Anda di sini
Beranda > Pastoral > Keuskupan Wacanakan Pembangunan Rumah Sakit Khusus Lansia

Keuskupan Wacanakan Pembangunan Rumah Sakit Khusus Lansia

[KATEDRAL] Keuskupan Bogor berencana membangun rumah sakit khusus orangtua (lansia). Hal tersebut diungkapkan Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Bogor RD Christoforus Tri Harsono kepada Berita Umat di sela-sela seminar bertema lansia yang digelar Profesional dan Usahawan Katolik (Pukat) Keuskupan Bogor bekerja sama dengan Center of Ageing Studies UI, di Aula Pusat Pastoral Bogor, Sabtu (9/4). “Keluarga ternyata tidak hanya tentang anak-anak, remaja, dewasa, atau soal pernikahan, tapi juga menyangkut orangtua dan lansia. Ini yang belum tertangani sepenuhnya. Kami bersama Pukat, Komisi Keluarga, dan Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) tengah memikirkan untuk memperhatikan lansia. Salah satu caranya adalah membangun rumah sakit khusus orangtua atau lansia,” papar Romo Tri.

Dia menjelaskan, untuk proses awal saat ini telah dimulai dengan kelompok susteran di Sukabumi yang menangani, mendampingi, dan merawat lansia. “Dari situlah nantinya kita bisa mulai bagaimana caranya menangani, mendampingi, dan merawat lansia. Ke depan kami juga ingin menangani lansia secara keseluruhan, misalnya menyediakan dan memproduksi pampers (popok) untuk lansia,” tuturnya.

Imam asal Wilayah Semplak ini juga berharap para orangtua atau lansia dapat dirawat anak-anaknya ketimbang dititipkan di panti jompo. “Saya lebih setuju anak-anaklah yang merawat orangtuanya. Maka itu kami akan memberikan pelatihan untuk anak-anak bagaimana cara mendampingi orangtua mereka. Bagaimana merawat orangtua mereka di rumah sebagai ungkapan terima kasih pada orangtua yang telah membesarkannya,” tukasnya.

Caregiver

Di tempat yang sama, aktivis Center of Ageing Studies UI, Tri Suratmi mengatakan, hal utama yang dibutuhkan untuk merawat orangtua adalah aware. “Intinya kita harus punya cinta, kalau kita punya cinta maka mampu untuk berbagi dengan cara memberi. Pemberian yang paling hebat adalah memberi pengampunan, dan juga perhatian termasuk kepada orangtua atau lansia yang kita dampingi dan rawat,” tuturnya.

Ketua Pukat Keuskupan Bogor, Tuty Lazwardi saat diwawancara oleh Berita Umat. Foto: Dok. Komsos BMV Katedral

Dia tak memungkiri fenomena masa kini dimana banyak anak-anak atau orang muda tidak mau merawat orangtuanya sendiri. ”Masalahnya saat ini kondisi sosial ekonomi sudah jauh berbeda, semua tergantung bagaimana setiap induvidu memformulasikan bentuk perhatian pada orangtuanya. Nah, terkait dengan kondisi itu kita membutuhkan caregiver, orang dewasa yang akan menjadi pendamping bukan perawat lansia. Pendamping dari sisi psikologi sosial, sedangkan merawat itu bersifat medis. Caregiver sangat dibutuhkan mengingat jumlah lansia di Indonesia saat ini terus meningkat, itu karena usia harapan hidup (UHH) tiap tahun ikut naik, sementara angka kelahiran cenderung menurun,” ujarnya.

Ketua Pukat Keuskupan Bogor, Tuty Lazwardi mengharapkan, adanya kesadaran dari semua pihak untuk memperhatikan masalah lansia. “Lansia ini sering dinomerduakan, padahal mereka adalah orang-orang penting yang dulunya merupakan tulang punggung keluarga. Kami berkomitmen untuk menindaklanjuti perhatian kepada lansia dengan cara memberikan pelatihan pada pihak terkait bagaimana cara menangani lansia,“ katanya.

Dia melanjutkan, salah satunya adalah dengan menciptakan caregiver yang nantinya akan mendampingi lansia. “Mereka akan dibekali ilmu supaya dapat mendampingi lansia dengan baik, supaya orangtua tidak merasakan kesepian atau tersisih di usia lanjut,” pungkasnya.

(Jam)

Leave a Reply

Top