Melayani Tanpa Pilih-Pilih Sajian Utama Seputar Paroki 3 April, 20263 April, 2026 [KATEDRAL] Tiada kasih yang lebih besar dari seseorang yang memberikan nyawanya kepada sahabatnya. Inilah yang ditunjukkan Yesus sebelum masuk ke dalam penderitaan-Nya. Ia duduk dan merayakan perjamuan dengan murid-murid. Peristiwa keselamatan ini diimani umat Kristiani di seluruh dunia hingga hari ini. Bersama, mengenang cinta Kristus yang utuh kepada manusia. Hujan deras tidak menyurutkan niat umat mengikuti Perayaan Ekaristi Kamis Putih di Gereja Katedral Bogor. Ribuan umat berbusana nuansa putih telah memadati dalam gereja dua jam sebelum misa. Perayaan Ekaristi pertama dimulai pukul 17.00 WIB, dipersembahkan RD Paulus Haruna didampingi Diakon Agustinus Damas Adi. Pastor Paroki BMV Katedral itu dalam homilinya mengajak umat menilik kisah pembasuhan kaki. Tradisi tersebut lazim dilakukan bangsa Yahudi di zaman Yesus. Biasanya pelayan atau tuan rumah yang membasuh kaki tamu. “Tuhan berdiri dari meja santapan, lalu membasuh kaki murid-Nya. Sebagai seorang guru, Ia mengambil inisiatif membasuh kaki muridnya. Yesus berpesan kepada para murid untuk saling melayani. Begitu pula kita,” tuturnya. Tidak Pilih Kasih Peristiwa pembasuhan kaki menegaskan arti pelayanan Yesus yang total. Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Hal ini adanya cukup relevan dengan kehidupan hari ini, di mana umat acapkali bersikap acuh tak acuh serta malas dalam berpelayanan. “Mari menjadi pelayan yang total dan tidak pilih kasih. Banyak umat yang pasif karena sakit hati. Ternyata, karena mereka tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Jadikan pelayanan itu tidak itung-itungan,” ujarnya. Yesus membasuh kaki seluruh murid walaupun akhirnya ditinggalkan, bahkan sampai dikhianati. Melalui pembasuhan kaki, Yesus menunjuk kerendahan hati yang sejati. Ia masuk ke dalam hati murid-murid-Nya. Momentum seperti ini mengingatkan umat untuk melayani tanpa pandang bulu. Menutup homili, Romo Harun mengajak umat berefleksi. “Sudahkah kita menjadi pelayan yang rendah hati dan tidak pilih-pilih?” tanyanya. Bukan Sekadar Mengagumi Perjamuan terakhir menjadi penggenapan makna keselamatan yang dirayakan umat Katolik. “Malam ini bukan malam biasa, tetapi malam yang sunyi dan penuh makna. Kita melihat Yesus tidak banyak berbicara tentang diri-Nya, melainkan memberikan diri-Nya,” ungkap RD Alfonsus Sombolinggi dalam khotbahnya pada misa kedua. Pemindahan sakramen mahakudus pada misa kedua dilakukan oleh RD Alfonsus Sombolinggi. Foto: Louisa Chelsea Bacaan pertama mengisahkan keselamatan dilambangkan melalui darah anak domba yang dioles pada pintu-pintu rumah bangsa Yahudi. “Dan sekarang, kita tidak perlu lagi mengoleskan darah. Karena kita menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam Ekaristi,” terangnya. Lebih lanjut, Pastor Vikaris BMV Katedral Bogor itu mengingatkan umat agar tidak hanya sekadar menjadi pengagum Kristus. “Yesus tidak berkata, ‘kagumilah Aku’, tetapi, ‘lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.’ Kita dipanggil bukan hanya menyambut Tubuh Kristus, tetapi menjadi Tubuh Kristus yang rela dibagikan bagi sesama,” tuturnya. Romo Sombo menyoroti makna pembasuhan kaki sebagai teladan kerendahan hati dan pelayanan tanpa syarat. Senada dengan homili Romo Harun, ia berkata, “Yesus tidak pernah memilih. Ia tetap membasuh kaki para murid-Nya, bahkan kepada mereka yang telah mengkhianati dan menyangkal-Nya.” Ia mengajak umat meneladani sikap Kristus dalam kehidupan sehari-hari. “Kita semua diajak untuk berlutut dan melayani sesama dalam keadaan apa pun. Apakah kita rela meninggalkan Yesus sendiri di Taman Getsemani?” Pertanyaan tersebut menjadi renungan bagi umat pada malam itu. Perayaan Kamis Putih pun dilanjutkan dengan Ibadat Tuguran. Suasana sepi menyelimuti umat yang berjaga bersama Yesus di Taman Getsemani. Tampak kursi imam dan uskup yang dibalikkan. Ketiadaan dekorasi pada altar itu menyiratkan suasana yang sarat akan sengsara, bahwa Kristus akan diserahkan demi keselamatan manusia. Penulis: Ignatio Alfonsus , Ignasius Falentino | Editor: Celine Anastasya