Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Mater Dei

Mater Dei

Lukas 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
 (et unde hoc mihi ut veniat mater Domini mei ad me)

Nenek Inem hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal dunia, anak-anaknya pun pergi dan tidak pernah pulang ke rumah lagi. Kehidupan Nenek Inem ini sangat memprihatinkan karena ia hidup dari belas kasih orang-orang. Hidup di kampung dengan lahan yang cukup luas bisa digunakan sebagai lahan tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan makanan, tetapi Nenek Inem kian hari makin renta sehingga tenaga untuk mengolah tanah pun mulai menurun. Nenek Inem ini sangat tergantung dengan lahannya sebagai sumber hidup. Kebaikan tetangga sangat membantu mengurangi beban hidupnya. Mereka sering kali membantu menanam singkong, sayuran dan buah sehingga semua hasil kebun bisa dimakan.

Tanaman singkong menjadi tanaman utama sebagai bahan makan. Singkong tidak pernah habis karena ditanam silih berganti oleh nenek dibantu tetangga. Ketika panen singkong, Nenek Inem mengupas singkong itu dan mengeringkannya sebagai bahan dasar nasi tiwul, sebagian dikukus untuk makan sehari-hari. Jadi tiwul dan singkong adalah menu harian Nenek Inem yang hidup di sebuah kampung jauh dari keramaian. Tidak jauh dari rumahnya juga ada sungai yang air mengalir kala musim hujan, selebihnya sungai itu banyak keringnya. Di samping rumah, ada sumur tua yang tidak dalam dan jernih sekali airnya. Nenek Inem harus menimba jika mau membutuhkan airnya. Kesibukan sehari-hari Nenek Inem di rumahnya itu telah membuatnya menjadi wanita yang kuat, sekalipun sudah renta, ia masih mampu menimba air dan mencabut singkong di kebonnya. Itu dilakukan setiap hari sambil menikmati masa tuanya di kampung.

Pagi itu selepas misa, Paijo, Parman, Paimin, Menik, dan Yanti pergi mengunjungi rumah Nenek Inem. Kami bersama-sama sengaja naik sepeda untuk berbagi kebahagiaan kepada nenek Inem. Suasana Tahun Baru itu memang tidak semeriah tahun lalu, situasi telah membuat dunia tidak bisa mengelak dari ancaman pandemi.

Namun, situasi itu tidak boleh melarutkan niat baik untuk berbagai kebahagiaan. Yanti dan Menik membawa makanan yang siap disantap bersama-sama, terutama untuk membahagiakan Nenek Inem yang telah lama tidak dikunjungi. Kegembiraan itu terpancar manakala kita bergembira seraya mengayuh sepeda bersama-sama. Perjalanan itu menempuh waktu yang lumayan lama membuat lemak perut berkurang. Semua kegembiraan itu adalah anugerah Allah yang senantiasa disyukuri, karena Natal itu bukan soal menerima hadiah, tetapi Natal harusnya menjadi peristiwa membagi kegembiraan kepada sesama.

Satu jam perjalanan naik sepeda tidak terasa, sampailah kami di rumah Nenek Inem yang juga sudah kami anggap keluarga. Setahun sekali biasanya kami berkunjung bersama seraya membagikan kebahagiaan. Umur nenek yang makin renta tidak memungkinkan pergi jauh-jauh, jadi kami yang masih muda datang untuk menjenguknya.

Krinnnnnnnggggg, kringgggg,” suara bunyi sepeda membuat riuh di halaman Nenek Inem.

Nekkkkkk, nenekkkk, Nek Inem, kami datang,” seru Paijo mewakili teman-teman. Seruan Paijo itu belum ada sahutan dari nenek.

Nekkkk, nenekkkk,” seru Yanti dan Menik yang suaranya lebih lembut.

Panggilan itu pun tidak ada respons, sekalipun pintu rumah Nenek Inem terbuka. “Wahhhh, jangan-jangan sedang pergi, tetapi pergi ke mana,” seru Paijo dengan suara agak khawatir. Semalam memang hujan lebat, tanah sedikit becek, dan ke rumah nenek pun membuat sepeda menjadi kotor. Akhirnya kami pun duduk sebentar di beranda rumah. Sambil penggil-panggil nenek.

Tidak lama kemudian kami dikejutkan suara nenek. “Ohhhhhh, kalian pada datang,” seru Nenek Inem yang datang dari kebon belakang memetik sayuran yang masih segar. Musim penghujan membuat tanah di belakang menjadi subur dan sayuran mulai bisa dipetik.

Waduhhhhh, nenekkkkk, saya kira ke mana, kami sudah khawatir,” sambut Yanti seraya membawakan hasil panen kebun ke dapur. Yanti dan Menik dengan sigap membantu nenek untuk urusan dapur semantara Paijo, Parman, dan Paimin membantu membersihkan rumah dan mempersiapkan tempat untuk makan bersama. Paimin dengan sigap ke kebun dan memetik kelapa muda yang sangat menyegarkan. Untung hari ini tidak hujan, jadi pohon Kelapa bisa dipanjat, terlebih pohonya tidak terlalu tinggi. Anak-anak cowok itu dengan gesit telah mempersiapkan tempat dan kelapa, semantara yang perempuan menyiapkan makan.

Selang bebrapa waktu, makanan dan minuman telah tersedia, semua tinggal menyajikan dan siap disantap. Sementara sayur dari kebun tadi dibuat lalap bersama. Waduh nikmat sekali Tahun Baru makan bersama nenek dan sahabat-sahabat kampung.

Ayo nak, Paijo, Paimin, Parman, dan Parmin, kita makan bersama,” seru nenek yang juga sudah bersama-sama duduk lesehan di rumah Nenek Inem.

Siap nekkkk, tetapi mari kita berdoa syukur, biar Paijo yang pimpin doa. Sebab Paijo jika mimpin doa cepat dan singkat, jadi makan segera disikat,” seru Parman yang sudah apal dengan Paijo.

Baiklah, saya pimpin doa,” jawab Paijo dengan mengajak membuat tanda salib dan berdoa syukur atas karunia dan makan bersama ini.

Selepas doa, Paijo segera mengambil makan duluan dan ambil paha ayam kampung yang dibawa Menik dan Yanti.

Jo, Paijo, kok kamu duluan, harusnya kan nenek dulu,” seru Paimin.

Yaaaa, saya kan mendoakan, jadi ambil dulua, heeee,” sahut Paijo sambil ketawa

Iya, gak papa, saya sudah apal dengan Paijo,” seru nenek Inem

Jadi kami pun bergembira makan di waktu Tahun Baru ini bersama-sama. Inilah spirtualitas membagi. Seperti Bunda Maria membagi kebahagiaan dengan mengunjungi Elizabet saudaranya. Kegembiraan Elizabeth itu sambil berucap dalam doa, IBU TUHANKU (MATER DEI) mengunjugi aku. Elizabeth menyebut saudaranya ibu Tuhan, ini sebuah ungkapan yang mendasar karena karena keselamatan di dunia telah dimulia. Bunda Maria telah mengajarkan kita untuk mengunjungi dan memberikan kegembiraan. Hidup kita itu harusnya juga membuat orang lain gembira karena manusia adalah anak-anak Allah yang harus memberikan kegembiraan kepada sesama. Kunjungan kami ke Nenek Inem ini adalah salah satu cara memberikan kegembiraan. Kegembiraan bukan soal harta, bukan soal kekayaan, tetapi lebih soal kepedulian kepada sesama. Bunda Maria telah memberi inspirasi kepada kami untuk berbagi dengan mengujungi Nenek Inem ini.

Tidak ada waktu satu jam, makanan itu tinggal cerita. Antara lapar, doyan, dan senang bedanya sangat tipis. Kegembiraan Tahun Baru menggugah kami untuk membagi terutama di masa pandemik ini. Perhatian lebih dibutuhkan dari pada perselisihan, kepedulian lebih diutamakan daripada nyinyiran, dan mengunjugi orang yang berkekurangan lebih mulia dari pada membicarakan kekurangan orang. Semua itu telah diajarkan Bunda Maria sebagai ibu Tuhan yang selalu dirayakan pada awal tahun. Kami pun bercanda hingga sore tiba, tetapi suasana kegembiraan itu harus diputus dulu karena kami harus kembali lagi ke rumah dengan naik sepeda lagi.

Nekkkk, nenek, kami semua sudah kenyang dan senang bisa ketemu nenek. Sekarang kami ingin pulang ya, karena hari sudah sore. Langit mulai mendung,” ujar Yanti dan Menik mewakili kami semua.

Iyaaaa, terima kasih banyak atas kunjungan kalian ya nak, semoga Tuhan selalu memberkati hidup kalian,” seru nenek sambil mengusap matanya rasa sedih karena ditinggal.

Amiiiiiin” jawab kami serentak.

Iya, nek, nanti kami pasti akan nengok nenek lagi. Dah ya nek, nenek juga sehat selalunenek jangan menangis lagi. Tahun Baru harus memberikan kegembiraan seperti Bunda Maria memberikan kebahagiaan.” kata Menik seraya memeluk nenek itu dan diikuti Yanti.

Kami pun akhirnya pulang bersama lagi. Di tengah perjalanan hujan turun dan pas melewati tempat yang belum diaspal, jadi tanah menjadi becek dan lengket. Kami pun tidak bisa mengayuh sepeda. Kami harus menuntun sepeda seraya hujan-hujannan.

Waduhhhhh,” Seru Paijo.

Kenapa Jo, Paijo,” Seru Menik.

Heeeeee, sandal jepitku putus,” jawab Paijo malu-malu.

Jo, Paijooo, biasanya Nyeker saja,” ledek Paimin sambil ketawa diikuti dengan teman-temannya.

Genap sudah kegembiraan dari makan enak, kehujanan, eehhhhh sandal jepit putus heee. Berarti harus kembali ke alami, yakni nyeker alias tidak pakai sandal.

Kami pun akhirnya bisa melewati jalan becek itu dan Paijo pun sudah kembali ke alamnya yakni tanpa sandal. “Sandal jepit pun ternyata bisa membuat gembira teman-teman, tetap semangat,” seru Paijo dalam hati.

Joooo, Paijo, sandal jepitmu putusternyata gembira itu sangat sederhana” seru Paijo tetap gembira.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top