Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Memilih Pemimpin Bersenjata Hati Nurani

Memilih Pemimpin Bersenjata Hati Nurani

[SUKASARI] Pemuda Katolik Kota Bogor bekerja sama dengan Seksi Kerawam Paroki St. Fransiskus Asisi Sukasari menggelar seminar politik bertajuk “Menjadi Warga Negara yang Cerdas”, Sabtu (23/2). Sekitar 150 orang memadat aula St. Antonius. Hadir Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto sebagai keynote speaker.

Bima mengajak seluruh umat untuk memilih pemimpin yang bersenjatakan hati nurani. “Suara anda sangat menentukan. Jangan sampai kebersamaan yang telah kita nikmati ini dikoyak hanya untuk kepentingan politik sesaat. Pilihlah pemimpin yang cerdas, yang menguasai persoalan dan paling utama adalah memilih pemimpin yang bersenjatakan hati nurani,” katanya.

Pada era demokrasi ini, sambung Bima, masyarakat diberikan banyak pilihan untuk berpartisipasi dalam dunia politik misalnya sebagai aktivis, menjadi tim sukses, dan juga aktif dalam memerangi berita-berita ‘hoax’ yang semakin menjamur. “Saya rasa kalau levelnya setingkat Pemuda Katolik, masa iya cuma mau jadi pengamat dari jauh. Harus berani ambil peran aktif, pastikan bahwa logika tidak kalah dengan rasa. Semua tercerahkan dan menjadi lebih cerdas,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolresta Bogor Kota Kombes Hendri Fiuser menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, setelah Tiongkok, India, dan Amerika. “Dengan potensi itu, diprediksi Indonesia akan menjadi negara yang superpower, negara yang dikatakan sebagai adikuasa. Diprediksi itu  akan terjadi pada 2045. Kemudian pada 2030 diprediksi Indonesia akan menjadi 10 besar kekuatan ekonomi di dunia. Tidak hanya soal ekonomi, situasi keamanan dan politik juga harus stabil. Kita melihat belakangan ini tidak ada konflik-konflik besar, tidak ada konflik antarsuku, konflik antaragama, antardaerah. Ini yang harus dipertahankan,” tegas Hendri.

Hadir pula Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Sukasari RD Markus Lukas, Ketua Pemuda Katolik Jawa Barat Fredikus, Pengamat Politik CSIS J Kristiadi, Direktur CITA Yustinus Prastowo, dan pengamat pemilu Benny Wijayanto.

(Enoz Raja/AJ)

Leave a Reply

Top