[BOGOR] Setelah resmi bekerja sama dengan Keuskupan Bogor, Scholas Occurrentes mulai melakukan pelatihan kepada lebih dari 20 orang muda untuk menjadi fasilitator di Aula lantai 4 Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, Jumat-Sabtu (4-5/4). Orang-orang muda tersebut berasal dari beberapa tim di Keuskupan Bogor, yakni Komisi Kepemudaan, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK), Vikep Pendidikan, dan Pastoral Digital.
Mereka dilatih oleh Manuel Denza (33) asal Scholas New York, Delfina Bejar (24) asal Scholas Argentina, dan Stephanie Kesuma sebagai Scholas Asian Ambassador.
Pendekatan pendidikan Scholas berpusat pada integrasi 3 hal penting, yaitu kepala atau pikiran, hati, dan tangan. Tiga hal tersebut mencerminkan misi untuk menciptakan ruang formatif sebagai bentuk refleksi, ekspresi, dan tindakan dalam menanggapi realitas sosial. Scholas mendorong para fasilitator untuk mewujudkan budaya perjumpaan yang muncul secara organik melalui kreasi kolaborasi.
Sebelum melakukan banyak hal bersama Scholas, para fasilitator diajak untuk mendengar. “Sebagai guru, cara kita mengajar adalah dengan mendengar. Kalau kita tidak mendengar, bagaimana murid bisa bercerita? Karena bagaimanapun sudut pandang guru dan murid pasti berbeda. Mendengar membuat kita belajar untuk mengerti,” kata Manuel Denza kepada para calon fasilitator.
Lebih lanjut ia menjelaskan, Scholas adalah gerakan bersama tanpa batas yang sama sekali tidak membicarakan tentang suku, agama, ras, dan golongan. “Scholas berfokus pada membuka ruang dialog seluas-luasnya melalui kombinasi bermain, seni, dan berpikir kritis,” paparnya.
Bermain, seni, dan berpikir kritis menawarkan cara baru untuk membuka ruang dialog yang bebas, kreatif, dan bermakna. Orang-orang yang terlibat dalam Scholas bisa mengeksplorasi budaya baru, menumbuhkan empati, dan membangun hubungan yang saling menguatkan berdasarkan pengalaman masing-masing.
Lahir Influencer Baru

Uskup Bogor Monsinyur Paskalis Bruno Syukur OFM pada hari kedua memberikan pesan dan harapan kepada para fasilitator. “Kalian adalah orang-orang yang pertama melaksanakan karya bersama atas dasar perjanjian Keuskupan Bogor dengan Scholas. Perlu tanggung jawab untuk menyebarluaskan spirit Scholas kepada orang-orang di sekitar kita,” ucapnya.
Ia berharap komunitas baru di Keuskupan Bogor ini dapat bergerak secara masif di media sosial. “Peran seperti apa yang diharapkan? Selain berbagai peran yang sudah kalian ambil, mari ikut juga dalam pewartaan di media sosial menjadi influencer yang memengaruhi hal-hal baik kepada orang lain, termasuk membagikan spirit Scholas,” pungkasnya.
Tidak lupa, Uskup Paskalis juga mengucapkan terima kasih kepada para peserta yang sudah mau hadir serta berkomitmen untuk berkarya bersama Scholas Bogor ke depannya.
Proficiat dan selamat berproses untuk Scholas Bogor! Dari Bogor untuk Indonesia.
Penulis: Aloisius Johnsis | Editor: Celine Anastasya