Anda di sini
Beranda > Artikel > Masih Diberi Waktu

Masih Diberi Waktu

Suatu ketika ada obrolan di perjalanan kereta rel listrik (KRL) Bogor ke Kota (Jakarta),  bahwa pebisnis yang ngobrol tersebut, dengan mantap mengatakan kita tak perlu mempunyai pengetahuan yang luas tentang Allah, tidak perlu berbicara banyak tentang Allah, tetapi berbicaralah banyak dengan Allah. Benarkah demikian? Apa yang bisa kita lakukan semasa ‘kita masih diberi waktu’

Santo Thomas Aquinas, seorang seorang filsuf dan teolog dari Italia yang sangat berpengaruh pada abad pertengahan, pernah menulis bahwa kita hidup di dunia, adalah berada pada  tingkat adikodrati dan kodrati, yaitu tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Dan dikatakan bahwa hidup kodrati ini kurang sempurna dan akan menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat yakni dengan iman (adikodrati). Keduanya senantiasa berjalan bersama laksana rel kereta api sejajar  menuju arah yang sama.

Sudah banyak ungkapan orang bahwa lebih baik berbuat baik saja, yang penting sudah membantu dan membuat nyaman orang yang membutuhkan, adalah sudah memenuhi “kuota” dari Allah. Hal ini tidak salah,  namun perlu dilengkapi agar  kita sebagai Anak Allah mempunyai visi dan misi yang senada, yakni bersama menuju kehidupan yang kekal dan damai bersama Bapa di Surga.  Menurut St Hieronimus kita semua diharapkan dengan mengenal Kitab Suci niscaya akan mudah mengenal Yesus sebagai tokoh penting bagi Anak Allah untuk menuju hidup kekal kelak, dalam dekapan dan pangkuanNYA di Surga

Kita semua tahu bahwa Bapak Uskup Paskalis Bruno Syukur OFM,  telah menetapkan 5 Kebijakan Pastoral, dan salah satu kebijakannya adalah berfokus pada upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Artinya Bapak Uskup sangat mengharapkan bahwa umat mempunyai kemampuan SDM yang mumpuni dalam pelayan bersifat territorial maupun kategorial dalam hidup menggereja. Artinya pula bahwa SDM yang mempunyai wawasan hidup menggereja, mampu melakukan pelayanan dengan terampil dan tuntas menyelesaikannya, serta melayani dengan hati berasaskan iman Kristiani yang mendalam

Dengan demikian tepat bila kita semua terus belajar, belajar, dan belajar memahami apa yang dikatakan Allah melalui Kitab Suci. Dan kita seyogya perlu akal budi untuk memahami firman Allah, tanpa akal budi maka akan ada kesesatan berpikir. Dan selanjutnya kita sering mendengar ucapan percayalah lebih dahulu sebelum kita memahami firmanNYA. Hal ini akan kita pahami saat membaca dan menyimak melalui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Terlebih melalui PutraNYA yang tunggal dan sulung, memberikan pemahaman dan cara berpikir bagi kita bahwa dengan perumpamaan, nasihat, mukjizat dan tindakanNYA, serta hingga gaya tubuhNYA saat berinteraksi dengan orang banyak yang selalu mengerumuninya dalam perjalanan menuju Jerusalem.

Begitulah Gereja menghendaki kita makin menggemari  untuk membaca Kitab Suci, juga mengikuti  dengan  cara membaca rutin Kitab Suci, ikut dalam pendalaman iman bersama umat di lingkungan, mengikuti Kursus Kitab Suci (KKS)  di paroki, atau lebih lengkap lagi, umat bisa mengikuti Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS), Santo Yohanes Penginjil di Keuskupan Bogor. Khusus KPKS SYP, program ini  memberikan tuntunan dengan mudah untuk menambah pengetahuan tentang iman, menambah ketrampilan untuk mewujudkan iman dan menggerakkan iman dengan spirit Roh Kudus. Maka tepat bila belajar di KPKS SYP kita akan mendapatkan  paket komplit yang terdiri atas pengetahuan, ketrampilan, dan spirit.

Maka pebisnis dalam KRL Bogor ke Jakarta di atas, akhirnya mau mencoba mendengar & memahami lagu Ebiet G.Ade (era 1980-an), kita patut bersyukur bahwa ‘kita masih diberi waktu’ untuk memperbaiki diri dan menambah kekuatan menjadi SDM berkualitas di hadapan Allah kelak.

(Michael Indra W.)

Leave a Reply

Top