Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Suster Inem

Suster Inem

4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:4:18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Ada sebuah biara susteran tua di kampung saya. Bangunan itu sangat sederhana, yakni seperti  rumah penduduk pada umumnya. Namun, dari struktur bangunan itu, terlihat dibangun sangat bagus pada zamannya. Waktu terus bergulir dan kemajuan zaman terus berkembang, tetapi biara itu tetap tidak berubah. Ada beberapa suster tinggal di biara itu, mereka hidup di antara  masyarakat setempat. Sepintas tempat itu tidak lagi seperti biara, bahkan seperti rumah penduduk pada umumnya.  Suster-suster setiap kali keluar biara menuju gereja berjalan kaki meskipun tempatnya agak jauh dari biara itu.

Salah satu suster itu tampaknya warga negara asing, kulitnya putih seperti orang Eropa dan bicaranya pun masih menggunakan logat Eropa. Sekali-kali suster itu menyapa dengan kami orang-orang kampung dengan bahasa Jawa. Ia seperti tengah belajar bahasa setempat. Penampilan suster itu biasa, sekalipun dengan perbedaan kulit yang menyolok dengan orang kampung. Kesederhanaan itu mempunyai daya tarik tersendiri bagi penduduk sekitar meskipun beda kepercayaan. 

Suster selalu menyapa  setiap kali ketemu orang di jalan dan memberikan salam dengan tulus. Dengan sendirinya suster itu sangat akrab dan dikenal di masyarakat secara umum.

Suster itu sering pergi mengunjugi umatnya dari rumah ke rumah seraya menyapa anak kecil untuk ikut aktif dalam gereja. Kunjungan seorang suster asing itu seperti kunjungan seorang ratu dari negeri antah-berantah pada zaman itu. Keakraban suster dengan umatnya semakin terasa dengan diterimanya suster sebagai seorang misionaris di kampung yang masih ketinggalan ini. Bisa dibayangkan, listrik pun belum ada, surat kabar pun tiada, majalah juga tidak ada, bahkan TV pun yang punya hanya di kelurahan. Situasi itu tidak menyurutkan suster untuk melayani, sekalipun itu bertolak belakang dengan budaya di Eropa sana.

Sebagai ungkapan syukur, suster itu minta nama desa. Hal ini diharapkan suster bisa semakin membaur dengan penduduk setempat. Akhirnya penduduk setempat memberi nama sapaan yang akrab, yakni Suster Inem, walaupun sebetulnya namanya mungkin lebih mentereng.

 Namun, demi diterima dalam semua kalangan penduduk kampung, suster itu merelakan namanya untuk diganti dengan sebutan Sr. Inem.

Kehadiran Sr. Inem itu membawa angin segar kepada umat Katolik di kampung itu. Setidaknya Sr. Inem selalu mengundang anak-anak untuk datang ke biara. Anak-anak merasa senang bisa ketemu seorang asing yang bersama di tengah kampung. Setiap pertemuan Sr. Inem selalu memberikan aneka permainan, yang zaman itu luar biasa. Aneka permainan itu selalu dikeluarkan sebelum pertemuan. Kegembiraan kami orang kampung semakin tidak terkira karena dengan permainan itu kami semakin akrab dalam kelompok satu iman. Kami semakin sering bertemu dan semakin mengenal satu dengan yang lain.

Setelah  satu jam kami main dengan aneka permainan, suster itu mengeluarkan berbagai majalah, ada majalah bergambar, ada buku cerita, dan aneka bacaan. Suster itu memberikan kesempatan kepada kami untuk membaca buku-buku itu. Jika sudah selesai kita disuruh tukar buku. Demikian kiranya pertemuan itu diisi dengan acara seperti itu. Bermain dan membaca menjadi sajian utama. Suster itu pun tidak memaksa kita untuk melakukan seperti yang suster mau. Beliau hanya menunggui dan mengajari bagaimana bermain itu dan bagaimana membaca.

Di akhir pertemuan, biasanya suster itu memberikan sebuah pengajaran pendek terkait iman yang selalu dihubungkan dengan apa yang kita baca dengan kehidupan sehari-hari.

“Hai anak-anak,” sapaan Sr Inem itu kepada kami.

“Ya suster,” jawab kami serentak.

“Hari ini kita akhiri dulu pertemuan kita. Minggu depan kita kumpul lagi untuk bermain dan membaca bersama. Akan tetapi sebelum pulang, suster mau memberikan sedikit wejangan untuk kalian,” kata Sr. Inem dengan bahasa yang masih terbata-bata.

“Anak-anak. Bermain itu penting karena bermain itu adalah sebuah ekspresi iman juga. Kalian satu dengan yang lain saling mengenal dan saling bergembira. Jadi gembira itu bukan soal makan enak saja, tetapi bermain bersama itu adalah wujud kegembiraan bersama. Itu harus kamu jaga, agar kamu semakin rukun dan akrab satu dengan yang lain. Itulah ajaran Yesus sendiri, hendaklah kamu seperti anak-anak, karena anak-anak itu empunya kerajaan Surga,” jelas Sr Inem.

“Iya suster,” seru kami serentak

“Nah anak-anak. Sisi lain, kita juga mesti membaca karena dengan membaca kita dapat membuka wawasan. Lihat tadi kalian membaca buku, majalah, komik dan lain-lain. Semua itu perlu kalian lakukan agar wawasan kalian bertambah. Membaca  itu ibarat membuka jendela rumah. Kalau adik-adik membuka jendela rumah, kalian bisa melihat sisi luar yang lebih luas dari rumah. Demikian juga ketika kita membaca kita bisa menambah wawasan yang luas baik pikiran maupun iman,”jelas Sr Inem dengan semangat.

“Iya suster,” seru kami sambil ketawa karena logat Sr. Inem yang masih kaku.

“Anak-anak. Coba tadi ada yang membaca kehidupan Yesus. Itu adalah bagian dari iman kita. Yesus pun kala masih hidup juga membaca kitab-kitab nabi. Bedanya Yesus membacakan dan menjelaskan makna yang tertuang dalam kitab itu. Sementara kita belajar mengerti dan memahami apa yang kalian baca. Ada juga yang membaca pengalaman para nabi dan ada juga yang membaca tentang kehidupan santo santa. Semua itu bisa menjadi contoh hidup kalian biar kita bisa semakin hidup baik di masyarakat dan keluarga. Dengan membaca itu kita semakin diantarkan untuk mendalami banyak hal dalam kehidupan. Seperti kalau membuka jendela kita bisa melihat aneka ragam di luar, tetapi kalau hanya di dalam kamar, kita hanya bisa melihat segalanya sangat terbatas. Oleh karena itu, hendaklah adik-adik rajin membaca,” kata Sr. Inem dengan semangat.

“Anak-anak, mari kita akhiri pertemuan ini dengan berdoa,” ajak Sr Inem.

“Ada yang mau mimpin doa?” tanya Sr. Inem

“Paijoooooooo,” seru anak-anak serentak sambil menunjuk Paijo.

“Ayo Paijo, siap mimpin doa,” seru Sr. Inem.

“Iya, Suster,” jawab Paijo dengan malu-malu.

Akhirnya Paijo pun mimpin doa mengakhiri pertemuan itu. Selepas doa kami membereskan permainan dan buku-buku. Seraya pamitan kepada Sr. Inem.

“Anak-anak, hati-hati ya,” seru Sr. Inem dengan senyum yang kas.

“Ya suster,” serempak kami membalas.

Kami pun meninggalkan susteran itu dan mulai pulang ke rumah. Seperti biasa kami berebut duluan mengambil sandal, karena sandalku terinjak teman saya putuslah sandal jepit itu.

“Waaaa, sandal jepitku putus,” seru Paijo.

“Wah, Jo, Paijo. Kenapa sandal jepitmu,” sapa Sr. Inem yang melihat Paijo.

Sandal saya putus, diinjek. Pas saya tarik, putus ujungnya,” jawab Paijo.

“Terus, bagaimana?” tanya suster

“Ya nyeker suster biar, kembali ke alam,” seru Paijo seraya pamitan dan berlari karena malu.

“Jo, Paijo sejak kecil nasibmu begitu. Habis main dan baca sandalnya putus, kasihan kamu Jo, Paijo,” seru Paijo dalam hati seraya membawa sandalnya yang putus pulang ke rumah.

(RD Jatmiko)

Leave a Reply

Top