Gaya Baru PDPKK ala OMK Kabar Terkini Kelompok Personal 23 March, 202624 March, 2026 Orang Muda Katolik (OMK) merupakan generasi penerus Gereja, yang diharapkan terus menumbuhkan iman serta mewartakan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Semangat inilah yang tampak dalam kegiatan Persekutuan Doa Pembaruan Karismatik Katolik (PDPKK) St. Perawan Maria yang kali ini dikemas dengan nuansa khas anak muda. Pada Jumat (6/3) sore, para OMK berkumpul di Aula SD Regina Pacis untuk mengikuti ibadat puji-pujian dan doa bersama. Suasana terasa hangat, penuh semangat, dan dekat dengan gaya anak muda. Setibanya di lokasi, para peserta terlebih dahulu mengisi daftar hadir sebelum memasuki ruangan. Menariknya, setiap peserta juga menerima sebuah bingkisan kecil yang telah disiapkan panitia. Bingkisan tersebut berisi stiker bertema rohani dengan nuansa kafe, serta kopi lengkap dengan gelas kecil. Sentuhan sederhana itu semakin menegaskan konsep “kafe rohani” yang dihadirkan dalam pertemuan PDPKK kali ini. Tak hanya itu, tempat acara disajikan berbeda dari pertemuan PDPKK pada umumnya. Aula ditata dengan beberapa meja yang masing-masing dilengkapi empat hingga lima kursi, sehingga para peserta dapat duduk berkelompok layaknya berada di sebuah kafe. Di bagian depan ruangan disiapkan sebuah panggung kecil yang digunakan untuk memandu acara, sekaligus menjadi tempat bagi peserta yang ingin mempersembahkan lagu pujian. Menjadi Terang di Dunia Digital Kegiatan juga diisi dengan pendalaman spiritual yang relevan bagi kaum muda. Dalam sesi ini, Nikolas Wijaya membawakan refleksi dari Injil Matius tentang kisah Yesus yang dicobai oleh iblis di padang gurun. Nikolas, yang juga merupakan seorang guru agama, menyampaikan kaum muda masa kini pun menghadapi berbagai tantangan dan godaan serupa. “Salah satu tantangan yang nyata adalah ketergantungan terhadap gadget, yang dapat menjauhkan kita dari relasi yang lebih dalam dengan Tuhan,” ungkapnya. Ia menyoroti fenomena ketergantungan kaum muda terhadap teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Dalam sesi tersebut, Nikolas mengajak peserta untuk berefleksi dengan mengajukan pertanyaan, “Apa kelemahan yang tidak dimiliki AI?” Ia menjelaskan, AI dapat menerima dan mempercayai informasi apa pun yang diberikan, tanpa mampu sepenuhnya membedakan kebenaran. Berbeda dengan manusia, yang dapat membaca ekspresi wajah, memahami emosi, serta membedakan keseriusan dan candaan dalam sebuah percakapan. Melalui refleksi ini, anak muda diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi, tanpa kehilangan nilai relasi yang nyata dengan sesama. Melalui konsep yang segar dan dekat dengan kehidupan kaum muda, PDPKK St. Perawan Maria menghadirkan pengalaman beriman yang tidak hanya mendalam, tetapi juga menyenangkan. Suasana kafe rohani yang santai, interaktif, dan penuh kebersamaan membuat para peserta mengikuti setiap rangkaian acara tanpa merasa jenuh. Harapannya, kegiatan ini dapat terus menjadi wadah bagi kaum muda untuk semakin dekat dengan Kristus, juga menumbuhkan lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan pendalaman iman—yang dikemas dengan kreatif dan menarik bagi anak muda. Penulis: Ignasius Falentino | Editor: Celine Anastasya