Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Maria Mater Dei

Maria Mater Dei

Yoh 19:27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sore itu cuaca di kampung sangat bersahabat. Cuaca terasa sejak setelah seharian diguyur hujan. Di penghujung Desember, cuaca cerah seakan menyambut setiap orang yang ingin merayakan tahun baru. Mereka sangat bersukaria menyiapkan pergantian tahun. Semua orang merasa bahagia menyambut tahun baru. Terlebih, mereka ingin mengungkapkan suka citanya setelah sekian lama terbalut duka oleh virus Corona. Waktunya manusia bersyukur kepada Tuhan atas segala kehidupan yang berlalu, terutama kedukaan selama ini. Sore di penghujung tahun ini, banyak orang berkumpul untuk melepaskan segala kepenatan dan bersyukur saat orang boleh melewati tahun yang baru.

Petasan dan kembang api itu telah terdengar sejak sore. Semua orang ikut bergembira, anak-anak pun juga tidak ketinggalan. Suara ledakan petasan silih berganti terdengar dari sudut-sudut kampung. Mereka mengungkapkan rasa syukur itu dengan gegap gempita. Sebagian orang hilir mudik berkeliling menggunakan sepeda onthel dan sebagian sepeda motor. Kegembiraan mereka terpancar dengan tertawa ria. Itulah suasana kebahagiaan sesungguhnya, setelah sekian lama terpenjara oleh musibah bersama.

Tahun baru merupakan peristiwa pergantian tahun yang rutin dilakukan setiap tahun. Akan tetapi, setiap tahun pula mempunyai perbedaan cara memaknai. Perayaan itu dilakukan semua orang di mana pun berada, bedanya mereka merayakan dengan aneka cara.

Semua perayaan itu mempunyai satu tujuan, yakni bergembira. Harapan baru ditatap dengan lapang sekalipun banyak orang yang takut karena ramalan orang terhadap tahun yang akan datang. Kegembiraan tahun baru itu telah mengalahkan ramalan-ramalan yang sering kali menakutkan. Daripada hanyut pada ramalan itu, orang-orang lebih senang menghabiskan waktunya bergembira.

Teeeeeeettttt, Duar Duar,” terdengar suara terompet dan petasan di kampung silih berganti. Mereka telah mengawali kegembiraan itu, sekalipun matahari baru saja terbenam.

“Teeeeeettt, teeettt, Duar Duar,” kembali terompet dan petasan itu berbunyi.

Suara bising itu telah mengusik hati Paijo sendirian di rumah. Paijo tidak mempunyai uang untuk beli terompet atau pun petasan. Ia hanya menanti tahun baru dengan menghibur diri seraya menyanyikan lagu-lagu kesayangan lewat radionya. Radio tua itu menemani Paijo menghabiskan waktunya menyambut tahun baru.

Paijo hanya bisa merayakan seorang diri di beranda rumah. Ia membuat teh panas dimasukkan termos dengan merebus singkong dari kebon yang dicabut tadi siang. Gembira itu sederhana yang penting manusia bisa bersyukur kepada Tuhan.

Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu,….” Terdengar suara Gombloh dari radio tua itu. Paijo pun ikut menyanyikan dengan gembira, sekalipun lagu itu memberikan nuansa kesedihan. Tampaknya lagu itu menggambarkan diri Paijo yang terperana dalam keheningan malam tahun baru sendiri.

Kugadaikan cintamu….. Yaaaa,” begitu lirik itu terdengar dinyanyikan lebih keras oleh Paijo. Tampaknya lagu itu dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Bisa jadi lagu itu gambaran hidup Paijo sehingga lagu itu seakan menjadi seruan hatinya. Paijo menyanyikan dengan sangat menjiwai.

Paijo bergembira seorang diri seraya menyeruput teh yang dituang dari termos hijau tinggalan si mbok. Tahun baru adalah perayaan bersama umat di dunia. Gereja pun merayakan peristiwa penting, yakni Mater Dei, Bunda Allah. Perayaan ini biasanya dirayakan bersama di paroki setiap pukul 00.00 WIB. Pada saat Covid belum mereda sepenuhnya, Gereja meniadakan Ekaristi agung di pergantian tahun.

Akibatnya, banyak orang melupakan bahwa 1 Januari adalah Hari Raya Bunda Allah. Perayaan agung ini jarang dihadiri oleh umat karena mereka telah habis tenaganya merayakan pesta tahun baru. Banyak orang merayakan hingga larut sehingga paginya mereka tidak lagi berdaya merayakan Bunda Allah.

Kini Paijo pun hanya bisa berdoa seorang diri di beranda rumah. Pada pukul 00.00 Paijo pun berdoa seorang diri bersyukur atas karunia Tuhan. Selesai berdoa Paijo menyeruput teh dan makan singkong rebus di awal tahun baru. Selesai berdoa, Paijo meneruskan begadang dengan mengganti acara radio. Ia mendengarkan wayang kulit. Ia rebahan di beranda rumah itu dengan mengenakan sarung tinggalan Simbok.

Antara tidur dan sadar Paijo terus mendengarkan wayang kulit oleh dalang fenomenal itu. Paijo mendengarkannya seraya tidur dan angan-angannya melayang tanpa tujuan. Sayup-sayup Paijo mendengar cerita wayang itu seperti dininabobokkan. Ia terhanyut kesunyian setelah terlelap dalam tidurnya, tanpa mematikan radio tua itu.

Duar-duar duar,” suara itu terdengar dan membuat Paijo terjatuh dari beranda depan. Ternyata Paimin dan Parman datang sengaja menyalakan mercon untuk membangun Paijo yang nyenyak tertidur hingga matahari terbit. Paijo pun mendengarkan radio dengan beda program.

Ahhhh, semprul,” seru Paijo terkejut.

Heeee, Haaa,” tawa Parman dan Paimin.

Ahhhh, ganggu orang tidur saja,” seru Paijo.

Jooooo, Paijoooo, lihat itu. Matahari telah terbit. Ayo kita ke gereja, ini perayaan Bunda Allah,” ajak Parman.

Waduhhhh, iyaaaaa, terlambat,” seru Paijo seraya pergi ke kamar mandi untuk membersih kan diri.  Tidak beberapa lama, Paijo keluar dengan pakaian seadanya untuk pergi ke gereja bersama kawan-kawannya.

Haaaaaaaaa, haaaaaa, wkwkwk,” ketawa Parman dan Parmin.

Embekkkkk, embekkkk embekkk,” kambing pun ikut menertawakan.

Kenapa?” tanya Paijo heran diketawain.

Joooo, Paijo, bajumu terbalikkk, wkwkwkwk,” tawa Parman.

Ahhhhh,” seru Paijo sambil tertawa sendiri karena malu. Ia melepas baju dan membalikkannya,

Joooo, Paijo, dasar wong ndeso,” seru Paijo menertawakan dirinya, seraya pergi ke gereja bertiga. Mereka pun berjalan sambil ketawa ketiwi menertawakan Paijo.

Happy New Year,” serua mereka bertiga seraya bergembira.

 

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

 

 

Leave a Reply

Top