Anda di sini
Beranda > Nusantara > Perspektif Indonesia di Tengah Keberagaman dan Nilai Pancasila

Perspektif Indonesia di Tengah Keberagaman dan Nilai Pancasila

Indonesia lahir di atas tanah yang ditakdirkan untuk hidup dalam keberagaman. Mulai dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote tidak ada satu pun yang sama. Budaya, suku, ras, agama, hingga golongan. Berlandaskan hal ini, Presiden Sukarno lebih dari 70 tahun silam menyampaikan gagasannya tentang dasar negara yang kemudian disebut sebagai Pancasila atau lima dasar. Sehingga setiap 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila.

Lima dasar dalam Pancasila meliputi berbagai aspek yang ada di Indonesia. Nilai Ketuhanan, nilai kemanusian, nilai persatuan, nilai musyawarah, dan nilai keadilan adalah lima nilai kehidupan yang menjadi dasar dari Pancasila dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Pancasila juga diharapkan menjadi hal pertama yang diingat dan menjadi petunjuk dalam semua tindakan, persoalan, dan perbedaan di kehidupan bangsa Indonesia.

Sangat disayangkan saat ini nilai-nilai Pancasila mulai pudar baik itu dikalangan remaja maupun dewasa. Bahkan banyak orang yang tidak tahu kelima bunyi Pancasila yang sudah seharusnya sebagai WNI kita mengetahuinya dan menanamkannya dalam diri kita masing-masing. Padahal Pancasila sangat penting untuk dilaksanakan demi menjaga keharmonisan dan persatuan Indonesia.

Pandemi bukanlah alasan untuk kita berhenti mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Kita masih bisa melestarikan dan menjaganya bahkan dari rumah. Menaati protokol kesehatan demi keselamatan bersama merupakan pengamalan Pancasila dalam nilai kemanusiaan dan persatuan. Jika setiap pribadi melaksanakan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah maka kita telah bahu-membahu melawan Covid-19 dan peduli terhadap sesama manusia.

Selain itu, Pancasila juga dapat diamalkan dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya adalah beribah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Sebagai orang beriman tentunya berdoa dan beribadah sudah menjadi kewajiban kita. Walaupun dalam masa pandemi, kita tetap dapat bertakwa pada Tuhan bahkan secara daring seperti mengikuti misa online. Selain itu kita juga dapat berdoa bersama keluarga dan merayakan hari raya keagamaan bersama keluarga besar secara daring. Doa bersama antar agama untuk kesehatan dan berakhirnya pandemi ini juga dapat dilakukan. Kegiatan tersebut telah meliputi nilai ketuhanan dan persatuan.

Nilai kemanusian dan persatuan dapat kita amalkan dengan membantu saudara-saudari kita yang kesulitan di masa pandemi. Penggalangan dana dan sumbangan baik itu sembako dan pakaian dapat menjadi hal yang sangat berharga bagi mereka. Apalagi pandemi ini telah menyebabkan banyak orang kehilangan lapangan pekerjaan terutama pada masyarakat ekonomi menengah kebawah. Selain itu kita dapat menjaga persatuan dengan menjaga komentar kita pada laman sosial media yang dapat menyinggung berbagai pihak. Di sisi lain, kita dapat menyebarkan komentar positif yang dapat menjadi semangat untuk orang lain.

Nilai yang keempat adalah nilai musyawarah atau pembahasan bersama untuk mencapai suatu keputusan. Saat ini hampir semua dari kita beraktivitas secara daring, baik itu sekolah maupun bekerja. Tentunya dalam beraktivitas terutama dalam sebuah komunitas pasti ada permasalahan. Permasalahan dan perbedaan pendapat tersebut dapat kita atasi dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Selain itu kita juga harus menanamkan sikap terbuka atas pendapat orang lain dan menerima keputusan dari musyawarah. Sehingga tertanam juga nilai keadilan dalam berpendapat.

Tanpa kita sadari, kegiatan sehari-hari dan membantu sesama adalah proses dari pelestarian nilai-nilai Pancasila. Jadi sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak mengenal Pancasila walaupun dalam masa pandemi. Justru pandemi ini menjadi penguji kita bangsa Indonesia untuk memperteguh nilai-nilai Pnacasila. Mulailah semangat Pancasila dari diri sendiri dan untuk orang lain!

Penulis: Anna Cika | Editor: Aloisius Johnsis

Leave a Reply

Top