Anda di sini
Beranda > Artikel > Kalau Iman Menjadi Senjata, Mungkin Kita Keliru

Kalau Iman Menjadi Senjata, Mungkin Kita Keliru

Baru saja kita memulai Masa Prapaskah dengan perayaan Rabu Abu, masa ketika Gereja mengajak umatnya berhenti sejenak, masuk ke keheningan, dan membiarkan diri dibentuk kembali. Prapaskah bukan sekadar waktu menahan diri, bukan juga sekadar waktu menambah doa atau mengurangi kebiasaan tertentu, melainkan undangan untuk dimurnikan.

Ada masa ketika Gereja tidak sedang dibangun lebih besar, tetapi dimurnikan lebih dalam. Bukan untuk dihancurkan, melainkan untuk disaring, mana yang sungguh perlu dipertahankan dan mana yang selama ini dijaga hanya karena sudah terbiasa.

Monsinyur Paskalis menerima berkat Bapa Fransiskus dari persaudaraan OFM Indonesia. Foto: Luki Karim

Pemurnian dalam Riuh

Berbagai berita dan narasi tentang dinamika internal Gereja membuat banyak umat merasa lelah. Terlalu banyak informasi, terlalu banyak versi, terlalu banyak suara yang saling menjelaskan diri. Di tengah situasi itu, mundurnya Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM dari pelayanan sebagai Uskup Keuskupan Bogor dapat dibaca bukan sebagai akhir cerita, melainkan sebagai bagian dari proses pemurnian yang sedang terjadi.

Pemurnian ini bukan tentang membongkar Gereja, tetapi menata ulang dari dalam.

Masa Prapaskah mengajak kita untuk tidak tergesa memilih siapa yang benar atau salah, melainkan memilih tetap setia meski tidak memahami semuanya. Yang diuji bukan keberpihakan kita pada narasi tertentu, melainkan kesetiaan kita pada Yesus Kristus sang gembala utama.

Saling Menghakimi?

Prapaskah juga menjadi waktu untuk menyadari ketika hal-hal yang selama ini terasa wajar mulai dipertanyakan. Contohnya sistem yang sudah lama berjalan, cara kerja yang diwariskan, dan pola relasi yang jarang ditinjau ulang. Karena yang akrab tidak selalu berarti sehat. Dalam pemurnian iman, yang familiar kadang perlu dilepaskan agar yang mendasar tetap tinggal.

Di titik inilah kita juga diajak bercermin

siapakah kita yang merasa berhak menghakimi orang lain, sementara kita sendiri adalah manusia berdosa?

Dalam iman Kristiani, hanya Tuhan yang tahu isi hati manusia. Dan Tuhan yang sama itu pula yang memilih mengampuni, bukan menghukum. Jika Tuhan memberi ruang pertobatan, mengapa kita justru tergesa menutupnya dengan vonis dan prasangka?

Pemurnian Gereja bukan hanya soal struktur dan sistem, tetapi juga pemurnian sikap umatnya. Sikap untuk tidak mudah menghakimi, tidak cepat menuduh, dan tidak menjadikan iman sebagai alat untuk melukai. Pemurnian mengajak kita bertanya dalam hati, apakah cara kita berbicara, menilai, dan bersikap masih mencerminkan wajah Kristus yang penuh belas kasih?

Salah satu umat menjaga nyala lilin yang apinya berasal dari lilin Paskah pada upacara cahaya malam Paskah. Foto: Regia Lidwina
Salah satu umat menjaga nyala lilin yang apinya berasal dari lilin Paskah pada upacara cahaya malam Paskah. Foto: Regia Lidwina

Dimurnikan, Bukan Dipermalukan

Proses ini juga mengajarkan kita untuk melepaskan kendali atas narasi.

Tidak semua hal bisa dijelaskan tuntas. Tidak semua proses harus dibuka. Di sinilah iman diuji, apakah kita percaya bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan ketika Gereja terlihat tidak rapi menurut ukuran manusia?

Kita tidak menutup mata terhadap keruwetan yang ada dan juga tidak menutup telinga dari rasa kecewa yang nyata ada pada hati kita. Namun Prapaskah mengajak kita melihat semuanya bukan sebagai drama yang harus dimenangkan, melainkan sebagai jalan panjang menuju Gereja yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih penuh belas kasih.

Gereja sedang dimurnikan bukan untuk dipermalukan, tetapi untuk diselamatkan. Dan dalam proses ini, iman kita pun sedang disaring. Bukan agar kita pergi, tetapi agar kita tinggal dengan hati yang lebih lembut, lebih tenang, dan lebih berharap.

Iman yang Teruji

Karena ketika yang tidak mendasar itu gugur, yang tersisa seharusnya adalah iman yang lebih murni. Iman yang tidak gemar menghakimi, tetapi berani mengampuni; iman yang tidak bergantung pada kenyamanan, tetapi pada Tuhan yang tetap setia, bahkan di tengah proses yang belum selesai.

Maka menjelang Prapaskah ini, mari kita mempersiapkan diri bukan dengan banyak kata, tetapi dengan hati yang mau dibentuk. Melepaskan segala hal yang tidak mendasar, merawat belas kasih, dan membiarkan Tuhan memurnikan iman kita.

Karena Prapaskah bukan tentang menjauh, melainkan tentang kembali. Kembali kepada Tuhan, kembali kepada sesama, dan kembali kepada diri kita yang dipanggil untuk mengasihi.

Penulis: Fransiska R Cecillia | Editor: Aloisius Johnsis

Leave a Reply

Top