Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Domine, Adiuva me

Domine, Adiuva me

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”

Mateus 14:30

Sungai itu adalah tempat main anak-anak kampung kala air tidak begitu deras. Tempat anak-anak kampung berenang sepuasnya tanpa menghiraukan bahaya. Alam menjadi bagian hidupnya sejak kecil dan anak-anak mulai belajar dari alam. Sungai itu tidak jernih, sungai itu berwarna merah tanah, namun aliran sungai yang keruh itu tidak mengurangi kebahagiaan anak-anak bermain di dalamnya. Laki-laki dan perempuan pun bermain bersama tanpa ada sekat-sekat yang membatasi mereka bergembira. Kegembiraan itu adalah anugerah yang tidak bisa disekat ego, norma atau doktrin apapun. Kecerian anak-anak itu memberikan gambaran berteman sesungguhnya. Demikian Yesus kiranya memberikan gambaran kepada para murid hendaklah seperti anak-anak kecil, karena merekalah empunya kerajaan Surga (Bdk. Mateus 18:3-4). Nas ini menyiratkan bahwa persabahatan itu tulus tanpa ada kecurigaan, tanpa ada keirian, melainkan sukacita bersama.

Liburan sekolah telah tiba, seperti biasa waktu libur adalah saat yang tepat untuk bermain. Alam menjadi sarana mereka bermain, karena alam adalah bagian dari permainan itu. Pagi itu cuaca sangat segar, matahari telah bersinar, dan  banyak orang pada hilir mudik ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka. Sementara Paijo, Paimin, dan Parman sudah berencana untuk berenang di sungai, maklum kampung tidak ada kolam renang. Jadi sungai itulah kolam renang alami. Itu pun mesti nunggu jika ada air yang cukup sebab sering kali sungai itupun kering kerontang di musim kemarau panjang. Sungai itu memang tidak begitu besar, dan air mengalir tidak begitu deras, sehingga aman untuk bermain bersama. Suka cita bisa menjadi sebuah wahana yang tidak bisa lagi dibeli dengan uang.

Pagi itu Paijo, Paimin dan Parman bergegas mengisi waktu liburan itu. Mereka bertiga membuat janjian bertemu di pos penjagan kampung itu. Setelah bertiga berkumpul, mereka berangkat dengan raut muka gembira. Mereka berjalan sambil bercanda ria bersama ala anak kampung pada umumnya. Jalan tanpa alas kaki dah menjadi menu hariannya, jadi tidak heran jika kaki mereka pada pecah-pecah alias kapalan. Rambut mereka pun berwana blode layaknya orang eropa umumnya. Warna itu bukan karena disemir di salon, namun disemir oleh teriknya matahari. Pokoknya serba alami, tanpa rekayasa. Begitulah mereka bertiga menerima diri apa adanya keadaan itu.

            “Wuihhhhh, lumayan airnya tidak begitu keruh,” seru Paijo seraya menunjuk tempat itu. Sebetulnya sejernih-jernihnya Paijo ngomong, sungai itu tetap keruh.

            “Wahhhhhh, dah tidak sabar nih, pingin langsung nyebur,” seru Parman

            “Ayooooo, cepat,” ajak Parman seraya lari duluan.

Sesampainya di tempat, mereka bertiga melepas baju dan hanya  mengenakan celana. Mereka bertiga pun tidak mebawa ganti pakaian, mereka biasa berenang dan setelah itu berjemur sampai celana kering sendiri. Tanpa basa basi, mereka bertiga tenpa mengenakan baju dan langsung terjun ke sungai. Badan kurus terbalut tulang berenang ala kadarnya, tidak ada gaya sesuai teknik berenang, yang ada mereka bisa terapung seraya berteriak kegembiraan. Panasnya sinar matahari tidak mereka rasakan, badan semakin hitam dan rambut semakin memerah tidak dihiraukan. Mereka  bersenang dan senang di sungai itu seraya bercanda. Mereka tidak lagi memikirkan apakah badan akan gatal-gatal atau tidak, mereka tidak peduli itu terjadi. Perasaan senang telah mengalahkan semua itu. Sesekali mereka menepi dan dekat sungai itu ada pohon yang menjulur. Mereka naik pohon dan lompat ke sungai itu sambil teriak, kebahagiaan yang tidak ternilai.

Dua jam telah berlalu tidak mereka rasakan. Bercanda ria di sungai itu memberikan ruang batin yang dalam. Mereka bergembira dan bersatu dengan alam seraya tertawa silih berganti mewarnai suasana di tempat itu. Tiba-suasana itu sedikit berubah karena Parman kecapaian dan hampir tenggalam, terlihat tangannya melambaikan seperti minta tolong. Terdengar suara,”Jo, Paijo, tolong aku”. Ini bukan gaya dada dalam bererang, namun tangan melambai minta tolong. Segera Paijo dan Paimin mengulurkan tangan bersama satu megang tangan kanan dan satu megang tangan kiri, jadi Parman terselamatkan dari arus sungai sekalipun tidak begitu deras. Kecapaian dan lapar membuat dia hampir tenggelam.

            “Puji Tuhan, kamu masih selamat Man, Parman,” seru Paijo dan Paimin serentak.

            “Yaaaa, terima kasih, bro,” jawab Parman dengan gaya bahasa anak kota.

            “Ok, no what what,” jawab Paijo sok English.

            “Wuihhhh, apa itu no what what?” tanya Parman.

            “Oh, itu Bahasa gaul juga, artinya tidak apa-apa, heeeeee,”  jawab Paijo sok melucu.

            “Ahhhhh, gak lucu Jo, Paijo,” sahut Paimin sambil tersenyum.

            “Nahhhh, itu tersenyum, berarti lucu donk?” sahut Paijo.

            “Ya sih, tapi lucunya dikit saja, heeeee,” sahut Parman ikut nimbrung.

            “Nahhhh, berarti Parman sudah vit, terlihat dia sudah bisa bercanda lagi. Tadi terlihat pucat, aku lihat dia udah minum air sungai juga, wkwkwkwkwk,” canda Paijo.

            “Iya, nih, aku tadi sempat minum air sungai,” sahut Parman agak sedikit malu.

            “Ahhhh gak papa, itu jadi vitamin. Airnya manis donk, kan warna sungai seperti gula merah, haaaaaaa,” seru Paimin menyela sambil ketawa.

Merekapun akhirnya mencari tempat untuk berjemur di atas batu biar celananya kering. Selama duduk merekapun masih bisa bercanda lagi karena Parman sudah pulih dari kepanikan itu. Di atas batu mereka pun berbicang dan sharing atas kehidupan. Pengalaman Parman itu seperti santo Petrus yang diselamatkan dari angin sakal. Petrus yang akan tenggelam ditolong oleh Yesus, maka selamatlah Petrus dari amukan badai angin sakal. Demikian tangan Paijo dan Paimin telah menyelamatkan Parman yang hampir tenggelam karena kecapaian. Mereka terus bersyukur atas situasi yang dialami. Liburan ini hampir menjadi sebuah tragedi, namun ternyata Tuhan masih memberikan keselamatan kepada mereka bertiga. Maka sebagai rasa syukur merekapun berdoa di atas batu itu sambil berjemur. Kiranya waktu telah berlalu juga, celana yang dipakai pun sudah mulai kering sekalipun kurang sempurna. Maka merekapun beranjak ingin pulang. Ketika mereka mau beranjak, ada angin putar atau badai kecil melewati dekat kami bertiga duduk.

            Kami bersyukur lagi, angin itu tidak menerjang kami, namun angin itu menerjang baju-baju kami yang juga kami letakkan di pingir sungai. Angin itu membawa baju dan masuk ke sungai dan hanyut.

            “Wahhhhhh, baju kita kecebur sungai dan hanyut,” seru Paijo sambil menunjuk baju yang hanyut itu. Selamat dari badai, tetapi baju hanyut. Jadilah mereka bertiga pulang tanpa memakai baju. Dalam perjalanan, mereka saling memandang bagaimana nanti menjelaskan kepada orang jika bertemu.

Jalan-jalan tidak pakai baju, seperti orang main di pantai. Padahal di kampung tidak ada pantai,” kata Paijo sambil tetap ketawa-ketiwi, sekalipun mereka cemas.

            “Waduhhhh, malu kita ini, dikira orang gila. Badan kerempeng, alais kurang gizi, jalan kaki panas-panas, tidak pakai baju lagi,” seru Paimin.

            “Semoga kita tidak ketemu orang yang kita kenal, jadi tidak malu,” seru Parman.

            Mereka pun akhirya pulang bersama melewat jalan yang agak sepi. Di tengah jalan alangkah kagetnya, kami bertemu Menik dan Yanti.

            “Aduuuuuuhhhh, betapa malunya,” seru Paijo dalam hati.

            “Waduhhhhh, pada ngapain kalian bertiga tidak pakai baju, berjalan. Memang kalian sedang di pantai?” tanya Menik sambil ketawa heran.

            “Iya, pada ngapain, kalian ini,” timpal Yanti

            “Hmmmmm, ini kami sedang latihan ikut karnval,” sahut Paijo sedapatnya dengan terbata-bata.

            “Ahhhh karnaval, ini kan sudah September, masa masih mau karnaval,” seru Yanti sambil tersenyum-senyum melihat keanehan tingkah mereka bertiga.

            “Emmmmmmm,” kami bertiga tidak lagi bisa menjawab kecuali saling sikut-sikutan karena malu.

            “Satu, dua tiga, ayooooo lariiiii,” seru Paijo mengajak teman-temannya lari.

            Kamipun akhirnya lari meninggalkan Yanti dan menik. Sementara Menik dan Yanti  melihat dengan heran. Akhirnya mereka pun berpisah dengan lari sampai ke rumah masing-masing.

            “Embekkkkkk, embekkkkkk,” kambing mulai menyapa Paijo.

            “Embekkkk, embekkkk, menghina aku tidak pakai baju ya. Senang ya aku malu di depan Yanti dan Menik,” seru Paijo jadi baper.

            “Embekkkkk, embeekkk,” sahut kambing itu sepertinya gembira bisa meledek Paijo yang bajunya hanyut  di sungai.

            “Jo, Paijooooo, dasar wong deso renang di sungai bajunya hanyut, heeeee,” seru Paijo seraya ke kamar mandi untuk mandi.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top