Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Panggilan Hidup

Panggilan Hidup

Matius  22:14 “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

Malam itu ada undangan syukuran tetangga yang merayakan anaknya ditabiskan. Rasa syukur keluarga itu diungkapkan dengan cara misa di rumah dengan mengundang tetangga, terutama umat Katolik sekelilingnya. Keluarga Mbah Dirjo, demikian orang kampung itu menyebutnya, telah mempersembahkan putranya menjadi seorang imam. Rasa haru, senang, dan aneka rasa mewarnai keluarga Mbah Dirjo yang hanya hidup seorang diri setelah ditinggal olah suaminya wafat. Ketekunan Mbah Dirjo dalam doa itu telah menghantarkan anaknya, Rm. Boni, menjadi seorang imam. Oleh karena itu,  rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk perayaan sederhana bersama umat sekitar.

Perayaan syukur tahbisan ini ibarat pesta pengantin. Rumah bilik bambu itu disulap dengan tenda-tenda sehingga menjadi tempat pesta. Ibarat pesta, para penduduk setempat pun ikut membantu melaksanakan hajatan itu. Terlihat muka sukaria terpancar dari para tetangga dan juga keluarga besar Mbah Dirjo karena anaknya boleh menjadi seorang romo. Ucapan selamatpun terus mengalir kepada keluarga besar karena peristiwa yang belum tentu setahun sekali terjadi di kampung ini. Peristiwa anugerah tahbisan di kampung ini akan lagi muncul setelah sekian lama. Oleh karena itu tidak ada alasan, peristiwa ini mesti dirayakan sekaligus sebagai kesaksian hidup.

 Pukul 17.00 misa itu dimulai dengan dipimpin oleh Romo Boni sendiri. Sementara pastor paroki di mana Romo Boni berasal hanya hadir dalam perayaan itu. Banyak undangan datang dalam misa itu dengan wajah gembira, termasuk Simbok dan Paijo tentunya. Pasti alasannya sanagat sederhana, yakni perbaikan gizi. Demikian perbincangan itu selalu muncul saat ada hajatan pasti ada perbaikan gizi, heeeee. Ketika ada  undangan hajatan, kita berbekal baju batik yang sedikit rapi sekalipun batik sudah lusuh karena itu satu-satunya batik yang dimiliki Paijo.

Dalam kotbahnya Romo Boni memberikan refleksinya, betapa dasyatnya sebuah doa dari seorang ibu. Romo Boni percaya bahwa semua ini bisa terjadi karena kuatnya doa ibu, yakni Mbah Dirjo yang akrab dipanggil kampung itu. Ketekunan doa itu memberikan sebuah kekuatan yang luar biasa dalam proses panggilan tanpa terkecuali. Setidaknya Romo Boni bersaksi sering mendengarkan ibunya berdoa di pagi hari ketika anak-anaknya belum pada bangun. Pasti mereka mendokan anak-anaknya, termasuk saya, “Iya kan mbok,” jelas Romo Boni menyebut ibunya dengan sapaan simbok, yakni Mbah Dirjo itu.  Mbah Dirjo pun hanya bisa tersenyum manggut-manggut tanpa memberikan jawaban lisan sebagai tanda setuju. Semua berjalan lancar berkat doa-doa itu. Demikan romo Boni mengakhiri homilinya itu.

Selepas misa semua bergembira seraya mengucapakan selamat kepada Romo Boni. Sebagian anak-anak muda pada tertarik pula mengikuti jalan Romo Boni, bahwa menjadi imam itu tidak hanya dari kota, tetapi dari desa pun juga bisa ketika manusia terbuka pada panggilan itu.

“Jo, Paijo. Kami gak pingin jadi romo,” tanya Yanti yang juga hadir di acara itu.

“Iya jo, Paijo. Gak pingin jadi romo,” Kata Menik memperkuat.

“Hmmmmmm, hmmmmmm,” suara Simbok yang juga ada di samping saya.

“Heeee,” sahut Paijo dengan senyuman. Ketika susah menjawab, Paijo hanya bisa ketawa dengan cengar cengir.

“Kasihan, simbok sendiri,” jawab Paijo spontan.

“Ihhhhh, Kok simbok disalahin. Itu kan pilihan hidupmu. Simbok mah, hanya bisa bedoa dan berdoa yang terbaik untuk anaknya,” kata simbok sambil menerima minuman dan makanan yang sudah mulai diedarkan.

“Heeeee, kalau itu kasihan kambing-kambing. Moso simbok mencari rumput sendiri,” jawab Paijo untuk memberikan alasan kedua kalinya.

“Ahhhhhh, itu alasan dibuat-buat,” kata Yanti dan Menik serentak.

“Waduhhhhh, mati deh saya, jawab apa lagi ya,” kata Paijo dalam hati.

“Ayoooooooo, sambil minum,” sela Paijo mengalihkan pembicaraan.

“Dahhhhh kebiasaan nih. Tiap kali kali gak bisa jawab mengalihkan pembicaraan,” seru Yanti yang sudah hapal dengan sifat Paijo.

“Yanti, Menik. Kamu tahu bahwa nilaiku tidak bisa melebihi kamu. Padahal menjadi romo itu harus pinter, rajin belajar, dan juga tekun berdoa. Semua itu masih jauh dari padaku,” bela Paijo sedikit masuk akal.

“Hmmmmm, begitu ya,” sahut Yanti dan Menik mengganguk, seraya minum teh hangat yang telah menjadi tradisi pesta ala kampung. Paijo sedikit lega sepertinya jawaban itu diterima dan masuk akal,

“Coba perhatikan, Romo Boni itu orangnya pinter, saudara-saudaranya juga baik dan semua memang telah teruji kriteria untuk menjadi imam,” sahut Paijo semakin mantap memebri alasan.

Ketika pembicaaran sudah mulai serius, simbok pun pindah tempat bersama teman sebayanya, semantara kami bertiga masih berbicara melanjutkan masalah panggilan itu.

“Jo, Paijo. Bukannya penilaian Tuhan itu berbeda dari apa yang dinilai manusia,” jelas Menik.

“Ahhhh, dari mana kamu tahu penilaian Tuhan beda dengan manusia?” tanya Paijo sambil menyeruput teh manis itu.

“Nah lupa ya kita pernah diskusi tentang alkitab. Bukannya ketika Israel mencari seorang raja, semua yang diajukan tidak ada yang cocok sekalipun mempunyai paras dan kuasa. Justru Daud yang diurapi yang katanya hanya seorang gembala seperti kamu,” kata Menik meyakinkan.

“Waduh, hmmmmm,” Paijo tidak berkutik seraya garuk-garuk kepala sekalipun tidak gatel.

“Hmmmmmm, wahhhhhhh. Kalian memang pinter berdebat dengan mengutip Kitab Suci,” kata Paijo.

“Jadi bagaimana?” desak Yanti memperkuat pernyataan Menik.

“Aduhhhhhh Tuhan, saya dikeroyok berdua tidak mampu jawab,” seru Paijo kembali dalam hati.

“Yaaaaaaa, saya belum bisa menjawab,” seru Paijo dengan sedikit agak malu.

“Dahhhhh, ayo makan dulu, itu sudah mau pada giliran kita,” seru Menik dan Yanti sambil menetertawakan Paijo yang mati kutu.

Percakapan itu terputus karena kita diajak doa bersama sebelum makan. Makanan sudah ada ditangan masing-masing sehingga kesibukan percakapan teerhenti oleh karena makanan itu. Selesai makan makan, acara pun selesai dan kami pun bubar. Sebelum pulang kembali kami bertiga menghampiri Romo Boni untuk mengucapkan selamat.

“Selamat ya Romo Boni,” ucap kami bertiga bergantian.

“Ini Paijo juga akan menyusul jadi romo,” kata Menik dan Yanti seraya bercanda dan tertawa.

“Ohhhhh, Bagus itu Paijo,” sambut Romo Boni antusias.

Akhhirnya kami pun berpisah dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah kami disambut oleh suara kambing,” embekkkkkk, Embekkkkkk”.

“Wah, Mbok sepertinya kambingnya iri kepada kita,” seru Paijo kepada simbok.

“Iri apa Jo, Paijo,” tanya Simbok.

“Iri kita habis pesta,” heeeee jawab Paijo.

“Embekkkkk embekkkk,” terdengar lagi suara itu

“Bukan Jo, Paijo. Itu bukan suara iri. Tapi itu bertanya apakah Paijo pingin jadi romo?” seru Simbok sambil ternyum meninggalkan Paijo.

“Ah dasar, Simbok, Yanti, Menik, dan kambing pun ikut bersengkokol. Embekkkkk embek,” seru Paijo seraya masuk kamar.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top