Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Maria est Stella Matutina

Maria est Stella Matutina

Loading

Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

Mateus 2:9-10

Kebingungan dan kegundahan masih menyelimuti bangsa yang diterpa pandemi. Manusia menjadi kalang kabut menghadapi peristiwa yang sangat dahsyat ini. Penyakit ini menyerang kepada semua orang tanpa pandang bulu. Anak-anak, orang dewasa, orang tua tidak bisa menghindar kala penyakit itu hinggap padanya. Penderitaan dan kematian menghiasi dunia ini tanpa henti. Air mata telah terkuras habis setiap kali mendengar saudara-saudari, tetangga, dan kenalan silih berganti menghadap Tuhan. Peristiwa ini sangat memilukan hati sehingga manusia sepertinya sudah hilang harapan. Manusia hanya bisa pasrah dengan usaha sebisanya. Kini orang-orang menyadari pandemi yang masih mengelilingi, jadi manusia hanya bisa menganggap peristiwa dahsyat ini sebagai kawan. Manusia hanya bisa  hidup berdampingan dengannya. Semua itu adalah bentuk kepasrahan manusia untuk menghadapi semua itu.

Sekalipun situasi memaksa begitu, manusia tetap berupaya  mengatasi persoalan ini. Manusia diberi akal budi untuk memecahkannya demi keadaan kembali seperti semula. Kekalutan yang sedang menimpa bangsa itu bisa juga terjadi kepada setiap orang  melalui aneka peristiwa. Hal itu terjadi digambarkan dalam diri orang Majus yang ingin menyembah bayi Yesus.

Mereka mengalami kegundahan, bahkan orang Majus itu meminta bantuan dari Herodes untuk mengatasi kegundahan itu, sekalipun Herodes tidak bisa pula memberikan jawaban atas kegundahan itu. Herodes hanya bisa menjawab sesuai apa yang diperoleh dari para ahli kitab saat itu. Ini adalah sebuah sebuah jawaban sekaligus teka teki yang mesti dipecahkan sendiri. Tuhan berkarya pada waktunya, saat manusia sungguh-sungguh mendengarkan kehendak-Nya. Bintang itu menjadi petunjuk perjalanan orang Majus itu.  Tuhan memberikan jawaban melalui alam sebab  tanda alam itu sangat mudah dipahami oleh orang Majus itu. Tuhan memberikan petunjuk sesuai dengan kapasitas manusia.

Kehidupan manusia tidak lepas dari hantaman persoalan, entah pandemi, penderitaan, persekusi ataupun tindakan yang sering kali mengancam hidup. Semua itu adalah bagian hidup manusia yang tidak dapat dielakkan. Tantangan itu pertama-tama menjadikan sebuah sarana kesadaran bahwa manusia pada prinsipnya adalah terbatas. Manusia butuh Tuhan yang menuntun hidupnya, sekalipun tuntutan itu kadang melalui alam. Orang Majus dituntun melalui bintang, demikian juga manusia pasti dituntun dengan aneka peristiwa yang sangat bervariasi.

Kegundahan itu ternyata juga dialami oleh Paijo yang kini hidup seorang diri. Dia harus berjuang mengatasi segala hidupnya seorang diri. Kambing-kambing menjadi temannya yang disapa setiap hari. Kebun adalah tempat kerjanya dan gua Maria tempat Paijo mengadu hidupnya. Dalam kegundahan ini Paijo pergi mengayuh sepedanya setelah memberi makan dan minum kambing-kambingnya. Paijo tidak lagi bisa meninggalkan seharian penuh rumahnya karena ia harus mengurus kambing seorang diri. Ia tidak menitipkan lagi ke Simbok kala Paijo pergi.

Kring Kring Kring,” sepeda Paijo melunjur dan sesekali Paijo mengisi waktunya dengan membunyikan bel sepedanya. Setiap kayuhan, Paijo selalu mengiringi doa Salam Maria. Ini kebiasaan Paijo kala mengayuh sepeda. Oktober ini, Paijo ingin bersimpuh di depan Bunda Maria untuk mohon restu terhadap perjalanan hidupnya ini. Keyakinan kepada Bunda Maria telah tertanam dalam hatinya sejak kecil. Paijo selalu mendengarkan alunan doanya Simbok saat menjelang pagi. Doa Salam Maria yang terdengar dalam tidur itu telah merasuk dalam hatinya, sehingga  Paijo ikut berdevosi kepada Bunda Maria. Setelah beberapa saat Paijo mengayuh, sampailah di Gua Maria itu. Segera Paijo menyandarkan sepedanya di tempat parkir dan dia mengambil air dari gua itu untuk diminum. Paijo tidak takut sakit, sekalipun dia minum air mentah dari gua Maria. Maklum Paijo tidak mempunyai uang untuk membeli minum dan makanan.

Salam Maria…..” mulai terdengar lirih dari mulut Paijo dalam doa Rosario. Doa yang sangat menyejukkan hatinya saat kegundahan itu tiba. Paijo mempunyai intensi agar segera terbebas dari pandemi dan situasi kembali damai lagi. Pandemi telah membuat Paijo tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hidupnya hanya tergantung pada kebun dan kemurahan hati orang lain. Apa lagi Paijo yang telah ditinggal Simbok pada masa sulit ini. Peristiwa sangat  membuat hidupnya berubah. Dunia itu seakan jatuh dan menimpa dirinya.

Selesai berdoa Rosario, Paijo hening dan melanjutkan doa khusuk sekali. Keheningan itu telah membuat dia tidak lagi terganggu oleh orang-orang yang datang ke gua Maria di awal Oktober ini. Suara-suara orang-orang dan suara mereka berselfie ria pun tidak menggugah keheningannya.

Jo, Paijo, Aku pamit dulu,” terdengar bisikan lirih dari seseorang saat Paijo masih hening. Bisikan itu pun tidak menggugah kekhusukan doanya. Setelah suara berisik mulai berkurang dan lambat laun hilang, Paijo pun berhenti dari doanya.

Astaga,” seru Paijo dengan nada kaget. Di samping Paijo ada bungkus makanan dan minuman dengan tertulis selembar kertas, “Untuk Paijo Wong NDESO”.

Wahhhhh, ini dari siapa?” tanya Paijo dalam hati. Ia mau bertanya, namun tidak ada lagi orang di depan gua Maria. Sementara tulisan itu menunjukkan orang yang telah Paijo kenal.

Hmmmmmm, pasti dari mereka,” kata Paijo dalam hati. Akhirnya Paijo pun membawa bungkusan dan minuman itu. Dia membawa ke sebuah saung yang tidak jauh dari gua. Sebab tidak boleh makan di sekitar area Gua Maria. Paijo pun numpang makan sejenak di tempat itu seorang diri. Ternyata makanan yang sangat Paijo suka, sehingga Paijo pun semakin curiga pasti mereka berdua.

Hmmmm,” Paijo mengunyah makanan dengan diselingi minum sesekali. Dalam hati Paijo sudah menebak dari mana asal makanan dan minuman itu. Selesai makan, Paijo pun mengucapkan terima kasih Tuhan atas anugerah ini. Inilah karya Allah yang tidak terduga, ketika lapar dan haus, Tuhan mempunyai cara membantu umatnya. Melalui Bunda Maria banyak doa dikabulkan, Maria menunjukkan penerang bagi orang yang membutuhkan. Maria seperti bintang pagi yang selalu menunjukkan arah kepada para pelaut yang sedang berlayar.  Maka Maria disebut Stella Matutina, bintang pagi yang selalu memberikan petunjuk. Demikian juga Paijo, dalam kegalauan dengan menahan rasa lapar dan haus, ada orang yang memberikannya.

Astaga,” Paijo dikagetkan kedua kalinya. Di sepeda ada tulisan, PAIJO WONG NDESO” dan ditandatangani. Dari tulisan dan tanda tangan, Paijo mulai mengenal apalagi ada singkatan dua huruf MY, alias Menik Yanti.

Menikkkkk, Yantiiii.  Tega sekali kamu ngerjain aku,” seru Paijo dalam hati. Antara sedih dan senang bercampur aduk. Sedih tidak bisa bertemu dengan mereka, senang mendapat makanan dan minuman.

Kringgggg, Kringgggg, Kringggg,” Paijo pun kembali mengayuh sepedanya pulang karena malam hampir tiba. Paijo mengayuh dengan sekuat tenaga agar tidak terlalu gelap sampai di rumah. Paijo terus mengayuh dan rantai sepeda  Paijo putus karena kayuhan yang bersemangat itu.

Wahhhhh, ada-ada saja,” seru Paijo dalam hati. Kini Paijo menuntun sepedanya saat gelap mulai menyelimuti. Paijo tidak takut, hanya harus berhati-hati karena tidak semua jalan mulus. Selang beberapa waktu, ada seorang mengendarai motor dan lampu motornya menyoroti Paijo yang menuntun sepeda.

Nak, ayo saya antarkan, kerumah,” seru bapak yang baik hati.

Terima kasih pak,” sahut Paijo dengan segera membonceng seraya menuntun sepeda dari boncengan. Paijo pun tidak banyak tanya siapa bapak ini, hanya bapak itu minta Paijo menunjukkan arah jalan ke rumah. Setelah beberapa lama, sampailah ke rumah dan bapak itu langsung pamitan dan tidak sempat berbincang-bincang. Paijo hanya bisa mengucapkan terima kasih dan bapak itu pergi.

Waduh luar biasa kuasa doa. Tuhan selalu menolong tepat waktunya,” seru Paijo dalam hati seraya masuk rumah sambil menuntun sepedanya.

Jooooo, Paijooooo, kamu harus berbuat baik kepada sesama, sekalipun tidak mengenalnya. Kamu telah dibantu banyak orang, maka jadilah seperti bintang pagi yang memberikan petunjuk dan penerang sekalipun kecil. Penting diingat, jika berbuat baik janganlah orang lain tahu, seperti Mateus mengatakan, “6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”, Seru Paijo dalam hati mengingat kata-kata simbok kala itu.

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top