Minggu Palma, dari Sorak Hosana Hingga Puncak Golgota Sajian Utama Seputar Paroki 30 March, 202631 March, 2026 [KATEDRAL] Matahari pada Minggu Palma pagi (29/3) di Katedral Bogor tampak terik, tetapi tetap tak membendung langkah ribuan umat untuk memadati Lapangan Budi Mulia. Dengan daun palma di tangan, mereka mengenang momen kedatangan Yesus, Sang Raja Damai, di Yerusalem. Inilah awal Pekan Suci, sebuah perjalanan iman umat Katolik yang sarat makna. Misa Minggu Palma itu dipimpin oleh Pastor Paroki BMV Katedral RD Paulus Haruna. Ia tampak mengenakan pluviale merah, warna yang melambangkan api kasih dan darah pengorbanan Kristus. Dalam homilinya, Romo Haruna menyoroti dua suasana kontras yang patut umat hayati bersama. Dalam perarakan yang semarak, terdengar nyanyian “Hosana bagi Anak Daud, terpujilah yang datang dalam nama Tuhan” yang penuh sukacita. Sementara dalam Mazmur Tanggapan, umat mendengar seruan pilu Yesus, “Allahku, ya Allahku, mengapa Kau tinggalkan Daku?” Sorak-sorai “Hosana Putra Daud” dengan cepat berubah menjadi teriakan “Salibkan Dia”. RD Paulus Haruna mengayunkan daun Palma diiringi lagu Yerusalem Lihatlah Rajamu. Foto: Antonius Daniel Kurniawan. Jika berkaca lebih dalam, hal ini mungkin dapat dikatakan cukup dekat dengan kehidupan nyata hari ini. Dalam satu kesempatan, umat boleh jadi menunjukkan sikap taat. Namun saat situasi berubah menjadi sulit, hasutan terdengar di sana-sini, apa yang terucap di bibir pun berubah secepat kejap mata. Di sinilah, sebut Romo Haruna, tantangan kesetiaan umat Kristiani. “Sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk senantiasa siap, baik dalam sukacita dan duka,” tuturnya. Sebab dalam hidup, terlebih dalam jalan mengikuti Kristus, akan selalu ada kerikil-kerikil dan salib kehidupan. Yesus sendiri tidak mundur saat melewati kerikil yang membawa-Nya ke puncak Golgota. “Maukah kita setia seperti Yesus, siap untuk merasakan pahit dan sengsara? Tetap setia, bahkan saat ditinggalkan sendirian?” tanyanya, mengajak para umat berefleksi. Ketika hidup membawa derita, jalan terbaik adalah meneladani Dia, tidak menyerah dan mundur saat memikul salib. Selain itu, Romo Haruna juga menyinggung tentang tema APP kali ini, yakni “Keluarga Sinodal yang Misioner dalam Perwujudan Iman”. Dalam semangat AAP ini, terlebih pada kehidupan berkeluarga, anak dan orang tua diimbau untuk saling bergandengan tangan, berjalan bersama untuk mewujudkan imannya—dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit. Harapannya, umat bisa menjadi pelaku aktif agar karya keselamatan Allah hadir di Keuskupan Bogor, melalui keluarga-keluarga. Selamat memasuki Tri Hari Suci. Semoga dalam masa ini, kita diundang untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri kasih, pengorbanan, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Penulis: Mellisa Octav Mariana | Editor: Celine Anastasya