Anda di sini
Beranda > Sajian Utama > Pembekalan Pengurus Paroki: Pengurus Gereja Diharap Membangun Kerja Sama

Pembekalan Pengurus Paroki: Pengurus Gereja Diharap Membangun Kerja Sama

[KATEDRAL] Sekitar 100 orang calon pengurus, baik di lingkungan, wilayah, organisasi, dan dewan paroki, mengikuti pembekalan menjadi pengurus dan pelayan di Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, Sabtu (5/9) dan Minggu (6/9).

Pembekalan yang diselenggarakan oleh Paroki BMV Katedral ini juga menandai berakhirnya kepengurusan periode 2013-2015 di setiap tingkatan.  Dalam sambutannya RD. Dominikus Savio Tukiyo selaku Pastor Kepala Paroki MV Katedral berharap agar calon pengurus dapat mewujudkan 5 tugas Gereja dengan bekerjasama.  “Saya berharap agar calon-calon pengurus yang nanti terpilih mau berpartisipasi dalam hidup menggereja dengan membangun kerjasama dan bekerja bersama,” tukasnya.

Romo Tukiyo juga menjelaskan bahwa dalam hidup parokial ada 3 unsur yang utama yaitu adanya penggerak sebagai motivator atau animator, program seksi yang matang dalam bentuk kegiatan, dan yang digerakkan yaitu umat Allah.  Maka sebelum menjadi penggerak baik di tingkat lingkungan sampai dengan paroki bahkan keuskupan melalui kegiatan ini peserta diajak kembali untuk mendalami dan memahami tentang hidup menggereja.  Selain itu yang tak kalah penting adalah pemahaman dan pengetahuan yang didapat bisa mentransformasi dan mengubah cara hidup umat ke arah yang lebih baik.

Pembekalan juga diisi oleh tiga pastor yang merupakan pakar di bidangnya, yakni Vikaris Yudisial Keuskupan Bogor, RD Yohanes Driyanto, Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor, RD Triharsono, dan Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor, RD Alfonsus Sutarno.

RD Yohanes Driyanto mengangkat tema “Spiritualitas dalam Gereja Katolik”.  Dalam sesi ini Romo Dri, demikian ia biasa disapa, menjelaskan kembali mengenai 5 tugas dasar Gereja, yaitu menguduskan (Liturgia), mengembangkan pewartaan Kabar Gembira (Kerygma), menghadirkan dan membangun persekutuan (Koinonia), memajukan karya cinta kasih/pelayanan (Diakonia) dan memberi kesaksian sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus (Martyria).  Romo Dri juga menjelaskan bahwa Gereja adalah Guru dan Ibu yang tegas dalam pengajaran seperti guru namun juga penuh cinta kasih layaknya ibu.

Dalam sesi 2 yang masih dibawakan oleh Romo Driyanto dijelaskan mengenai Keuskupan Sufragan Bogor serta tugas dan tanggung jawab seksi.  Romo Dri memaparkan bahwa sebenarnya ada 3 tugas utama pengurus Gereja, yaitu kegiatan pastoral, penanganan administrasi, dan penanganan yudisial atau hukum gereja.

Di hari kedua materi dibawakan oleh RD Alfonsus Sutarno (Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor).  Ia membawakan mengenai pentingnya dukungan keluarga dalam hidup menggereja.  Dalam sesi tersebut RD Sutarno menjelaskan dukungan keluarga akan sangat membantu seseorang menjadi aktivis atau pelayan gereja yang baik.  Ia juga menghimbau agar saat menjabat sebagai ketua lingkungan, wilayah atau pun pengurus lainnya  untuk tidak mempersulit umat.  “Seluruh umat, baik yang aktif ataupun tidak aktif, harus dilayani dengan baik.  Justru mereka yang tidak aktif hars dirangkul, dan bukan dijauhi bahkan dipersulit, semisal kalau ia ingin meminta rekomendasi atau surat keterangan lainnya yang dibutuhkan,” pesan Romo Sutarno.  Imam asal Kuningan, Jawa Barat ini juga meminta agar seluruh pengurus bersikap rendah hati, karena hal itu merupakan kunci pelayanan yang baik seperti yang diajarkan Kristus.

Sebagai pemungkas, RD Tri Harsono (Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor) menyoroti mengenai manajemen Gereja Katolik.  Ia menjelaskan bahwa manajemen setiap agama berbeda-beda.  Gereja Katolik memiliki ciri khas di antaranya hirarki yang memiliki struktur yang jelas dan kuat, mulai dari Paus hingga awam.  Dalam tingkat Gereja Partikular Keuskupan Bogor, maka pemimpinnya adalah Bapa Uskup.  Romo Tri juga menjelaskan bahwa ada 3 dasar Gereja Katolik, yaitu Sola Scriptura (Kitab Suci), Magisterium Gereja (Ajaran), dan Tradisi.

(John/Jam)

Leave a Reply

Top