Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Ancilla Domini

Ancilla Domini

Lukas 1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Dixit autem Maria : Ecce ancilla Domini : fiat mihi secundum verbum tuum. Et discessit ab illa angelus)

Kehidupan manusia tidak bisa berputar balik, semua itu akan selalu terus melaju tanpa henti. Perjalanan itu pelan tetapi pasti, tetapi ketidakpastian, kekacauan, dan kekecewaan sering kali menyelimuti hidup manusia.  Itulah sikap manusia yang kurang menyerahkan diri pada kehendak Tuhan secara penuh. Hidup pasti akan mengalami sebuah persoalan yang silih berganti dari waktu ke waktu. Peralihan waktu itu tentu melibatkan pula kehidupan manusia. Manusia ada dalam waktu, maka manusia juga ada dalam sebuah putaran yang tentunya ikut mengubah hidupnya. Dalam putaran itu manusia mempunyai pilihan untuk menentukan cara hidupnya. Manusia mempunyai kebebasan yang sneantiasa memberi ruang berkreasi lebih baik. Namun keinginan manusia tidak sepenuhnya didapatkan sesuai harapan. Hal ini terjadi sering kali menjadi manusia kecewa, hilang harapan, dan sering kali menjauh dari Tuhan.

Nenek Inem adalah seorang janda yang hidup sendiri di sebuah rumah tua. Ia telah lama ditinggal suaminya karena meninggal dunia. Sejak itu ia hidup sendirian tanpa ditinggali warisan yang besar, kecuali rumah dan pekarangan seadanya. Hidupnya kadang dari belas kasih tetangga dan dari hasil kebun. Hari-harinya Nenek Inem menjalani hidupnya dengan luar biasa. Ia menampilkan kehidupan sederhana, tanpa pernah mengeluh yang terucap dari mulutnya. Ia membangun imannya dengan mencontoh Bunda Maria melalui doa Rosario. Kecintaan kepada Bunda Maria telah ia tampilkan sesuai kehidupannya. Hidupnya bersahaja, pakaiannya pun juga sangat sederhana, yakni dengan jarit dan kemben. Kalung Rosario menjadi cirikas Nenek Inem. Kalung Rosario itu tidak pernah lepas dari hidupnya, kecuali pada saat mandi maupun saat digunakan doa. Semua itu adalah  bagian hidup spiritualitas Nenek Inem yang tidak bisa dilepaskan.

Awal Mei, saat Gereja Katolik memberikan waktu khusus berdevosi kepada Bunda Maria, Nenek Inem selalu mengikuti ajaran gereja itu. Sekalipun bukan Mei, Nenek Inem selalu berdoa Rosario tiap hari. Ini adalah kehidupan rohani yang patut dicontoh. Doa Rosario itu selalu didoakan dalam Bahasa Jawa karena Nenek Inem hanya bisa bicara bahasa daerahnya. Ketekunan doa itu telah memberikan kekuatan hidupnya, sekalipun nenek tinggal seorang diri. Tuhan pasti tidak akan membiarkan umatnya yang percaya dan taat kepada-Nya. Untaian manik-manik Rosario itu selalu digunakan sebagai sarana doa. Rutinitas ini telah menjadi bagian hidup yang tidak bisa terlepaskan. Nenek Inem ini sangat mencintai Bunda Maria, maka nama baptisnya pun menggunakan Maria. Nama yang tersadang itu diwujudkan pula dalam doa dan cara hidupnya. Sekalipun Maria ditinggal Santo Yusuf, ia tetap setia memegang tugasnya dalam ambil bagian dalam karya keselamatan yang penderitaan.

Pagi itu, Paijo seorang diri menghampiri Nenek Inem. Paijo naik sepeda dan tentu langsung ke rumahnya. Seampainya di sana, Paijo pun langsung memanggil nama Nenek Inem.

Nek, Nek, Nenek Inem,” seru Paijo memanggilnya seraya mengetuk pintu, sekalipun pintu tidak tertutup. Sapaan Paijo itu belum juga mendapat jawaban dari Nenek Inem yang mungkin sedang sibuk di dapur atau bahkan di kebun belakang sehingga tidak mendengar panggila Paijo.

Nek, Nek Inem,” sekali lagi Paijo berseru memanggilnya. Seruan kedua pun tidak terjawab. Maka Paijo pun duduk selonjor di beranda rumah Nenek Inem untuk  mengurangi rasa penat setelah naik sepeda. Paijo menunggu Nenek Inem sambil merasakan semilir angin di depan rumah itu. Angin sepoi-sepoi itu membuat Paijo tertidur sambil duduk di bangku beranda. Angin dan capai mengayuh sepeda menjadi alasan kuat Paijo tertidur. Dalam tidurnya Paijo berangan-angan dapat makanan yang enak. Itu menjadi ciri kas Paijo yang selalu lapar dan ingin makan enak. Dalam mimpinya Paijo bertemu dengan Nenek Inem yang sebetulnya sudah ada di dekat Paijo saat Paijo tertidur. Ketika Nenek Inem keluar mau menemui, ternyata Paijo sudah tertidur pulas. Nenek Inem tidak mau menggangu Paijo yang udah tertidur nyenyak sebab terdengar suara denguran Paijo yang tampaknya lelah sekali. Dalam mimpi itu Paijo berbincang-bincang dengan Nenek Inem seraya menikmati makanan dan minuman yang disediakan nenek.

Jo, Paijo, kenapa kamu rasanya lesu, tidak semangat, dan kurang pengharapan. Kamu seperti orang tidak beriman saja,” seru Nenek Inem dalam mimpinya.

Ehhhhhh, Nenek Inem,” jawab Paijo.

Iya, Nek. Saya seperti telah kehilangan pengharapan. Saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali kambing peninggalan Simbokku,” jawab Paijo lesu.

Jo, Paijo. Hidup di dunia tidak ada yang abadi, semua orang itu menunggu giliran menghadap Tuhan, termasuk kita. Hidup dan mati itu bukan ditentukan oleh manusia. Namun semua itu ditentukan oleh Tuhan yang kita Imani,” Jawab Nenek Inem.

Iyaaaa, nek, saya tahu itu, tetapi rasanya sulit untuk melepaskaan semuanya. Rasanya begitu cepat Simbok meninggalkan saya seorang diri,”seru Paijo.

Jo, Paijo. Coba kamu belajar dari Bunda Maria. Ketika Malaikat memberikan berita suka cita bahwa Bunda Maria mengandung, pasti Bunda Maria awalnya mengalami kebingungan. ‘Bagaimana mungkin itu terjadi, saya belum bersuami’ bukankan itu menunjukkan Bunda Maria juga mengalami rasa kebingungan sebagai manusia? Seru Nenek Inem.

Iya, Nek,” jawab Paijo Singkat.

Bunda Maria yakin bahwa pertolongan Tuhan pasti akan selalu ada, ketika manusia percaya. Ungkapan Bunda Maria sebagai hamba Tuhan, ancilla Domini, menjadi kekuatan dalam menjalankan hidupnya. Sekalipun Bunda Maria telah memberikan diri sepenuhnya, banyak penderitaan yang dihadapi. Pada puncaknya Bunda Maria harus memangku jenazah Yesus setelah disalibkan. Menghadapi peristiwa besar itu, Bunda Maria tidak goyah imannya, karena ia menyadari  sebagai hamba Tuhan. Duka, derita dan suka harus siap diembannya,” seru Nenek Inem.

Iya, Nek,” saya bisa paham, tetapi saya masih harus belajar.

Jo, Paijo. Hidup itu terus mengalir dan kita tidak bisa kembali ke masa lalu, tetapi kita harus selalu berpasrah pada Tuhan, Bunda Maria telah memberikan contoh bagaimana beriman yang benar itu,” seru Nenek Inem.

Baikkk, Nek saya akan coba jalani,” seru Paijo.

Di sela-sela tidurnya yang nyenyak itu, lambat laun Paijo mendengar suara doa Salam Maria. Paijo mendengar itu antara kesadaran dan ketidaksadaran ditambah bau minuman dan makanan yang telah menusuk hidung yang ada di sampingnya. Doa itu masuk dalam relung hari Paijo dan memberikan kekuatan luar biasa. Selesai terdengar doa Salam Maria satu kali, Paijo terbangun. Semakin kaget, Nenek Inem sudah duduk di sampingnya seraya berdoa Rosario. Paijo pun dengan sigap mengikutinya sampai selesai. Konsentrasi Paijo terganggu karena di sampingnya tersedia makan dan minuman. Paijo mencoba khusyuk berdoa walaupun sekali-kali melirik makanan itu.

Wahhhhh, Nenek Inem,” seru Paijo

Iya, Jo Paijo. Saya sudah lama duduk di sisi, tetapi kamu tidur nyenyak,” seru Nenek Inem.

Waduh, maaf Mbah, saya tertidur,” kata Paijo.

Jo, Paijo. Tidur itu adalah anugerah yang perlu disyukuri. Jadi tidak perlu merasa bersalah. Ingat Santo Yusuf pun sering mendapat wahyu ketika tertidur. Akan tetapi, kamu jangan tertidur waktu doa, heeeee,” seru Nenek Inem sembil tersenyum.

Ahhhh, Nenek Inem meledek saya,” jawab Paijo malu tersipu.

Dahhhh, sekarang mari nikmati minum teh dan ubi yang sudah dingin. Kamu pasti lapar,” seru Nenek Inem.

Terima kasih Nek Inem,” seru Paijo seraya makan ubi dan menyeruput teh manis dengan gula merah.

Jo, Paijo. Ayo jangan bersedih terus. Mari tatap masa depan dengan penuh harapan, Bunda Maria telah mengajarkan kita untuk setia pada tugas kita masing-masing. Jadi kamu harus tetap menjaga kambing-kambingmu, itu titipan dari Simbokmu. Jadi jaga dan kembangkan,”seru Nenek Inem memberi semangat pada Paijo.

Iya Nek. Paijo akan laksanakan,” seru Paijo dengan suara lirih.

Ya udah sekarang habisin itu, biar kamu tetap kuat,” seru Nenek Inem.

Susana pun kembali menjadi cair kembali. Nenek Inem dan Paijo kembali saling berbagi cerita. Semua itu demi menguatkan hati Paijo agar imannya makin kuat.

Joooo, Paijoooo. Met makan ubi dan teh ya,” seru Nenek seraya beres-beres bekas makan dan minum itu. Paijo pamitan setelah makan minum bersama Nenek Inem. Pulang pun masih mendapat bekal ubi mentah dari Nenek Inem.

Jo, Paijo, memang kamu dapat rezeki terus,”seru Paijo dalam hati seraya mengayuh sepeda. Doa Salam Maria pun diungkapkan dalam hati pula seraya naik sepeda menuju rumah.

Mbekkkkkk, mbekkkk,” kambing pun telah menunggu Paijo.

Jo, Paijo jadilah hamba Tuhan yang baik dengan menjalankan tugasmu dengan gembira yaaaa,” itulah pesan Simbok semasa hidupnya dan dikuatkan oleh Nenek Inem.

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

One thought on “Ancilla Domini

Leave a Reply

Top