Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Hidup Bakti

Hidup Bakti

Mat 19:12 “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Gadis itu bernama Melati. Badannya langsing, mukanya ayu, rambutnya lurus, dan mempunyai kulit sawo matang. Ia tinggal bersama neneknya sejak kecil karena orang tua mereka sudah meninggal, terutama ibunya meninggal sesudah ia melahirkan Melati. Neneknya merawat Melati sejak kecil hingga dewasa. Keayuan wajahnya tergurat dari raut mukanya, ditambah senyum sapanya yang menjadi ciri khasnya. Ia selalu menyapa dengan senyum kepada setiap orang yang dijumpai. Perangainya membuat banyak orang menyukainya.

Neneknya merawat Melati seperti anaknya sendiri. Neneknya juga selalu mendidik iman Melati sebagai Katolik yang baik. Kesederhanaan hidupnya ditanamkan dalam diri Melati, sekalipun orang tuanya dulu berkecukupan. Hidup perkotaan tidak pernah ia kenyam salama masa kecil sampai masa dewasa, mesti Melati dilahirkan di kota. Syukurlah, neneknya memberikan pendidikan iman Katolik yang baik. Doa, puasa, dan amal selalu ditanamkan dalam hidupnya. Ajaran nenek itu menambah nilai tambah bagi Melati menjalani hidup sekalipun ia tidak pernah melihat orang tuanya.

Penampilannya membuat anak-anak remaja tertarik pada Melati. Setiap kali ia pergi gereja, semua orang ingin mendekat dan menyapanya. Banyak cara anak-anak remaja mengambil hati Melati untuk menjadi teman dekatnya, bahkan para remaja putri pun sangat bergembira bermain bersamanya. Demikian juga Paijo, Parman, dan Paimin tidak ketinggalan untuk mendekati Melati.

Masa praPaskah adalah waktu bagi setiap orang Katolik untuk mendekatkan diri dengan Allah melalui puasa, doa, dan amal. Jalan salib merupakan salah satu doa yang dilakukan setiap Jumat. Anak-anak remaja itu pada hadir, setidaknya kehadiran Melati mendorong anak-anak OMK untuk ikut hadir jalan salib. Mereka berusaha keras untuk mendekatinya, apalagi selesai jalan salib.

Jumat itu giliran anak-anak OMK tugas jalan salib. Ini sebuah peristiwa menyenangkan sebab Melati pasti ambil bagian di dalamnya. Semua OMK banyak yang berpartisipasi, semua itu tergerak untuk ambil bagian. Pembawaan Melati memang membawa berkat tersendiri sehingga menggerakkan banyak orang untuk berteman dekat dengannya. Selepas tugas jalan salib, anak-anak OMK seperti bisa berkumpul sambil bincang-bincang kecil. Mereka kebanyakan mencari simpatik Melati agar mau mendekat, heeeee.

“Melati, suaramu bagus pas mimpin tadi,” puji Parman mengawali pendekatannya.

“Hmmmmm, Hmmmmm, pasti ada maunya,” celetuk Dian anak OKM yang juga di dalam kelompok itu.

“Heeeeee, boleh donk, namanya usaha,” seru Parman sambil bercanda.

“Iya terima, kasih,” jawab Melati sambil tersenyum.

“Nahhhh, itu. Melati sudah tersenyum, pasti kalian pada GRRRRR, ya,” timpal Dian teman sekolah Melati itu.

“Ahhhh, kamu bodyguard ya, heeee,” seru Paijo ikut bercanda.

“Ahhhh, kamu juga kan Jo, Paijo. Aku bilangin Menik sama Yanti lho, heeee,” seru Dian sambil mengancam.

“Ah, mengadu nihhhh,” sahut Parmin membela Paijo.

“Sudah, sudah sudah,” seru Melati yang membuat suasana menjadi cair kembali.

“Kita ini semua saudara seiman, jadi tidak perlu saling menjatuhkan begitu. Jika kita melakukan seperti itu, percuma dong, kita tadi mengikuti jalan salib,” nasihat Melati yang sangat bijaksana.

Mendengar nasihat Melati itu, semua orang terdiam. Kelembutan suara Melati mampu meredam kegaduhan hati para Paijo, Parman, dan Paimin yang ingin mendekati Melati. Situasi itu sangat dimengerti oleh Melati. Mereka berusaha untuk mendekati dirinya sehingga Melati kini harus mengatakan.

“Teman-teman semua. Saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian ya. Semoga apa yang saya katakan berkenan,” ucap Melati.

“Ahhhh, pasti Melati milih dekat aku,” seru cowok-cowok serentak seraya percaya diri.

“Begini, teman-teman. Saya sudah merenungkan semuanya. Saya juga sudah mendiskusikan kepada keluarga saya. Kalian mungkin harus tahu, ibu yang selama ini mendidik dan membesarkan saya adalah nenekku. Orang tua sudah meninggal sejak saya bayi,” ungkap Melati seraya berlinang air matanya.

Suasana pun menjadi hening. Parman, Paijo, Dian, dan Parman terlihat ikut juga berkaca-kaca. Mereka baru mendengar cerita itu. Peristiwa jalan salib itu ternyata dialami oleh Melati yang terlihat tegar menghadapi cobaan itu.

“Maaf teman-teman, saya mesti jujur mengatakan. Saya tahu bahwa mungkin di antara kalian ada yang suka dengan saya,” Melati menghela nafas seraya mengusap air matanya yang berlinang dan mulai mengalir di pipinya.

“Saya pun juga tentu senang mendapat perhatian kalian semua. Akan tetapi, izinkan saya mengatakan kepada kalian, terutama Paijo, Parman, Paimin, dan Dian sobat baikku. Pada kesempatan ini saya ingin mohon doa bahwa saya selepas Paskah ini akan meneruskan panggilan saya untuk menjadi SUSTER,” ucap Melati lirih tanpa berani menatap teman-teman.

“Hmmmmmm,” Dian memeluk Melati.

Semuanya menjadi hening. Suasana bercanda menjadi sirna. Mulut-mulut usil mulai terkunci sehingga mereka hanya saling memandang. Mereka seperti tidak percaya akan ucapan Melati.

“Hmmmmmmmm, iya, terima kasih Melati. Keputusan itu baik, kami hanya bisa mendukung keputusan sekalipun mungkin Parman dan Paimin belum rela,” seru Paijo membuat suasana biar tidak hening.

“Ahhhhh, kamu kali Jo, Paijo,” seru Parman dan Paimin serentak.

“Heeeee, sudah sudah. Semua itu adalah kehendak Tuhan, Kitab Suci telah menegaskan bahwa ada yang yang kawin, dan ada orang yang tidak kawin demi kerajaan surga. Kita dukung cita-cita Melati,” seru Dian dengan bangga sekalipun masih berkaca-kaca antara senang dan sedih.

“Sekali lagi, terima kasih atas dukungan teman-teman,” seru Melati seraya mengajak pulang ke rumah bersama.

“Joooo, Paijoo, Minnn Paiminn, Mannn, Parman. Gagal maning, gagal maning,” seru Dian meledak ketiga temannya seraya pulang bersama jalan kaki.

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Top