Metanoia Kabar Terkini Mutiara Biblika 13 March, 20264 March, 2026 Matius 6:16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Rabu Abu adalah ritus Gereja Katolik mengawali masa puasa selama 40 hari. Masa ini sering dipahami sebagai masa prapaskah. Setiap orang Katolik diajak kembali untuk menandai diri dengan abu di dahi sebagai lambang pertobatan. Pertobatan atau METANOIA adalah sikap dasar manusia untuk kembali kepada Allah. Arogansi manusia sering kali menyingkirkan Allah dalam hidupnya. Manusia lebih menonjolkan kehidupan duniawinya daripada kehidupan rohani. Masa prapaska menjadi kesempatan ber-metanoia bagi setiap orang untuk mendandani kehidupan rohani dengan berdoa dan berpuasa. Mengawali masa penuh rahmat ini, Paijo pergi ke gereja seorang diri. Sejak pagi ia belum minum dan makan. Ia menjalankan puasa seperti Simbok contohkan saat masih hidup. Paijo berjalan sendiri seraya berdoa dalam hati. Akan tetapi, hati Paijo masih terngiang-ngiang kala ia pergi ke gereja dengan Simbok. Simbok tidak pernah menyuruh Paijo berpuasa, tetapi tindakan Simbok telah terekam dalam dirinya sehingga Paijo mengikuti cara puasanya. Berkaitan dengan puasa, gereja tidak pernah pula memberikan cara yang gamblang bagaimana berpuasa. Gereja hanya menyerukan masa puasa. Atas dasar itu, Simbok mencari cara sendiri berpuasa, yakni tidak makan dan tidak minum. Pada saatnya Simbok makan dan minum, semua makanan tidak ada rasa alias tanpa rasa. Semua makanan terasa hambar. Cara Simbok ini ditiru oleh Paijo. Rasa lapar telah menghampiri Paijo saat ia berjalan menuju gereja. Paijo berusaha menahan rasa lapar itu dengan berdoa dalam hati. Paijo menyadari bahwa kelaparan itu adalah bagian dari perjalanan rohani. Memang gereja mengajarkan bahwa berpuasa itu bukan soal menahan lapar dan haus, tetapi berpuasa itu lebih berjuang untuk menghidupkan rohani dengan kebaikan dan kebajikan. Akibatnya, banyak orang Katolik menafsirkan puasa dengan aneka cara. Sesampainya di gereja, banyak orang telah memenuhi ruangan gereja. Ini menandakan bahwa banyak umat menyambut masa prapaskah ini dengan hati gembira. Orang ingin mendekatkan diri pada Allah. Orang-orang berdoa pribadi seraya menunggu perayaan misa. Tepat pukul 17.00 terdengar bunyi lonceng. Ini pertanda misa dimulai. Pada saat homili, Romo Charles menjelaskan makna puasa. “Saudara-saudari terkasih dalam Kristus. Kita patut bersyukur bahwa umat Katolik diberi kesempatan untuk menjalani masa tobat, Metanoia. Masa ini adalah masa yang sangat baik untuk berhenti sejenak mendandani kehidupan rohani. Kita sering berdebat bagaimana berpuasa. Perdebatan itu tidak pernah selesai hingga akhirnya kita tidak menjalankan puasa,” seru Romo Charles seraya menghela napas. Sementara umat terlihat tersenyum-senyum karena beberapa umat tidak berpuasa. “Saudara-saudari dalam Kristus. Mari kita belajar dari tradisi gereja sekitar abad kedua. Tradisi mengajarkan bahwa kita itu berpuasa setiap RABU dan JUMAT. Hal ini didasarkan pada Injil Matius 6:16. Artinya puasa itu bukan hanya pada saat masa prapaskah saja. Bagaimana puasanya? Dijelaskan bahwa berpuasa itu tidak makan dan tidak minum sampai setelah tengah hari. Selesai puasa diakhiri dengan perayaan ekaristi. Jelaskan?” seru Romo Charles diiringi senyum umat seakan paham akan penjelasan itu. “Hukum gereja menyatakan bahwa Rabu Abu dan Jumat Agung harus berpuasa. Padahal Rabu Abu ini bertepatan dengan Valentine. Jadi Puasa tidak?” tanya Romo Charles “Tidakkkkkk,” seru umat spontan sambil tertawa. “Waduhhhhh Gusti,” sambung Romo Charles seraya memegang jidat. “Yaaaa, inilah kita. Sering berdebat soal puasa, tetapi kita tidak menjalankan puasa,” seru Romo Charles sambil senyum-senyum. “Oleh karena itu, mari kita belajar dari kesalahan ini. Kita belajar untuk berpuasa yang sederhana. Kita saling mengingatkan, jangan banyak mengundang pesta saat berpuasa. Kita belajar menahan diri seraya mengisi dengan doa dan amal,” seru Romo Charles mengakhiri homilinya. Setelah homili misa berlangsung seperti biasa. Pada saatnya tiba, setiap orang mendapat tanda abu di dahi. Paijo mendapat abu di dahi sangat tebal. Dia menerima dengan sukacita. Demikian juga semua umat menerima tanda pertobatan dengan khidmat. Kegembiraan iman terpancar dalam diri umat yang hadir dalam misa Rabu Abu, sekalipun sebagian besar merasa lapar karena berpuasa. Metanoia ini mengalahkan rasa lapar sehingga semua umat bisa bertahan hingga misa usai. “Gedubrak,” terdengar suara orang terjatuh. “Paijo jatuh pingan,” seru Paimin memberitahu teman-temannya. Beberapa orang membopong Paijo ke ruangan samping gereja yang biasa dipakai untuk menolong orang yang sakit saat mengikuti perayaan misa. “Jo, Paijo, Jo Paijo,” seru Parmin seraya memegang kepalanya. Seruan Paimin belum juga membuat Paijo sadar. “Joooo, Paijooo,” suara lirih gantian memanggil seraya menyodorkan minuman hangat dan makan. Sementara yang lain memberi minyak gosok biar sadar. “Ahhhh, ada apa ini,” seru Paijo bangun seraya bingung karena dikerubuti banyak orang. “Ahhhhh, giliran yang panggil Menik dan Yanti, kamu bangun Joooo, Paijo,” seru Parmin sambil tertawa. “Heeeeee, sebetulnya saya tadi ngantuk sampai jatuh. Daripada malu, pura-pura pingsan,” seru Paijo sambil tersenyum dan minum air teh hangat. “Jooooo, Paijoooo, dasar cari kesempatan,” seru Yanti dan Menik sambil ketawa manja. “Joooooo, Paijooo, tobatttt, Metanoia,” seru Paimin seraya meledeknya. “Joooo, Paijo, makanya ke gereja jangan ngantuk,” seru Paijo dalam hati seraya pulang ke rumah bersama teman-temannya. Mereka pun tertawa terus sepanjang jalan sambil meledak Paijo. Sementara Paijo hanya bisa tersipu malu dengan peristiwa tadi. “Joooo, Paijo, dasar wong ndeso,” seru Paijo lagi dalam hati. Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka