan hobi setelah lama dikurung oleh Covid-19. Wabah itu telah menyandera banyak orang sehingga semua kegiatan terbatas. Setiap orang menahan diri untuk tidak bertemu dengan teman-temannya. Setiap orang menjaga diri untuk tidak menjadi bencana bagi sesama. Aktivitas berubah drastis akibat wabah itu. Semua aktivitas menjadi terbatas sehingga manusia semakin terkurung olehnya. Manusia mempunyai ketahanan masing-masing menghadapi serangan wabah yang menggegerkan dunia. Kini wabah itu mulai menghilang dan manusia mulai beraktivitas kembali. Ketakutan tidak lagi menyelimuti orang-orang. Mereka sudah kembali kepada aktivitas semula sekalipun belum sepenuhnya pulih. Sebagian orang merasa nyaman hidup dalam kesendirian, tanpa menghiraukan sesama lagi. Sebagian orang nekat menjalankan aktivitas demi menghidupi diri dan keluarga. Suasana ini mencekam itu masih dirasakan sebagian orang. Wabah itu menjadi alasan pula untuk menghadiri peribadatan yang dilakukan di tempat ibadat. Fasilitas telah membuat kenyaman tersendiri sehingga sebagian orang telah nyaman mengikuti ibadat lewat online. Dalam situasi pro dan kontra itu, banyak orang memberanikan diri tampil di kerumunan. Mereka tentu mempunyai alasan tersendiri mengapa melakukan itu. Demikian juga Paijo pun pergi untuk mencari suasana baru dengan memancing. Mancing adalah hobinya sejak dia masih kecil. Ikan didapatnya tidak seberapa, tetapi Paijo sangat senang menghabiskan waktunya memancing. Paijo sering kali juga tidak mendapatkan hasil pancingan, alias tangan hampa. Ia hanya menggunakan pancingan dengan joran buatan sendiri dari bambu, seutas senar, dan kail. Joran itu telah membuat Paijo senang dengan menghabiskan waktunya. Pagi itu Paijo berangkat dengan mengayuh sepeda ke sungai membawa joran dan cacing sebagai umpan. Sesampainya di sungai, Paijo melihat banyak orang memancing. Mereka adalah orang-orang yang sudah biasa mancing. Hal itu terlihat dari peralatan yang dipakai. Tempat mancing ini seperti sebuah kontestasi yang tidak seimbang. Mereka menggunakan alat-alat pabrikan, sementara Paijo menggunakan pancing buatan sendiri. Paijo merasa minder, tetapi ia tetap memancing di tempat itu. Setiap kali terdengar suara bergembira karena orang menangkap ikan. Paijo hanya bisa menengok mereka seraya cengar cengir. Hari itu bukan menjadi keberuntungannya. Paijo tidak menangkap seekor ikan. Sementara orang-orang mendapatkan ikan sangat banyak. Paijo memutuskan untuk menghentikan mancingnya. Ia pun pulang dengan tangan hampa. Lapar dan haus pasti dirasakan, tetapi Paijo menahannya. Sepeda tua itu pun dikayuh dengan pelan-pelan menuju rumah. Onthel tua itu kayuh dengan agak berat karena Paijo menahan lapar dan haus. Setengah perjalanan waktu mengayuh sepeda, Paijo bertemu nenek Inem yang sudah lama juga tidak bertemu. Nek inem membawa gendongan dari pasar. Paijo pun segera membantu dan menaikkan barang belanjaannya di sepeda onthel. Paijo menuntun sepedanya seraya menemani pulang Nenek Inem sampai di rumahnya. “Nak Paijo, ayo masuk,” seru nenek Inem sesampai di rumah seraya melepas lelah dengan minum air kendi itu. “Nekkkk, saya minta air ya,” seru Paijo yang kehausan. “Iya, silakan,” balas nenek Inem seraya menuju ke dapur. Paijo pun membawa barang belanjaan nenek ke dapur. Sementara Paijo menurunkan barang belanjaan, Nenek Inem telah membuat perapian untuk masak dan merebus air. “Nakkk Paijo, tolong ambilkan belanjaan nenek di tas plastik merah tu. Tadi nenek beli ikan asin, mari kita bakar untuk makan bersama,” seru Nek Inem “Siap nek,” jawab Paijo seraya membantu merebus air seperti biasanya. Tidak lama berlangsung, santapan makan siang tersedia; ikan asin, nasi liwet, sambel tomat, dan mentimun sebagai lalapan. Nenek Inem dan Paijo pun makan berdua sambil berbagi cerita. Di sela-sela makan Nek Inem juga memberikan pisang goreng sisa tadi pagi sebelum pergi ke pasar. “Nakkkk Paijo, lama kita tidak berjumpa. Pertama-tama kita harus bersyukur kepada Tuhan. Badai pandemi dapat kita lalui. Oleh karena itu mari bersyukur,” seru nenek. “Iya nenek, ikan asin bakar ini menjadi tanda kebahagiaan kita setelah sekian lama saya tidak ke rumah nenek. Kebetulan pula saya ingin makan ikan dari pancingan ehhhh, ternyata saya tidak mendapatkan. Tuhan telah mempertemukan lagi agar kita bisa makan ikan bersama, sekalipun ikan asin dengan sambal. Terima kasih ya nenek,” jawab Paijo terharu. “Iya, Nak Paijo. Ikan asin tidak seberapa. Paling penting adalah pertemuan karena Tuhan masih memberikan keselamatan kepada kita. Oleh karena itu, kita harus bersyukur sekaligus mendoakan mereka yang telah dipanggil Tuhan selama pandemi,” seru Nenek Inem. “Iya nek,” seru Paijo menyetujuinya. “Mari kita doa bersama untuk semua itu,” ajak nenek sekaligus mengakhiri makan bersama itu. Mereka berdua berdoa khusuk di tempat makan itu. Paijo dan Nenek Inem dipertemukan seperti para Murid dipertemukan kembali dengan Yesus setelah kebangkitan. Ikan menjadi sarana mereka berkumpul kembali. Ikan menjadi sarana mengingatkan memori kebersamaan zaman itu. Ikan memberikan simbol persaudaraan. Demikian juga ikan asin itu mempertemukan Paijo dan Inem setelah dibelenggu pandemi yang panjang. Paijo dan nenek itu pun melanjutkan bincang-bincang seraya minum teh dan pisang goreng yang masih ada. Ikan asin itu telah membuat suasana menjadi gembira. Nenek Inem dan Paijo saling berbagi cerita. Mereka bercengkrama seperti seorang nenek dan cucunya. “Nek, terima kasih ya untuk makan ikan asinnya hari ini. Tuhan memberkati nenek. Semoga nenek selalu sehat,” seru Paijo “Sama-sama nak Paijo, sehat selalu,” seru Nenek Inem seraya memeluk Paijo dengan berlinang air mata. Setelah berapa lama Paijo menemani Nenek Inem, Ia pun pamit dan kembali mengayuh sepedanya pulang. “Joooo, Paijo. Tidak dapat ikan, ehhhhhh, makan ikan juga sekalipun ikan asin heeeeee,” seru Paijo dengan gembira menuju ke rumah. Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka