Anda di sini
Beranda > Artikel > Sudahkah Jadi “Orang Indonesia” Seutuhnya?

Sudahkah Jadi “Orang Indonesia” Seutuhnya?

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia kembali kita rayakan. Tahun ini Indonesia sudah memasuki usia ke-74. Jika diibaratkan orang, sudah bukan usia yang muda, tetapi matang dan dewasa. Setiap 17 Agustus berbagai komunitas mulai dari RT/RW, perkampungan, organisasi, perusahaan, dan sekolah gegap gempita melakukan berbagai lomba sebagai bentuk syukur dan perayaan hari jadi Indonesia.  Paskibraka yang biasanya terdiri dari orang-orang muda dengan bangga mengibarkan sang saka Merah Putih. Paduan suara dalam upacara seakan mendidihkan kembali jiwa nasionalisme kita lewat nyanyiannya. Tidak lupa para pejabat berlomba-lomba menggunakan pakaian adat terbaiknya untuk mengikuti perayaan di Istana Negara.

Tetapi, cukupkah hari kemerdekaan diperingati dengan perayaan-perayaan seremonial? Apakah Peringatan hari lahir bangsa ini masih terasa sakral? Apakah masih memiliki nilai fundamental dalam perjalanan perjuangan bangsa? Juga, sudahkah kita menjadi ‘orang Indonesia’ yang seutuhnya?

Kemerdekaan yang Diperjuangkan

Proses kemerdekaan Indonesia merupakan perjuangan yang menguras waktu, tenaga, dan rasa yang berhasil diwujudkan para pejuang dengan satu semangat yang sama. Semangat untuk merdeka. Merdeka bagi Indonesia bukanlah pemberian, tetapi sebuah perjuangan yang dipilih oleh para pendiri bangsa. Mereka tidak asal pilih jalan yang mudah, tapi jalan yang benar.

Tujuannya agar bangsa ini bisa menentukan nasibnya sendiri, tanpa pengaruh dari kelompok lain. Lalu setelah merdeka, kemudian bisa menentukan nasibnya sendiri apakah semua jadi lebih mudah? Ataukah semuanya sudah selesai?

Tentu perjuangan tidak akan pernah selesai. Tongkat estafet kepemimpinan akan terus sambung menyambung dari generasi ke generasi. Bung Karno pernah mengatakan bahwa perjuangannya lebih mudah karena melawan penjajah, sedangkan perjuangkan kita akan lebih sulit karena melawan saudara sebangsa. Maksudnya apa? Masih ada saja pasti saudara sebangsa kita yang baik secara sadar atau tidak sadar, salah mengambil sikap yang bisa berujung pada disintegrasi bangsa. Tidak perlu jauh-jauh. Isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) saja masih laku diperjual belikan setiap ada pemilu.

Generasi Muda Harapan Bangsa?

“Hanya satu tanah yang bisa disebut tanah airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku.” Kutipan sajak penyair Belgia, Rene de Clerq, adalah salah satu kalimat favorit Bung Hatta. Kutipan tersebut dijadikan sebagai salah satu bagian penutup dari pleidoi “Indonesia Merdeka” di Belanda puluhan tahun silam. 

Melalui pleidoi tersebut Bung Hatta menggambarkan perjuangan mewujudkan sebuah tanah air merdeka yang dilakukan olehnya dan para pendiri bangsa pada waktu itu. Maka saat tanah air bernama Indonesia itu lahir, kita mendapatinya bukan sekadar barang jadi produk kolonial tetapi lahir dari sebuah proses perjuangan.

Melalui kutipan tersebut, Bung Hatta juga ingin menantang kita, orang-orang yang katanya mengaku sebagai ‘orang Indonesia’. Sudah melakukan apa? Sudah berbuat apa? Dengan kata lain, jangan ngaku ‘orang Indonesia’ kalau kita belum berbuat apa-apa untuknya.

Berjuang hari ini tentu bukan dengan orasi-orasi, bambu runcing, atau pistol dan peluru. Berjuang hari ini adalah dengan berkarya. Generasi muda sebagai agen perubahan harus mampu menginterpretasikan cita-cita luhur para pendiri bangsa dengan karya-karya yang kreatif dan inovatif.

Bodo amat, ga peduli, berat,” mungkin itu yang terpikirkan. Tidak masalah, waktu yang akan menjawab dan menumbuhkan kepedulian itu. Akan selalu ada orang-orang yang tidak peduli dan acuh terhadap bangsa ini, tetapi jangan lupa, juga akan selalu ada mereka yang mencintai dan berusaha untuk merawat Indonesia dengan karya-karyanya.

Pada akhirnya memang Indonesia tidak seindah yang diceritakan buku pelajaran sekolah, tetapi Indonesia masih menjadi negara yang layak untuk kita perjuangkan bersama.

Dirgahayu Indonesiaku! Sehat-sehat terus ya.

(Aloisius Johnsis)

Leave a Reply

Top