Anda di sini
Beranda > Sajian Utama > Mengasihi Sampai Titik Darah Penghabisan

Mengasihi Sampai Titik Darah Penghabisan

Perarakan salib dalam Ibadat Jumat Agung pertama di Gereja Katedral Bogor. Foto: Regia Lidwina

[KATEDRAL] Wafat Kristus merupakan bentuk kasih-Nya yang tanpa batas. Dia yang tersalib mengasihi manusia sampai titik darah penghabisan. Siapakah kita sampai Ia begitu mengasihi?

Pada Jumat Agung (18/4), keheningan menyelimuti Gereja Katedral Bogor. Nuansa sedih dan kabut duka terasa pekat di udara, mengenangkan Kristus, Anak Domba Allah yang dikurbankan.

Ibadat pertama dimulai tepat pukul 15.00, diawali dengan pendarasan Novena Kerahiman Ilahi. Uskup Bogor Monsinyur Paskalis Bruno Syukur OFM memimpin ibadat dengan konselebran RD Habel Jadera, RD Marius Marlon Ohoilulin, dan Diakon Vinsensius Peter Ardi.

Dalam homilinya, Monsinyur Paskalis meyakini ribuan umat yang hadir akan keteguhan dalam mengikuti Kristus. “Hari ini kita bersama mencari Yesus dari Nazareth. Karena nama Yesus yang kita sandang, tidak jarang kita diolok bahkan dipandang rendah karena mengikuti Tuhan yang tersalib,” ungkapnya.

Tidak Berjalan Sendirian

Melalui peristiwa salib, Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) itu menyadarkan umat akan besarnya cinta Kristus kepada manusia. “Kita semua tidak dibiarkan berjalan sendiri dalam menjalani suka-duka kehidupan. Walau kita sering kali menghadapi hinaan dan kesulitan karena mengikuti-Nya, Yesus dari Nazareth itu selalu menyertai. Karena berkat-Nya, kita menemukan pegangan hidup di tengah dunia dengan ragam sifat manusia,” tuturnya.

Yesus melihat martabat umat-Nya sebagai orang-orang yang berharga dan tercinta. “Yang Maha Mulia itu menerima kita sebagai ciptaan yang Ia kasihi. Semangat berkurban demi keselamatan bersama, itulah yang kita peroleh dari Yesus,” jelasnya.

Umat mencium salib dalam Jumat Agung. Foto. Anastasya Celine
Umat mencium salib dalam Jumat Agung. Foto: Anastasya Celine

Saling Melindungi

Saat ini, dunia dihadapkan dengan situasi yang sarat akan derita dan duka lara. Perbudakan hingga kriminalisasi terhadap kemanusiaan menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. “Dalam menghadapi perjuangan dan sukacita hidup ini, mari kita saling memercayakan, memberikan perlindungan dan keselamatan satu sama lain. Kita melindungi, jangan menyakiti. Ada kesediaan dari dalam diri kita untuk berbelas kasih kepada sesama,” pesannya.

Menghadapi kerasnya tantangan kehidupan, umat Katolik sejatinya perlu belajar dari Yesus yang tidak putus asa. “Mencintai lebih besar mampu membuat-Nya menghadapi kesulitan besar. Ia bersandar pada Allah. Merasa kesulitan dan ditinggalkan, Ia menyerahkan semuanya itu kepada Bapa,” imbuhnya.

Menutup homili, Monsinyur mengajak umat memohon perlindungan Tuhan. “Marilah kita menyembah Yesus yang tersalib. Ucapkan ‘Terima kasih, Yesus. Engkau tidak meninggalkan aku sendirian’,” tandasnya.

Dosa yang Jahat

Adapun dalam ibadat kedua, usai pembacaan kisah sengsara, RD Albertus Simbul Gaib Pratolo mengajak para umat untuk ikut berbela rasa terhadap penderitaan salib Yesus. Adapun ibadat kedua kali itu dipimpin oleh Romo Gaib, didampingi oleh konselebran RD Alfonsus Sombolinggi dan RP Sebastianus Paulus CSE. “Kita bisa bayangkan, betapa besar pengurbanannya. Betapa Ia kesakitan mengenakan mahkota duri,” tutur Romo Gaib.

Kenyataannya, dosa bukan hanya menjauhkan manusia dari Allah, tetapi juga membawa akibat yang mengerikan dan kemurkaan Allah. Dan di saat yang sama, Tuhan begitu maha adil. Namun karena kasihnya, Ia tidak ingin manusia yang dikasihi-Nya binasa. Alhasil, Yesus anak-Nyalah yang menanggung dosa manusia.

Yesus, yang selama hidupnya selalu disertai oleh Allah, harus terpisah sementara dari Bapa-Nya untuk menebus beban dosa. “Kita dapat bayangkan, betapa sedih dan menderitanya Dia. Tapi sampai akhir, meski sakit, Dia tetap patuh dan setia,” ujarnya.

Melalui kisah sengsara, dapat terlihat bahwa kita adalah manusia yang begitu dikasihi Allah. Allah yang maha adil dan maha kasih sampai mengutus anak-Nya ke dunia. Dan Yesus pun sudah menunjukkan ketotalan cinta-Nya bagi kita. Sudahkah kita membalas kasih-Nya?

Penulis: Ignatio Alfonsus, Celine Anastasya | Editor: Celine Anastasya

 

 

Leave a Reply

Top