Anda di sini
Beranda > Artikel > Dalam Kemarahan Tetaplah Arif Bijaksana

Dalam Kemarahan Tetaplah Arif Bijaksana

Untuk kesekian kalinya penggunaan medsos menimbulkan kekisruhan di tengah kehidupan beragama di Tanah Air. Sungguh ironis memang, ketika segenap penduduk di negeri ini tengah memperingati Hari Kemerdekaan RI, seorang pemuka agama yang namanya cukup populer justru memberi pernyataan yang bisa mencederai kebinekaan dan persatuan bangsa.

Tanpa pemahaman yang memadai, Ustadz Abdul Somad menyatakan bahwa di salib Yesus ada jin kafir. Pernyataan ini disampaikan untuk menjawab pertanyaan jemaahnya, “Apa sebab kalau menengok salib, hati saya menggigil?” Cuplikan ceramah yang langsung menyebar lewat medsos ke jagad maya ini segera mengundang kecaman. Tak hanya dari kalangan umat Kristen, tapi juga dari pemuka agama Islam.

Ia sendiri tampak tak menduga kalau cuplikan ceramah tersebut bisa “keluar” dan viral. Dalam klarifikasinya, UAS lalu menyatakan bahwa dirinya tak bersalah atas cuplikan ceramah yang dinilai menistakan simbol keagungan Kristen-Katolik tersebut. Kata-kata tersebut, kilahnya, diucapkan dalam ceramah tertutup di sebuah tempat ibadah. (Tempo.co, 18/8/2019)

Tanpa menunggu lama, organisasi kepemudaan Brigade Meo Nusa Tenggara Timur langsung melaporkan ujaran sang ustadz ke Polda Nusa Tenggara Timur agar bisa diproses secara hukum. (Tempo.co, 17/8/2019)

Sehari kemudian media yang sama juga memuat pernyataan keras seorang Pengurus Pusat Muhamadiyah, Abdul Rohim Ghazali. Dikatakan, ucapan tersebut adalah penghinaan simbol agama yang tidak main-main. “Saya tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada tokoh agama lain yang menghina simbol Islam. Bisa terjadi gelombang demonstrasi berjilid-jilid dan pelakunya bisa dituntut hukuman besar,” ujarnya. (Tempo.co, 18/8/2019)

Pada kesempatan terpisah, Romo Aba MSC, justru mengajak seluruh umat beriman untuk menahan diri. Namun imam Katolik ini mempertanyakan, ketika banyak orang di dunia tengah giat memperjuangkan perdamaian, toleransi, kehidupan yang lebih aman-sejahtera; kenapa selalu ada saja ada hal-hal yang mengeruhkan keadaan? (Youtube: Romo Ndeso, 17/8/2019)

“Sampai kapan orang tak bisa menerima perbedaan keyakinan? Sampai kapan orang berbeda agama ingin saling bully? Ketika ada umat bertanya tentang hal-hal sensitif di seputar keagamaan, saya sendiri selalu berusaha mengajaknya untuk semakin mencintai ke-Kristen-an, tanpa harus membenci agama lain. Sebab, misteri ke-Kristen-an tak akan habis untuk diulas, digali, dipelajari, bahkan hingga sepanjang zaman,” ungkapnya.

Sebagai insan yang pernah mencurahkan pikiran di Seksi Komsos BMV Katedral Bogor, saya juga terusik untuk bertanya dan berpendapat. Yakni, bagaimana sebaiknya umat Katolik menyikapi pernyataan-pernyataan berbau SARA seperti itu? Harus melawankah? Sebagai manusia biasa, wajar jika kita gusar dan marah. Namun, iman kita terhadap teladan dan kesengsaraan Yesus tetap harus dipegang teguh.

Untuk itu, sebagai umat beriman, kita sebaiknya bisa menahan diri dan bersikap arif-bijaksana, karena toh pengaduan terhadap ujaran tersebut sudah dilaporkan kepada pihak berwenang. Di lain pihak, sejumlah pemuka agama Islam pun sudah “menegur” sang ustadz, seraya meneguhkan kembali serta memastikan kepada umat non-Muslim bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan-lil-alamin. Singkat kata, pesan atas kekecewaan dan penegasan bahwa ujaran tersebut bukanlah pandangan umum, sudah tersampaikan.

Alarm Pengingat

Bagaimana pun, menahan diri adalah sikap terbaik ketimbang membiarkan diri tenggelam dalam kemarahan. Kemarahan hanya akan melahirkan kemarahan yang lain. Kemarahan juga akan melahirkan ujaran lain yang justru bisa memperkeruh keadaan. Bukankah pada saat seperti ini umat Kristiani justru ditantang dan diberi kesempatan untuk bisa memperlihatkan teladan Yesus Kristus yang sangat pemaaf dan menjunjung tinggi Cinta Kasih?

Alangkah baiknya peristiwa semacam ini juga bisa digunakan sebagai alarm pengingat bahwa kita harus senantiasa menjaga tutur kata. Sebab, sekali saja kata-kata yang tak layak tayang ke jagad maya, hasilnya adalah kemarahan yang tak bisa dicegah. Apalagi jejak digital amat sulit untuk dihapus kembali. Bagi kita, sebuah ucapan atau tulisan mungkin sekadar gurauan, tapi belum tentu bagi orang lain. Ingat, di tahun politik yang belum sepenuhnya selesai ini, guruauan masih mungkin untuk “digoreng”.

Harus dikatakan, kita harus tetap waspada bahwa “di luar” sana ada pihak yang ingin sekali mengganggu stabilitas dan keamanan yang telah dibangun pemerintah yang sah. Pesan dalam artikel di bmvkatedralbogor.org (31/10/2017) kiranya masih valid. Yakni, bahwa umat Katolik harus senantiasa kritis dalam menyikapi limpahan informasi di era internet ini. Medsos akan selalu bak pisau bermata dua yang harus dimanfaatkan secara hati-hati. Dia bisa memudahkan penyerbaran informasi yang berguna bagi sesama, namun juga bisa memecah-belah.

Lebih jauh, ada baiknya peristiwa kemarin jadi bahan untuk introspeksi dan perbaikan diri. Sebab, mungkin saja ujaran kebencian tersebut disebabkan oleh masih adanya unsur eksklusivitas dalam diri umat Kristiani. Siapa tahu, sementara kita sibuk membangun kehidupan yang lebih baik (mungkin, superioritas), umat beragama lain tak memiliki kesempatan untuk mengenal kita dalam proporsi yang benar?

Benar kata orang, everything has a reason. Tanggapan pribadi seorang Gusdurian (Kelompok Pengagum Pikiran KH Abdurrahman Wahid) di Jawa Timur bernama Aan Anshori tentang adanya ruang kosong dalam hubungan antar umat beragama, menarik untuk dicermati. Ia mengungkap, ketakutan banyak umat Islam terhadap salib lebih dikarenakan dogma klasik berbasis pengalaman masa lalu. (Redaksi Indonesia, 17/8/2019)

Sayang, tambahnya, sampai saat ini belum ada sarjana Islam Indonesia yang berani mengajukan wacana tanding atas hukum agama yang konservatif ini.

Setelah bertahun-tahun blusukan demi mengenal gereja dan kehidupan umat Kristen, Aan Anshori akhirnya mengaku tak lagi memiliki pandangan ekstrem yang keliru terhadap simbol-simbol Kristen, termasuk salib.  Ilmu kesantriannya yang begitu dalam tak pernah sekali pun mendapati jin kafir di balik salib, dalam arti metafisik maupun metaforik, seperti diyakini banyak umat.

“Sebaliknya, saya justru belajar banyak hal positif dalam Alkitab, utamanya menyangkut budi-pekerti, kemanusiaan, cinta-kasih, dan keadilan. Maka, sungguh benarlah firman Alloh SWT yang meminta Muslim untuk juga menaruh perhatian pada kitab-kitab suci sebelum Al Quran, sebagaimana disinggung dalam QS. 2:1-4,” tandasnya.

Di ujung tulisannya, Aan Anshori menyampaikan pesan yang penting untuk dicamkan umat Kristiani, termasuk para imam. Yakni, bahwa satu-satunya cara untuk mematahkan dogma konservatif itu adalah dengan mempergiat pertemuan atau perjumpaan Islam-Kristen. Untuk itu memang harus ada keberanian dari kedua belah pihak untuk melakukannya secara berkesinambungan dan terus-menerus. Pertemuan serta perjumpaan juga lah yang akan meredakan ketegangan.

Semoga peristiwa kemarin tak terulang kembali. Tuhan Memberkati kita semua.

(Adrianus Darmawan)

Penulis adalah Ketua Seksi Komunikasi Sosial BMV Katedral Bogor periode 2007-2015.

Leave a Reply

Top