Anda di sini
Beranda > Nusantara > Pemilu 2019, Perbedaan Menggerogoti Persatuan?

Pemilu 2019, Perbedaan Menggerogoti Persatuan?

Pemilu telah usai. Calon presiden, wakil presiden, legislatif mulai dari Dewan Perwakilan Rakyat tingkat kota, provinsi, sampai nasional dan Dewan Perwakilan Daerah telah selesai bertanding. Lebih dari 6 bulan waktu kampanye untuk para calon pejabat ini. Mereka telah memberikan seluruh pikiran, tenaga, dan logistiknya untuk menarik simpati rakyat. Semua sudah memberikan yang terbaik, rakyat pun telah memutuskan. Lalu setelah itu apa?

Hingar bingar pesta demokrasi 5 tahunan itu menjadi momen yang sering kali ditunggu-tunggu atau dihindari oleh banyak orang. Bagi mereka yang merasa kecewa dan pesimis dengan bangsa ini tentu akan menghindar. Namun, bagi mereka yang optimis dan punya harapan positif untuk Indonesia yang lebih baik rasanya akan ikut berpesta bersama-sama. Bagaimana dengan kamu?

Pemilu memang menjadi dilema karena tentu setiap orang yang menjadi calon pejabat akan mencoba menarik simpati rakyat dengan janji-janji manis. Janji tersebut banyak yang memang bisa diwujudkan, tapi tidak sedikit yang hanya sekadar omong kosong. Ketika para calon pemimpin tersebut telah terpilih, cepat atau lambat waktu akan menjawab siapa yang akan mewujudkan janjinya membuat Indonesia lebih baik dan siapa yang hanya bisa mengumbar janji.

Harus diakui pemilu kali ini menguras banyak perhatian. Di media mainstream dan media sosial isinya sering kali hanya soal 01 dan 02, soal cebong dan kampret. Kamu masuk yang mana? Cebong? Kampret? Atau bukan keduanya?

Perbedaan pilihan politik hari ini membuat banyak dari kita bermusuhan, yang awalnya kenal menjadi tidak kenal, yang awalnya teman menjadi bukan teman, dan yang awalnya keluarga menjadi bukan keluarga. Ada juga mereka yang biasanya sangat menerima perbedaan suku, agama, ras, dan golongan menjadi tidak bisa menerima perbedaan hanya karena berbeda pilihan politik. Mungkin terdengar berlebihan tapi ini adalah realitas yang terjadi di masyarakat.

Sekali lagi, pemilu telah usai. Haruskah perbedaan ini menggerogoti rasa persatuan kita? Rasanya siapapun yang menang baik itu dalam pilpres ataupun pileg, kita harus berpesta bersama. Berpesta karena pemilu telah berjalan lancar, aman, dan damai. Berpesta bukan hanya dengan mereka yang sama namun juga dengan mereka yang berbeda. Karena pemilu adalah salah satu kesempatan kita untuk kembali melihat perbedaan dan menerimanya sebagai sebuah keindahan.

Berbeda itu adalah takdir menjadi orang Indonesia. Berbeda bukan hanya soal suku, agama, ras, dan golongan. Berbeda juga soal selera, kesukaan, bahkan pilihan politik. Perbedaan itu memang awalnya akan terasa menyebalkan, membuat kita tidak nyaman, dan bahkan sering kali membuat kebencian dalam hati. Tapi yang perlu kita ketahui bersama, pada akhirnya perbedaan akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih dewasa. Karena kita bisa melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.

Selamat berpesta!

(Aloisius Johnsis)

Artikel ini telah tayang di kompasiana dengan judul yang sama.

Leave a Reply

Top