Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Lansia dan Seni Meninggal Dunia

Lansia dan Seni Meninggal Dunia

Komunitas Lansia Paroki BMV Katedral Bogor menggelar pertemuan daring bertajuk “Mamento Mori”, Sabtu (24/10) pagi. Sekitar 60 lansia bergabung dalam Zoom Meeting, sebuah aplikasi temu virtual yang tersaji dalam bentuk audio dan visual. Sukacita sudah terlihat beberapa waktu sebelum dimulai. Para Lansia saling menyapa satu sama lain sebagai obat penawar rindu karena sudah lama tak bertemu.

Hadir sebagai narasumber Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor RD Paulus Haruna, Vikaris Paroki BMV Katedral RD Paulus Piter, dan Ngaloken Ginting sebagai moderator.

Dalam talkshow selama 2 jam tersebut para lansia mendengarkan pemaparan materi tentang seni meninggal dunia dan indulgensi dalam Gereja Katolik.

Memento mori adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang artinya adalah “Ingatlah akan kematianmu”, tetapi juga “Ingatlah untuk mati.” Kalimat ini adalah semboyan para frater Trappa.

Memento mori mengajarkan manusia untuk selalu memberikan yang terbaik dalam hidup ini, dalam menjalani aktivitas sehari-hari lakukanlah semuanya itu seolah-olah itu adalah hari terakhir dalam hidup. Sehingga semua yang dilakukan memiliki arti bagi diri sendiri maupun orang lain.

RD Paulus Haruna dalam materinya tentang seni meninggal dunia mengatakan bahwa persiapan menyambut kematian itu penting. “Karena kematian meruapakan saat-saat terakhir yang menentukan keselamatan kita. Menurut KGK 1021, kematian adalah saat kita beralih dari kehidupan dunia kepada kehidupan yang akan datang,” ujarnya.

Ilustrasi Gereja menyapa lansia. Dok. Komsos BMV Katedral

Peran Gereja dalam Kematian

Gereja memberikan berbagai pelayanan rohani kepada umat Katolik yang mendekati kematian. Seperti sakramen pengurapan orang sakit, pengakuan dosa, dan komuni bekal suci. Penerimaan ketiga sakramen ini secara istimewa mempersiapkan umat menuju tanah air surgawi.

Dalam Jangka panjang, umat bisa mepersiapkan diri dengan pola hidup suci. “Hidup suci atau kudus adalah hidup yang selaras dengan kehendak Allah yang mengandung dua dimensi, yakni mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Hidup suci tidak hanya berdoa melulu di hadapan Tuhan, tetapi juga hidup dengan kreatif dan produktif bagi sesama,” jelas Pastor Haruna.

Gereja mempersiapkan kita dengan liturgi, antara lain melalui nyanyian, bacaan, doa-doa untuk menghadapi kematian. Seluruh liturgi Gereja terutama Ekaristi tidak hanya menyajikan doa permohonan untuk orang yang sudah meninggal tetapi juga mengajak umat untuk punya harapan terhadap kebahagiaan dan penebusan surgawi di akhir zaman.

Pertemuan perdana Komunitas Lansia beberapa bulan silam. Dok. Komsos BMV Katedral

Indulgensi, untuk Orang yang Hidup Maupun Sudah Meninggal

Pada sesi kedua, Pastor Piter memaparkan materi tentang indulgensi. Gereja dengan kuasa mengajar memberikan indulgensi kepada umat beriman untuk dirinya maupun orang yang sudah meninggal. “Indulgensi sendiri adalah pembebasan hukuman yang disebabkan oleh dosa yang sudah disesali maupun diampuni,” paparnya.

Ada 2 macam indulgensi, sebagai dan penuh. Indulgensi penuh adalah pembebasan total dari hukuman sementara yang diakibatkan oleh dosa-dosanya dan karena pembebasan itu orang siap bertatap muka dengan Allah. Sedangkan indulgensi sebagian adalah pengampunan sebagian dari hukuman sementara yang diberikan gereja kepada orang beriman yang melakukan suatu perbuatan yang berpaut dengan indulgensi sebagian.

Setiap orang beriman dapat memperoleh indulgensi bagi diri sendiri maupun orang yang telah meninggal. Agar seseorang mampu menerima indulgensi, ia harus sudah dibaptis, tidak terkena ekskomunikasi, dan dalam keadaan rahmat sekurang-kurangnya pada akhir perbuatan-perbuatan yang diperintahkan.

Ketua Seksi Keluarga Rudijanto dalam sapaannya menceritakan proses terjadinya pertemuan virtual ini. “Kegiatan ini sudah dirancang pada Juli 2020 untuk memperingati hari Lansia Nasional, tetapi karena pandemi jadi tertunda. Hari ini para pengurus komunitas lansia memberanikan diri untuk menyelenggarakan kegiatan ini secara daring. Tentu ini adalah pengalaman baru untuk para lansia yang sering kali dikaitkan dengan gaptek (gagap teknologi, red). Tetapi itu tidak valid karena ternyata hari ini kita bisa bertemu dengan lancar,” pungkasnya.

Selain pemaparan materi, pertemuan kali ini juga berisi tanya jawab dan menjadi ajang temu kangen karena sudah lebih dari setengah tahun tidak berjumpa dan berkegiatan.

(AJ)

One thought on “Lansia dan Seni Meninggal Dunia

  1. Terima kasih atas terselenggaranya acara Temu kangen on line. Kalau bisa agar dilakukan acara talk show dg topik yang memberikam semangat dan suka cita bagi para Lansia.,, minimal sebulan satukali.Berkah Dalem.

Leave a Reply

Top