Anda di sini
Beranda > Pastoral > Monsinyur Paskalis: Obati Luka Batin dan Bangkitlah dari Keterpurukan

Monsinyur Paskalis: Obati Luka Batin dan Bangkitlah dari Keterpurukan

Homili Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, dalam Ibadat Jumat Agung dan Misa Sabtu Suci sungguh down to earth, tidak mengawang-awang. Ia ingin kita bisa mengobati luka batin, dendam, egoisme, dan iri hati, masalah terbesar manusia masa kini.

Lewat homili Bapa Uskup Mgr. Paskalis Bruno Syukur dalam Ibadat Live Streaming Jumat Agung dan Misa Sabtu Suci (10-11/4/2020) di Gereja Katedral BMV Bogor, umat yang mendengarkan seperti terbawa ke retret spesial. Retret ke relung hati dan pikiran terdalam, tanpa perlu beranjak dari kursi.

Dari retret Jumat Agung, kita diajak beretrospeksi lalu memperbaiki kesalahan kita. Sementara lewat retret Sabtu Suci, kita didorong untuk segera bangkit dari keterpurukan, lalu hidup optimis.

Di tengah pandemik Covid-19, demikian Bapa Uskup memulai homili, banyak orang pontang-panting cari jalan pencegahan dan penyembuhan. Pemerintah sibuk mengatasi, juga untuk masalah sosial-ekonomi yang menyertainya. Berdiam diri di rumah selanjutnya diyakini sebagai cara efektif memutus penularan. Namun, ketika aktivitas terhenti lama, justru banyak perusahaan terpukul. Langkah menghadapi problema alam ini pun seperti makan buah simalakama.

Di tengah hiruk-pikuk dan ketakutan akan wabah virus corona tersebut, Mgr. Paskalis lalu mengajak kita ber-retrospeksi. “Apakah kita juga mencari Yesus?” Pertanyaan tersebut cukup membuat hati dan pikiran terhenyak. Ya, karena di tengah deraan Covid-19, penyakit yang sangat mematikan ini, kita jadi sering lupa akan kasih, teladan dan kehadiran-Nya.

Obat dari Yesus

Bapa Uskup mengingatkan, hakikat sengsara Yesus di Kayu Salib adalah untuk memperlihatkan bahwa Ia mau dengan sepenuh hati memikul penderitaan kita? Dan, lewat kematiannya, Ia juga menanggung “penyakit” kita.

“Penyakit” itu memang bukan Covid-19, melainkan penyakit akibat luka batin, dendam, iri hati, egoisme, sifat pemarah, ketidakpedulian, dan kekejaman. Penyakit yang sesungguhnya jauh lebih “mematikan” dalam peradaban manusia masa kini.

Kenapa “mematikan”? Karena cukup dengan kata-kata dan tindakan, kini manusia sudah bisa “membunuh” sesamanya. Simak saja betapa hebat fitnah, hoax, dan kata-kata pedas yang kini beredar di medsos, facebook, dan lain-lain. Tak sedikit orang yang terluka dan hancur kehidupannya akibat serangan kata-kata yang bernuansa iri hati, egoisme, kemarahan, dan ketidakpedulian itu.

Disadari atau tidak, penggunaan media sosial yang kelewat masif telah ikut mendorong penyakit-penyakit era digital tersebut berkembang. Kehidupan yang semakin keras menjadikan manusia acuh dan tak peduli terhadap sesama yang mungkin sedang mengalami tekanan hidup.

Mgr. Paskalis menegaskan, bahkan di Kayu Salib dengan tubuh yang sudah lemah, berdarah, Yesus masih mau menyelamatkan manusia dari dosa dan kesalahan. Bahkan juga mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya. Itu karena kasih-Nya yang begitu besar.

Maka, alangkah baiknya jika kita meneladani-Nya. Ikut mengatasi penyakit-penyakit itu dengan tiga “obat” yang Ia berikan kepada kita, umat beriman. Ketiga “obat” itu adalah:

Pertama, Roh atau Energi Positif Bela Rasa, yakni Kasih Yesus yang rela ikut merasakan penderitaan manusia. Istilah kerennya, The Energy of Compassion.

Kedua, Roh/Energi Positif Pengampunan atau The Energy of Forgiveness, yang tak lain adalah keinginan atau semangat memaafkan kesalahan orang lain. Pengampunan Yesus terhadap orang-orang yang telah menyesah, mengolok-olok dan menyalibkan-Nya, adalah teladan yang luar biasa.

 Sebaliknya, kita juga harus berani minta maaf jika melakukan kesalahan. Bapa Uskup lalu memberi contoh dengan memohon maaf kepada umat, yang mungkin pernah tersakiti oleh kata-kata, tingkah dan perilaku dirinya atau imam-imam di Keuskupan Bogor.

Dan, ketiga, Roh/Energi Positif Kebenaran atau The Energy of Truth. Energi ini lah yang dipancarkan Yesus tatkala menjawab pertanyaan Ponsius Pilatus, tentang apakah benar Ia raja? Yesus menjawab, “Benar saya Raja. Semua orang yang cinta kebenaran, mendengarkan saya.”

Manusia sebagai Co-creator

Mgr. Paskalis merefleksikan hidup dalam kebenaran sebagai keseimbangan antara mengabdi kepada Tuhan sebagai pencipta, penyelamat, penebus, dengan mengabdi kepada manusia sebagai sesama yang perlu dihargai, dihormati, dan di-wongke (diorangkan).

Maka, cari dan dekaplah Yesus. “Peganglah salib-Nya, lalu mohon sembuhkan luka-luka batinku, luka-luka sesama, dan luka-luka dunia, dengan Roh Bela Rasa, Roh Pengampunan dan Roh Kebenaran-Mu,” ujar Mgr. Paskalis.

Penyembuhan juga bisa dilakukan dengan Doa Novena Kerahiman, Jalan Salib, dan bentuk-bentuk kesalehan lain seperti berbagi rezeki, dan lain-lain. Selanjutnya, lewat momen Paskah, Bapa Uskup juga mendorong kita untuk segera bangkit dari keterpurukan, memperkokoh iman, dan melibatkan diri dalam upaya-upaya yang ditujukan untuk membangun Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat.

Kenapa harus terlibat? Karena, menurutnya, sejak Bumi beserta isinya diciptakan, manusia telah jadi bagian dalam Tindakan Agung Allah. Sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar Allah dengan akal-budi, perasaan serta kehendak, kita tak bisa mengingkari kodrat sebagai co-creator bersama Allah.

Tindakan Agung Allah sendiri bisa dijabarkan jadi tiga tindakan besar, yakni: (1) Karya Agung Peciptaan, berupa Bumi beserta alam dan segala isinya; (2) Karya Agung Penyelamatan; dan, (3) Karya Agung Kebangkitan.

Karya Agung Kebangkitan akan jadi nyata jika manusia ikut serta dalam membangkitkan semangat sesama yang sedang terpuruk. “Sebagai co-creator, kita harus buka jalan demi kehidupan yang lebih baik. Jadikan momen Paskah sebagai inspirasi agar kita lebih kreatif dan optimistik.” 

Demikian pesan Bapa Uskup Mgr. Paskalis. Semoga Retret Agung kali ini dapat membuka hati dan menjadikan kita, umat Katolik, semakin berarti bagi sesama dan bangsa. Tuhan Memberkati.

(Adrianus Darmawan)

*Penulis adalah Ketua Komsos BMV Katedral Bogor Periode 2007-2015.

Leave a Reply

Top